RSS

Diiringi Lagu Panggung Sandiwara Mari Utak Atik Analisa Paket Bom Kembar, Omong Kosong BNN Jadi Target Bom

16 Mar

You Are Da BOMB !

Jakarta, 16 Maret 2011 (KATAKAMI.COM) — Mari sejenak kita ingat ancaman terorisme yang mendadak muncul lewat tren parsel bom periode bulan November 2010 lalu. Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy adalah target-target utama yang menjadi incaran parsel bom tersebut.

Sehingga, ketika sekarang terjadi aksi ancaman bom melalui paket surat ke 2 titik maka salah satu bandingan yang harus dijadikan referensi analisa adalah tren ancaman parsel bom terhadap para pemimpin negara-negara Eropa tadi.

Paket surat berisi buku tetapi ternyata “BOM” yang pertama di tujukan kepada tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala yang notabene menjadi salah seorang Ketua DPP Partai Demokrat.

Catatan pertama :  Ulil adalah tokoh Islam, yang sekaligus menjadi politisi dari Partai Politik yang menjadi pendukung utama Pemerintah alias Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Catatan kedua : Paket bom ditujukan ke salah satu media massa nasional yaitu Kantor Berita 68 H di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Paket surat berisi buku tetapi ternyata “BOM” yang kedua ditujukan kepada Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional atau BNN, Komisaris Jenderal Gories Mere ke Kantor Pusat BNN di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

Catatan pertama : Sejak peledakan bom malam natal tahun 2000 Gories Mere mendominasi penanganan teror bom di Indonesia sehingga muncul pertanyaan, apakah mungkin perwira tinggi yang sudah kelamaan mendominasi penanganan anti teror ini bisa mendadak dengan mudah mendapat ancaman teror bom lewat sebuah paket bom buku ?

Catatan kedua : Pada tanggal 23 Agustus 2009, ancaman bom juga pernah terjadi di rumah ( yang kosong) milik Saudara Gories Mere tetapi ternyata ancaman tersebut hanya omong kosong.

(Baca tulisan : PERIKSA GORIES MERE SKANDAL MADRID KORUPSI ALAT SADAP ISRAEL )

Ilustrasi gambar : Pengiriman paket barang dengan ukuran besar. Setiap pengiriman paket barang dalam ukuran sedang atau besar, secara otomatis akan diperiksa secara fisik oleh petugas jasa pengiriman. Sehingga mustahil paket buku berisi bom bisa dengan AMAN SENTOSA terkirim ke dua alamat berbeda di ibukota Jakarta pada hari Selasa, 15 Maret 2011.

Yang mencurigakan dari kedua paket buku berisi bom ini adalah aktor intelektual yang merancang aksi biadab ini tidak memakai logika sehat dan tidak memperhitungkan bahwa semua paket di Indonesia ini akan lebih dulu dideteksi oleh masing-masing kantor jasa pengiriman.

Dengan cara pengiriman apapun, surat atau paket barang akan dikirim ke wilayah ibukota ini misalnya, semua surat dan paket itu secara otomatis akan melewati prosedur tetap ( protap ) yang ditentukan oleh masing-masing kantor / perusahaan pengiriman.

Apakah itu Kantor Pos, TIKI atau jasa pengiriman swasta lainnya.

Sebutlah misalnya Saudara Gories Mere ingin mengirim surat atau barang kepada keluarganya ke Nusa Tenggara Timur melalui jasa pengiriman KANTOR POS milik Pemerintah.

– Saudara Gories Mere harus datang secara fisik ke KANTOR POS atau KANTOR JASA PENGIRIMAN BARANG.

– Surat / Barang itu ditunjukkan dulu kepada petugas operator yang ada di loket-loket pengiriman.

– Petugas di loket pengiriman atau di meja penerimaan akan menanyakan, apa isi surat dan paket tersebut ? Mereka akan meraba dan atau menggoyang-goyangkan untuk mengetahui isinya.

– Bahkan untuk Perusahaan Jasa Pengiriman Barang yang lebih bonafit, si pengirim diminta untuk membuka paket kiriman mereka di hadapan petugas untuk memastikan bahwa kiriman itu aman.

Artinya, mustahil paket buku berisi bom itu bisa dengan AMAN SENTOSA mendarat di Kantor Berita 68 H dan Kantor Pusat BNN, jika aksi ini tidak disurvei, disiapkan dan dilakukan oleh oknum-oknum yang sangat PROFESIONAL alias MEMILIKI KEMAMPUAN SANGAT TINGGI yang menguasai trik dan taktir seputar aksi terorisme.

Patut dapat diduga, pihak yang bisa mensurvei, menyiapkan dan melakukan aksi selihai ini adalah pihak yang sudah sangat hapal dengan gerakan-gerakan aksi terorisme ( baik skala nasional maupun internasional ).

Setiap pengiriman surat atau paket barang, harus diserahkan dari tangan ke tangan yaitu dari pihak pengirim kepada petugas jasa pengiriman.

Dan setiap pengiriman surat atau paket barang itu, pihak pengirim akan menerima resi pengiriman.

Pertanyaannya, pelaku aksi terorisme pasti akan menghindari adanya sidik jari miliknya di bagian manapun dari surat atau paket barang tersebut ( terutama pada buku yang dikirimkan ).

Untuk menghindari tanda-tanda sidik jari tersebut, maka “pelaku” aksi teror ini harus memakai sarung tangan.

Mungkinkah, ia berani memakai sarung tangan di hadapan petugas kantor pos atau perusahaan jasa pengiriman saat pertama kali mengantarkan benda itu ?

Ilustrasi gambar : SARUNG TANGAN. Paket kiriman buku berisi bom ke Kantor Berita 68 H dan Kantor Pusat BNN, bisa ditelusuri lewat sidik jari pada paket kiriman tersebut. Tetapi bisa jadi, pelaku pengiriman atas kedua paket yang sama ini sudah mengantisipasi aksi terornya dengan menggunakan sarung tangan saat menyerahkan kedua paket kiriman itu ke petugas jasa pengiriman.

Siapapun yang disuruh mengantarkan surat atau paket barang itu ke perusahaan jasa pengiriman, oknum yang melakukan eksekusi pengiriman tersebut ( yang menyerahkan kepada petugas jasa pengiriman ), paling jauh akan berpura-pura memakai sarung tangan yang bisa digunakan oleh para pengguna sepeda motor ( atau bisa juga bersarung tangan tetapi mengemudikan mobil toh ? ).

Ia bisa berpura-pura “lupa” melepaskan sarung tangan tersebut.

Tetapi walaupun oknum ini “lupa” melepaskan sarung tangan tersebut, ia akan kembali berhadapan dengan proses administrasi yang telah diuraikan diatas yaitu petugas akan bertanya apa isi paket kiriman itu dan pertanyaan standar lainnya.

Bom, bukan barang ecek-ecek.

Bom termasuk benda yang berukuran besar.

Kalau kita mengirimkan satu amplop berisi surat saja, sudah akan ditanyai oleh petugas pengiriman jika misalnya amplop yang digunakan terlihat “gendut”.

Atau, kalaupun PAKET BUKU berisi bom ini diantar langsung oleh kelompok “teroris” dengan memakai kendaraan mereka sendiri, tidak akan mungkin si pengantar paket bom ini bisa dengan AMAN SENTOSA masuk sampai ke bagian basement Kantor Pusat BNN.

Sebab sejak beberapa tahun terakhir, pengamanan di seluruh kantor-kantor pemerintah  ( termasuk Hotel dan Pusat Perbelanjaan) sudah sangat ketat di Indonesia.

Apalagi, kalau kantor itu dipimpin dan dihuni oleh Perwira Tinggi Polri yang menangani aksi-aksi teror sejak kasus peledakan bom malam natal.

Ini sama dengan ilustrasi yaitu misalnya seorang “Osama Bin Laden” bisa meledakkan markas militer Amerika Serikat di Afghanistan yang dipimpin oleh Jenderal David Petraeus atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Robert Gates.

Saat serangan 11 September 2001 saja, Al Qaeda membidik Gedung Pentagon tetapi tidak meledakkan sampai ke bagian dalam Departemen yang sangat bergengsi milik Pemerintah Amerika Serikat ini.

Sama halnya dengan dengan di Indonesia !

Kantor Pusat Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur

Kan tidak masuk akal, kalau Gories Mere yang dikenal sebagai seseorang yang sudah hampir sepuluh tahun mendominasi kasus penanganan terorisme, tiba-tiba secara mendadak TERORIS bisa menembus masuk ke Kantor Pusat BNN yang dipimpin oleh Gories Mere.

Apakah logis jika seorang Gories Mere membiarkan kantor yang dihuninya sangat lemah dalam pengamanan dan keamanan ?

Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi terlalu cepat memberikan respon dan pernyataan bahwa kedua paket bom ini adalah sama yaitu paket bom ke Utan Kayu dan ke Kantor Pusat BNN.

Hati-hati kalau memberikan pernyataan resmi kepada media massa !

Tim Forensik Polri belum memeriksa kepingan-kepingan bom dan semua barang bukti yang ada di kedua lokasi yaitu di Utan Kayu dan Kantor Pusat BNN.

Periksa dulu dong, baru Bareskrim Polri bisa memberikan pernyataan resmi bahwa kedua bom itu adalah paket kembar.

Disinilah, kelemahan dari aksi teror berbentuk paket bom ini !

Dalam hitungan jam, polisi sudah harus bisa menemukan dari jasa pengiriman apa, bagaimana dan darimana, paket buku berisi bom itu dikirimkan.

Kemudian, jika MABES POLRI sudah pagi-pagi buta mengumumkan bahwa paket buku berisi bom untuk Ulil dan Gories Mere adalah paket yang sejenis, maka pertanyaannya : ,” Apa benang merah antara Ulil dan Gories Mere ?”.

Artinya, ada seseorang yang merupakan tokoh Islam dan politisi Partai Demokrat, mendapatkan paket bom yang sama dengan seorang Jenderal berbintang 3 ( dengan pengalaman menangani bom selama 11 tahun di Indonesia ? ).

Analisa-analisa pendalaman semacam ini dibutuhkan agar masyarakat terbiasa memilah-milah, mana aksi teror yang sesungguhnya dan mana yang diduga merupakan aksi REKAYASA SEMATA ?

Terpidana Terorisme ALI IMRON yang sudah mendapatkan vonis pidana kurungan ( penjara ) seumur hidup. Tetapi sejak vonis itu diberikan oleh Majelis Hakim pada tahun 2003, ALI IMRON tidak pernah seharipun melewati masa hukumannya di dalam penjara karena ia mendapatkan keistimewaan dari Tim Anti Teror Polri. ALI IMRON adalah teroris yang merakit BOM pada kasus BOM BALI I.

Teroris mana yang berani melakukan ancaman teror kepada Jenderal Polisi berbintang 3 yang setiap hari dikawal oleh belasan polisi kemanapun ia bergerak ?

Teroris mana yang berani melakukan ancaman teror kepada Komjen Gories Mere sementara sejak tahun 2003, Gories Mere sudah “membina dan merangkul” secara dekat 3 TERORIS KELAS KAKAP eks Jamaah Islamyah yaitu Nasir Abbas, Ali Imron dan Mubaroq ?

Teroris mana yang berani melakukan ancaman teror kepada Komjen Gories Mere sementara di kalangan tersangka kasus-kasus terorisme, Gories Mere dikenal dan bahkan terlihat secara fisik hadir dalam proses penyidikan penuh penyiksaan fisik ( agar para tersangka-tersangka kasus terorisme itu mengakui semua tuduhan polisi ) ?

Kalau mau berandai-andai, akan jauh lebih aman bagi si teroris itu, jika menghadang Gories Mere saat ia berada dalam perjalanan, daripada mengirimkan paket buku berisi bom ?

Mengapa ?

Sebab, pengamanan di Kantor Pusat BNN tidaklah semudah memasuki kantor Kelurahan untuk sekedar mengurus pembuatan atau perpanjangan KTP.

Di Kantor Pusat BNN, didominasi oleh Kelompok Gories Mere yang berpengamanan menangani kasus teror.

Di Kantor Pusat BNN, dilengkapi dengan perangkat Penyadapan.

Jadi, agak rancu taktik yang digunakan untuk mengirimkan satu jenis paket ancaman teror kepada seorang tokoh Islam dan Polisi yang selama ini banyak dikecam karena diduga banyak melakukan pelanggaran HAM terkait penanganan kasus-kasus terorisme.

Kasus ini memang sudah dirancang sedemikian rupa agar menghilang jejak dugaan keterlibatan oknum aparat tertentu.

Jatuhnya korban dari pihak kepolisian dan dijadikannya Kantor Pusat BNN ( cq Kalakhar BNN Komjen Gories Mere ) sebagai target terorisme, seolah ingin membangun opini publik bahwa pelaku aksi terorisme ini bukan oknum polisi.

Patut dapat diduga, dari awal penyusunan rencana saja sudah dirancang agar jangan sampai ada celah atau peluang yang bisa menjurus kepada spekulasi tentang dugaan keterlibatan oknum polri yang biasa menangani aksi terorisme.

WAR ON TERROR

Akhirnya, masyarakat perlu mendukung aparat keamanan untuk mengungkap paket bom kembar yang sangat “tidak masuk di akal ini”.

Pernyataan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto yang mengatakan bahwa teror yang dilakukan perorangan sulit dideteksi, adalah sebuah pernyataan prematur yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pimpinan lembaga intelijen negara yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Indonesia sebagai bertahun-tahun.

Tidaklah mungkin aksi teror bom kembar ini bisa dilakukan oleh teroris kelas abal abal.

Sel-sel terorisme itu tidak mungkin berdiri sendiri dalam bentuk orang per orang.

Ini membutuhkan keterlibatan secara kolegial atau mengerjakannya secara melembaga atau sistem keroyokan.

Dan kalau BIN dan TIM ANTI TEROR POLRI ( khususnya Badan Penanggulangan Anti Teror )  mengaku tak mampu mendeteksi aksi teror semacam ini, maka sebaiknya Presiden SBY harus menegur secara KERAS jajaran KEAMANAN di negara ini ( terutama Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Kepala BIN Jenderal Polisi Sutanto ).

Rakyat Indonesia juga harus secara tulus menyampaikan ungkapan keprihatinan kepada Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan yang menjadi korban atas kejadian di Tempat Kejadian Perkara (TKP ) Kantor Berita 68 H Utan Kayu Jakarta Timur.

Tanpa menunggu Tim Gegana datang, ia sudah membuka paket bom tersebut dan akhirnya mencederai tubuh Dodi Rahmawan sendiri yaitu menyebabkan tangannya terputus atau buntung ( cacat permanen ).

Polda Metro Jaya harus mengendalikan diri dan jangan lagi mengeluarkan pernyataan terbuka kepada media massa yang mengecam tindakan tidak prosedural yang dilakukan Dodi Rahmawan.

Jangan salahkan anggota kalian secara terburu-buru !

Cek dulu, apakah ada perintah dari pihak-pihak tertentu yang pangkat dan jabatannya lebih tinggi dari Dodi Rahmawan untuk membuka paket kiriman bom itu tanpa harus menunggu Tim Gegana datang ?

Seorang Kasat Reskrim bukanlah jabatan yang sembarangan.

Ia tentu sudah memahami prosedur tetap penanganan bom yaitu hanya bisa dijinakkan oleh Tim Gegana.

Polisi yang baru lulus saja ( apalagi kalau dia dididik sebagai seorang RESERSE ) maka ia sudah diajari tentang prosedur tetap ( protap) penjinakan bom.

Tangan kiri Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur (Jaktim) Kompol Dodi Rahmawan putus saat mengamankan paket bom di Kantor Berita 68 H Utan Kayu, Selasa, 15 Maret 2011 ( Foto : DETIK.COM )

Sekali lagi, jangan cepat menyalahkan dan mengumumkan bahwa Dodi Rahmawan melanggar prosedur.

Jagalah perasaannya dan perasaan keluarganya.

Sebab dalam kasus ini, Dodi Rahmawan adalah korban yang paling tragis nasibnya.

Dia harus kehilangan tangannya sampai buntung.

Dia menjadi cacat permanen.

Polda Metro Jaya harus tenang menangani kasus pelik ini.

Aksi terorisme dengan taktik paket bom kembar ini, pasti sudah sangat disiapkan dengan pengetahuan dan kemampuan sangat amat tinggi, mahir dan terlatih dari oknum-oknum pelakunya.

Sangat profesional !

Jadi, apapun kesalahan teknis yang menyebabkan Dodi Rahmawan sampai harus menjadi korban yang sangat tragis dalam kasus ini, berikan empati kepada Dodi Rahmawan sebab ia adalah korban.

Sekali lagi, dia adalah korban !

Dia sudah menjadi korban sehingga jangan lagi sang korban lebih dikorbankan.

Cari pelaku yang sebenarnya.

Gunakan seluruh kemampuan untuk mengungkap kasus paket bom kembar ini.

Sebab, kalau pelakunya tidak segera ditangkap, maka ia akan merajalela dengan aksi-aksi teror berikutnya dengan modifikasi dan fantasi-fantasi bom yang lebih mengerikan.

Jadi, hanya ada satu kata yang paling tepat dalam situasi ini yaitu : TANGKAP OTAK PELAKUNYA !

Janganlah ada oknum tertentu yang sengaja memancing di air keruh.

Inilah buku yang dikirimkan ke Kantor Berita 68 H dan ke Kantor Pusat BNN. Buku berjudul, "Mereka Harus Dibunuh ! Karena Dosa-Dosa Mereka Terhadap Islam Dan Kaum Muslimin".

Ya, misalnya, patut dapat diduga dispekulasikan ( bisa jadi) ada yang berpura-pura mengirimi dirinya sendiri paket bom agar menjadi objek pemberitaan nasional dan internasional — sementara selama hampir 11 tahun merasa paling dikenal sebagai aparat paling jago dalam menangani aksi-aksi terorisme –.

Barangkali ( ini cuma barangkali ) karena patut dapat diduga takut dicopot dari jabatan yang ingin tetap dikuasai sehingga perlu melakukan pengalihan isu yang sangat sensasional.

Kalau tidak dengan cara sensasional begini, tak mungkin nama dan dirinya bisa mendadak jadi topik pembicaraan di media massa seolah-olah kali ini menjadi korban aksi terorisme.

Weleh Weleh Weleh !

Wah Wah Wah !

Luar Biasa !

Tapi, ya, kira-kira dong, mengapa begitu tega mengorbankan anggota polisi yang gajinya tak seberapa untuk menjadi korban bom sehingga sampai seumur hidupnya ia harus menjadi cacat permanen.

Kalau kata orang Medan, “Banyak Kali Ulah Kau !”.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus hati-hati dalam menanggapi kasus terorisme jenis terbaru kali ini.

Jangan ada siapapun juga dari pihak Partai Demokrat atau dari Istana Kepresidenan yang cepat menuduh bahwa kasus ini bermuatan politis !

Ingatlah pelajaran dari kasus peledakan bom di Hotel JW Marriot bulan Juli 2009.

Presiden SBY secara terang-terangan memberikan keterangan pers secara terbuka bahwa aksi bom itu bermuatan politis dari pihak yang tidak puas terhadap hasil pemilu.

Sebab di tahun 2010, bocoran nota diplomatik dari jajaran diplomat negara tertentu yang dirilis oleh Situs WIKILEAKS menyebutkan bahwa 4 hari sebelum aksi peledakan bom JW MARRIOT tahun 2010 terjadi, sebuah Kedutaan Besar di Indonesia sudah melaporkan informasi ( tentang rencana peledakan bom itu) ke Pemerintah Pusatnya.

Inilah salah satu gambar Harian The Age (Australia) saat mereka memuat berita tentang bocoran Situs WIKILEAKS yang jelas frontal mendeskreditkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga. Berita ini dimuat edisi hari JUMAT, 11 Maret 2011. Selain Harian The Age, harian The Sydney Morning Herald juga memuat berita tentang bocoran WIKILEAKS mengenai Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono

Lalu beberapa hari yang lalu, Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono juga menjadi korban WIKILEAKS yang dirilis lewat Harian Australia The Age.

Media massa sudah memberitakan bahwa Presiden SBY sekeluarga tidak senang atas pemberitaan miring itu.

Pemerintah Indonesia juga sudah memuat bantahan resmi di Harian The Age ( Australia ).

Tetapi, tidak tertutup kemungkinan bahwa patut dapat diduga ada upaya-upaya tingkat tinggi untuk mengalihkan isu ke kasus teror yang sangat spektakuler agar jangan pemberitaan miring tentang Presiden SBY sekeluarga versi WIKILEAKS disinggung-singgung lagi di media massa.

Tetapi semua ini hanya analisa yang pendek.

Belum Teruji.

Belum terbukti.

Mari kita berikan kepercayaan dan dukungan yang tinggi kepada MABES POLRI untuk mengungkap dan menangani kasus teror kali ini dengan sebaik-baiknya.

Tangani kasus ini dengan sebaik-baiknya.

Jangan ada rekayasa.

Jangan ada yang disembunyikan.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo ( paling kiri, tampak samping), Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto (nomor 2 dari kiri), Menkopolhukkam Djoko Suyanto dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono (paling kanan).

Kepala BIN Jenderal Sutanto sangat menyukai lagu PANGGUNG SANDIWARA.

Semasa ia menjabat sebagai Kapolri, lagu PANGGUNG SANDIWARA ini seakan menjadi lagu andalan yang selalu dinyanyikan oleh Sutanto bila ada acara-acara pertemuan yang bersifat informal di jajaran Kepolisian.

Ingatlah lirik dari lagu PANGGUNG SANDIWARA jika sedang menangani kasus paket bom kembar tahun 2011 ini :

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara ?
Mengapa kita bersandiwara ?

Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Artinya, tegakkanlah hukum sampai langit runtuh !

Perangi terorisme tapi tanpa harus mengorbankan rakyat sendiri ( apalagi kalau patut dapat diduga sampai harus mengorbankan anggota sendiri ).

Seret pelaku kasus bom kembar ini ke Pengadilan.

Masukkan ke penjara ( bahkan kalau perlu, kurung saja di LP Nusa Kambangan sana) selama-lamanya.

Biar kapok lu !

(MS)

 
Comments Off on Diiringi Lagu Panggung Sandiwara Mari Utak Atik Analisa Paket Bom Kembar, Omong Kosong BNN Jadi Target Bom

Posted by on March 16, 2011 in World News

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: