RSS

Bagai Matahari Terbit Di Ufuk Timur, Kapolri Timur Bercahayalah Bagi Institusi

03 Mar

Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo

WAWANCARA EKSKLUSIF KATAKAMI.COM Dengan Kapolri

Jenderal Timur Pradopo : Seberat Apapun Tugas, Kalau Masyarakat Patuh Hukum Maka Semua Wilayah Bisa Terjaga Baik


Jakarta 3/3/3011 (KATAKAMI.COM) — Siapa yang menyangka bahwa Timur Pradopo yang akhirnya dipilih, ditunjuk, diangkat dan secara nyata dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kepala Kepolisian Republika Indonesia ?

Pemilihan Kapolri periode bulan September- Oktober 2010 lalu menjadi seperti sebuah prahara.

Kursi Tri Brata 1 ( Kapolri ) seakan menjadi rebutan.

Bahkan Presiden SBY sampai harus berulang kali “menyindir” agar para perwira tinggi Polri tidak melakukan manuver politik yang kotor untuk bisa mencapai posisi pucuk pimpinan Polri.

SBY yang santun kalau bertutur kata ini terpaksa bersuara tegas di media untuk meredam pertarungan para Jenderal Polisi saling bersikutan dan bermanuver untuk menjadi Kapolri.

Tetapi, Timur Pradopo menjadi penentu prahara Polri dalam melakukan proses regenerasi.

Namanya tidak dimasukkan dalam surat usulan resmi Markas Polri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Luar biasa, cara-cara menyingkirkan dan upaya nyata menggunting laju Timur Pradopo sudah terlihat secara jelas ketika namanya sengaja tidak dimasukkan ke dalam surat usulan resmi itu.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono memberikan selamat kepada Jenderal Timur Pradopo seusai pelantikan sebagai KAPOLRI di Istana Negara, Jakarta, 22 Oktober 2010.

 

Presiden seakan di “FAIT ACCOMPLI”.

Tetapi SBY seakan mengerti permainan sejumlah perwira tinggi Polri yang mau memaksakan nama tertentu.

Begitu surat usulan resmi tentang nama-nama calon Kapolri itu masuk ke Istana Kepresidenan itulah, SBY mengeluarkan pernyataan terbuka di media massa agar jangan ada PERWIRA TINGGI POLRI yang melakukan manuver-manuver politik !

Dan Timur Pradopo tetap tak bisa disikut dan disingkirkan begitu saja.

Ia bagaikan “cahaya” yang sinarnya tetap kelihatan walau sudah diusahakan agar cahayanya tak bisa dilihat dan disadari oleh Istana Presiden.

Komjen Jusuf Manggabarani memberikan respek yang cukup tinggi kepada Jenderal Timur Pradopo karena salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Timur adalah ia memiliki ketenangan yang sangat mengagumkan.

“Kapolri yang baru cukup bagus. Tenang. Pendiam. Ya, barangkali karena sisa-sisa badai pemilihan Kapolri yang kemarin sudah berlalu” kata Jusuf Manggabarani secara EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM saat bertemu semasa masih menjadi Wakapolri awal bulan Februari 2011 lalu.

Kini Jenderal Pendiam yang sangat tenang itu sudah memasuki bulan ke-empat memimpin institusi Polri.

Ia menggunakan hak prerogatif yang dimilikinya untuk mengabulkan usulan dari RAPAT WANJAK POLRI (dewan kepangkatan yang menentukan mutasi dan rotasi di dalam internal Polri ) untuk memilih nama Komjen. Nanan Soekarna untuk menjadi Wakapolri baru menggantikan Komjen Jusuf Manggabarani yang resmi pensiun per tanggal 1 Maret 2011.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam beberapa kesempatan telah mengingatkan agar para perwira tinggi Polri jangan sampai ada yang sengaja melakukan manuver-manuver politik

 

Dalam menentukan Wakapolri, keputusan terakhir ada di tangan Kapolri.

Tetapi yang menyiapkan usulan nama-nama dan memilih salah satu nama secara final untuk disodorkan kepada Kapolri adalah RAPAT WANJAK yang diketuai oleh Wakapolri.

Dan rapat wanjak yang diketuai oleh pejabat setingkat Wakapolri, anggotanya antara lain adalah pejabat setingkat IRWASUM (Inspektur Pengawasan Umum) Polri yang dijabat oleh Komjen Nanan Soekarna.

Sehingga kalau mau berpikiran positif, apakah pantas seorang Irwasum ikut dalam sebuah rapat yang isinya mengusulkan dan memutuskan agar nama dirinya yang terpilih sebagai WAKAPOLRI ?

Kalau mau jujur, RAPAT WANJAK POLRI yang memutuskan nama Nanan Soekarna sebagai WAKAPOLRI sudah tidak objektif lagi.

Sebab NANAN ada didalam rapat itu.

Bayangkan, betapa malangnya nama-nama perwira tinggi lain yang ikut dipertimbangkan dalam bursa pencalonan Wakapolri tetapi tidak seberuntung Nanan bisa mengikuti rapat wanjak.

Sudah barang tentu kans dari perwira tinggi lainnya menjadi jauh lebih kecil porsinya dibandingkan Nanan Soekarna karena mereka secara kebetulan TIDAK DIPERBOLEHKAN ikut dalam rapat wanjak penentuan Wakapolri.

Dalam rapat wanjak itu, Kapolri tidak mengikuti proses pengusulan hingga penentuannya.

 

Foto : Calon Kapolri, Komjen Pol Timur Pradopo menerima kunjungan anggota DPR RI Komisi III di kediamanya kawasan Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (13/10/2010). Kunjungan anggota DPR untuk melihat lebih dekat aspek pribadi calon pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri. (Foto : OKEZONE )

 

Sebab posisi KAPOLRI justru di benteng terakhir.

Kapolri hanya tinggal menerima konsep surat yang isinya berisi hasil keputusan rapat wanjak yang menyetujui nama terakhir yang disepakati menjadi Wakapolri.

Objektivitas dalam pemilihan pejabat setingkat WAKAPOLRI harus diperbahahui oleh Mabes Polri di kemudian hari.

Dan walaupun ini adalah urusan internal Polri, keputusan dalam menentukan siapa yang berhak menjadi WAKAPOLRI harus dibuat lebih ketat.

Bayangkan, seorang Nanan Soekarna ikut mengusulkan dalam rapat resmi WANJAK agar nama dirinya yang menjadi Wakapolri misalnya ?

Apakah itu objektif ?

Lalu bagaimana dengan sinyalemen dari Presiden SBY  bahwa ada perwira tinggi Polri yang sengaja melakukan manuver politik dalam upaya merebut kursi KAPOLRI ?

Masukan ini menjadi sangat positif untuk didengar Mabes Polri agar di kemudian hari OBJEKTIVITAS dari pemilihan pejabat-pejabat utama yang sangat penting kedudukannya, tidak bias dan benar-benar bisa dijamin objektivitasnya.

 

Kapolri Jenderal Timur Pradopo

 

Timur, lahir di Jombang 10 Januari 1956.

Ia lulusan Akademi Kepolisian Angkatan 1978.

Timur masuk menjadi pimpinan baru di tubuh Polri saat sejumlah perwira tinggi Polri sudah secara nyata berusaha menyingkirkan agar jangan dirinya yang terpilih.

Timur tak merasa sakit hati.

Ia menunjukkan ketenangan yang luar biasa.

Dan justru, ia berusaha merangkul dan mengayomi.

“Saya sudah mulai bekerja di ruang kerja saya jam 6 pagi. Dan saya baru kembali ke rumah pada malam hari. Saya sadar bahwa tugas sebagai Kapolri ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh” ungkap Timur Pradopo EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM, 28 Februari 2011 lalu.

Dan ia tetap tidak memasang jarak dengan warga masyarakat yang selama ini dekat dengan dirinya.

Itulah sebabnya, Timur sengaja menunaikan sholat Jumat di mesjid yang berbeda-beda agar ia tetap dapat menemui, menjalin silahturahmi dan bahkan mendengarkan keluh kesah atau informasi yang disampaikan langsung oleh masyarakat.

 

Kapolri Jenderal Timur Pradopo (membelakangi lensa) memasang tanda pangkat kepada Komjen. Nanan Soekarna sebagai Wakapolri baru dalam upacara serah terima jabatan di Ruang Rupatama Mabes Polri, 1 Maret 2011 ( Foto : ANTARA )

 

Ia tak mempunyai prasangka buruk kepada perwira tinggi Polri lainnya sebab yang justru ingin terus ia lakukan adalah membangun soliditas kepada keluarga besar Polri.

“Saya sadar bahwa sebagai pimpinan, saya bukan cuma harus memberikan contoh lewat sebatas kata-kata. Saya harus benar-benar menjadi contoh. Bawahan melihat ke arah saya. Apapun yang saya lakukan, itu menjadi contoh. Sehingga saya harus bisa menjadi contoh yang baik” lanjut Timur Pradopo kepada KATAKAMI.COM.

Ia secara tulus membuka kembali “pintu” persaudaraan dengan Mantan Kabareskrim Komjen. Susno Duadji setelah berbulan-bulan Susno seakan sengaja dicampakkan ke jurang kehancuran.

Timur tak mau banyak bicara.

Tetapi lewat tindakannya menerima kedatangan Komjen Susno Duadji untuk bisa bertemu langsung dengan Kapolri di Gedung Utama Mabes Polri, dari situ dapat dilihat kesungguhan Timur merangkul dan menyatukan kembali keluarga besar Polri.

Cara Timur “memanusiakan” seorang Susno Duadji harus dilihat dari sudut pandang yang positif.

Setelah menerima Susno bertemu di ruang kerjanya, Timur juga “membiarkan” Susno Duadji duduk satu meja dalam acara ramah tamah seusai upacara serah terima jabatan Wakapolri (1/3/2011) di Mabes Polri.

Cukup lama pemandangan “makan bersama” itu dapat dilihat oleh semua mata.

Baik oleh kalangan internal Mabes Polri, bahkan oleh semua media massa yang meliput upacara sertijab Wakapolri.

 

JAKARTA, 1/3 - SUSNO KEMBALI BERTUGAS. Mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol.Susno Duadji (tengah) mengikuti upacara pelantikan Wakapolri di Ruang Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Selasa (1/3). Susno Duadji yang sebelumnya non-aktif karena ditahan sebagai terdakwa kasus dana pengamanan Pilkada Jawa Barat kini menjabat sebagai Koordinator Penasehat Staf Ahli Kapolri. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/ama/11

 

Timur tentu tak bermaksud memperparah atau memperuncing perpecahan antara institusi Polri dengan perwira tingginya sendiri yaitu Komjen Susno Duadji.

Timur justru ingin menyatukan kembali dan memperjelas dengan sejelas-jelasnya bahwa Susno adalah bagian yang tak terpisahkan dari Mabes Polri.

Timur bukan tipe pimpinan yang banyak mengumbar kata-kata yang tak bermakna apa-apa.

Tapi dari tindakan-tindakannya, ia mulai menapak sebagai pimpinan yang harus mampu menjadi contoh.

Timur, kini mendapat tugas berat sebagai pimpinan baru POLRI.

Ditambah lagi, kini Timur pun memiliki wakil yang baru dalam menjalankan tugas-tugas kepolisian.

Entah apapun kata yang paling tepat untuk menggambarkan ketatnya suasana pemilihan jabatan Kapolri menjelang akhir tahun 2010 lalu, tetapi semua prahara itu sudah berlalu.

Atau, kalau istilah yang mau digunakan BADAI, ya … badai itu sudah berlalu.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (berpeci) dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo seusai acara pelantikan Kapolri di Istana Negara, 22 Oktober 2010

 

Polri kini memiliki Kapolri yang cukup mumpuni.

Polri kini memiliki Kapolri yang telah membuktikan bahwa dirinya tak ingin dan memang tak boleh berpolitik.

Ia tak ingin melakukan zig zag ke kiri dan ke kanan agar partai-partai politik melirik serta mengusulkan namanya menjadi Kapolri.

Dan semoga di bawah kepemimpinan Timur, institusi Polri juga tidak akan melakukan zig zag dalam tugas-tugasnya ke depan.

Kepada keluarga besar Polri, sambut dan tunjukkanlah loyalitas kepada pimpinan kalian yaitu Kapolri.

Tidak ada dan tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal.

Nahkoda dalam “kapal” besar bernama POLRI adalah Jenderal Timur Pradopo.

Dari mulai Wakapolri, para pejabat utama Mabes Polri, para Kapolda dan semua jajaran di Kepolisian ( se Indonesia ), tunjukkan kinerja yang terbaik.

Salah satunya mendukung program-program kerja Kapolri.

Dan kepada para sesepuh Polri, termasuk para mantan Kapolri misalnya, jangan merecoki Kapolri.

Ya barangkali saja ada para Mantan Kapolri alias para SESEPUH yang patut dapat diduga berusaha memasuki nama-nama tertentu untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di dalam struktur organisasi Polri.

Kalau era anda sudah lewat sebagai pimpinan Polri, jangan lagi ikut merecoki dan latah mengatur sana-sini soal internal Polri.

Hormati Kapolri yang saat ini menjabat ( walau Jenderal Timur Pradopo direken sebagai junior oleh para sesepuh Polri ).

Biarkan Jenderal Timur Pradopo memimpin dan menjalankan kepemimpinannya secara independen.

Sebab Polri harus sangat sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi.

Ingatlah Polri bahwa harapan masyarakat begitu tinggi kepada kalian.

Tingginya harapan masyarakat kepada institusi Polri, seakan sama tinggi dengan rasa kecewa yang selama ini membuat masyarakat menjadi kehilangan kepercayaan pada Polri.

Polri berulang kali berjanji akan mereformasi dan memperbaiki diri.

Tapi Polri harus diingatkan bahwa rakyat Indonesia perlu bukti, bukan cuma sekedar janji.

Selamat bekerja Kapolri Timur Pradopo dan Wakapolri Nanan Soekarna.

Khususnya kepada Jenderal Timur Pradopo, seandainya ada ilustrasi yang paling tepat untuk diambil dalam melukiskan besarnya harapan masyarakat kepada Kapolri yang baru ini adalah :

Seperti MATAHARI yang terbit dari ufuk TIMUR, wahai Jenderal TIMUR (Pradopo) tetaplah engkau menjadi cahaya yang sinarnya sulit dipadamkan agar dapat menyinari lorong-lorong penugasan yang harus dilalui oleh setiap anggota Kepolisian di negara ini.

Janganlah sampai institusi Polri menjadi suram, kusam atau bahkan gelap gulita.

Laksanakan tugas yang diberikan dan dipercayakan negara kepada anda dengan sebaik-baiknya.

Buktikanlah juga ucapan Jenderal bahwa Jenderal akan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan setiap anggota Kepolisian di negara ini.

Bersikaplah independen, tegas, jujur dan penuh keadilan.

Bersikaplah profesional dan proporsional dalam menjalankan seluruh program-program utama Mabes Polri.

Sekali lagi, SELAMAT BERTUGAS JENDERAL TIMUR.

 

 

(MS)

 
Comments Off on Bagai Matahari Terbit Di Ufuk Timur, Kapolri Timur Bercahayalah Bagi Institusi

Posted by on March 3, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: