RSS

Antara Presiden Medvedev, Perdana Menteri Putin Dan Kekecewaan Gaddafi Pada Sikap Abstain Rusia

24 Mar

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (Kiri) dan Perdana Menteri Vladimir Putin

Jakarta, 24//3/2011 (KATAKAMI.COM) — Hampir sepekan invasi 3 negara terjadi di Libya dengan dalih melaksanakan keputusan Resolusi PBB Nomor 1973 tentang zoba bebas terbang atau No Fly Zone ( NFZ ) terhadap Libya yang dipimpin oleh orang kuat yang selalu berpakaian nyentrik Muammar Al Gaddafi.

Setelah hampir sepekan dilaksanakan oleh 3 negara maka dalam waktu yang tidak akan lama lagi, aksi militer terhadap Libya akan dipimpin oleh NATO.

Sehingga semua pihak akan menyaksikan bahwa  aksi militer di Libya ( mengapa ) belum menunjukkan tanda-tanda akan diakhiri.

Sejumlah politisi di Indonesia juga sudah mulai menunjukkan ketidak-senangan atas intervensi asing pada masalah Libya.

Memang kalangan sipil harus dan mutlak dilindungi di Libya tetapi membiarkan kekuatan militer asing memasuki wilayah sebuah negara adalah sebuah tindakan yang tidak seharusnya dibiarkan terjadi dalam sistem pemerintahan manapun juga.

Banyak pihak yang juga berspekulasi, mengapa depot dan ladang-ladang minyak di Libya yang justru ikut dihancurkan.

Lalu basis-basis militer Libya, ikut  dihancurkan.

Lho, selama ini Libya adalah sebuah negara yang diakui keberadaannya dalam tatanan dunia.

Sehingga, apa yang menjadi aset-aset penting didalam sebuah negara, jangan dihancurkan sebab itu hanya akan mendatangkan kerugian sangat amat besar di kemudian hari.

Dan kalau berbicara soal perkembangan di Libya, yang sangat menarik untuk dicermati adalah peran Rusia.

 

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (Kiri) dan Perdana Menteri Vladimir Putin

 

Russian Prime Minister Putin says Security Council resolution on Libya “flawed”

 

Sepekan ini dunia dibuat terkesima dengan panggung politik dan kebijakan luar negeri Rusia yang dipimpin oleh duet Dmitry Medvedev sebagai Presiden dan Vladimir Putin sebagai Perdana Menteri.

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB akhir pekan lalu, Rusia tidak menggunakan hak veto mereka saat pengambilan suara ( voting ) terkait perlu tidaknya PBB menetapkan kebijakan No Fly Zone (NFZ ) terhadap Libya.

Bila kebijakan NFZ itu ditetapkan sebagai Resolusi remi dari badan dunia PBB, maka semua tindakan militer akan dianggap sah dan legal.

Rusia memilih sikap ABSTAIN.

Dan Rusia tidak sendirian memilih untuk abstain tadi.

Selain Rusia, Jerman, China, India dan Brazil juga mengambil sikap abstain.

Memasuki hari ketiga pelaksanaan invasi militer ( atau dalam istilah lain yang digunakan oleh PBB adalah MILITARY ACTION ), Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengeluarkan pernyataan yang sangat mengejutkan.

Ia mengkritik dengan keras pelaksanaan serangan militer terhadap Libya.

Putin juga menyebut bahwa keputusan RESOLUSI Dewan Keamanan PBB yang menetapkan kebijakan No Fly Zone terhadap Libya adalah sebuah keputusan yang cacat.

Putin mengecam keras kebijakan Dewan Keamanan PBB ini karena dianggap merupakan sebuah panggilan untuk terciptanya perang salib.

 

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dalam acara konferensi pers di Serbia, 23 Maret 2011. Putin saat ini sedang melakukan kunjungan ke Serbia.

 

 

 

Dalam hitungan menit, pernyataan Putin diberitakan oleh media internasional ke seluruh dunia.

Namun beberapa jam kemudian, Rusia kembali mengejutkan dunia.

Presiden Dmitry Medvedev mengatakan bahwa Rusia memang memilih untuk tidak terlibat dalam aksi militer Libya tetapi tidak membenarkan serangan terhadap sipil yang dilakukan oleh rezim Muammar Gaddafi.

Medvedev secara tidak langsung ingin menampik pernyataan sebelumnya dari Putin yang sempat sangat keras mengecam aksi militer ke Libya.

Sang Presiden merasa perlu untuk bicara kepada dunia untuk menetralisir situasi pasca keluarnya pernyataan Perdana Menteri yang sangat amat keras, sinis dan begitu tidak senang atas “invasi militer asing” di Libya.

Debat antara Medvedev dan Putin ditutup dengan pernyataan berikutnya dari Putin bahwa semua kecaman dirinya terhadap keputusan Dewan Keamanan PBB adalah pernyataan pribadi.

Menurut Putin, kebijakan luar negeri Rusia ada di tangan Presiden Medvedev sehingga setiap pernyataan Presiden Medvedev-lah yang harus dirujuk sebagai kebijakan politik luar negeri Rusia mengenai Libya.

Medvedev tidak sedikitpun berkata-kata sangat keras tentang PBB.

Ia menjaga betul setiap pernyataannya.

Pemimpin Libya, Kolonel Muammar Al Gaddafi

 

Dan dari Libya, Muammar Gaddafi tak segan-segan mengungkapkan kekecewaannya terhadap Rusia.

Menurut Gaddafi, jika memang Rusia tak setuju atas invasi militer asing ke Libya, mengapa Rusia justru bersikap abstain dan tidak menggunakan hak veto mereka saat sidang darurat Dewan Keamanan PBB dilaksanaan saat pengambilan voting tentang No Fly Zone (NFZ).

Tetapi walaupun mengecam sangat keras atas sikap Rusia yang tidak mau memveto, Muammar Gaddafi secara jujur berterimakasih kepada 5 negara yang telah memilih sikap abstain.

Gaddafi tetaplah Gaddafi.

Ia tetap bicara dengan sangat amat cuek di jejaring sosial TWITTER.

MuammarLGaddafi

Plaid-Gaddafi

Twitter adalah sarana Gaddafi untuk mengekspresikan setiap bentuk kemarahan, kekecewaan, kenakalannya dalam berkata-kata, rasa humor yang tetap tinggi dalam mengejek invasi asing ke negaranya dan untuk memberitahukan setiap kebijakan yang diambilnya.

Dan Gaddafi memiliki begitu banyak akun TWITTER.

( Tetapi untuk setiap orang yang jeli memperhatikan kata demi kata yang digunakannya lewat akun-akun TWITTER itu, akan bisa dikenali yang mana yang dituliskan oleh Gaddafi secara pribadi ).

Dan apapun yang dituliskan oleh Gaddafi dalam akun-akun TWITTER yang digunakannya, muara dari semua ungkapan Gaddafi adalah kemarahan yang sangat mendalam atas kesewenang-wenangan asing menginvasi negaranya.

Para pemberontak ( rebels ) seakan dianggap pahlawan.

Pertanyaannya, di negara mana ada kelompok sipil bersenjata yang bisa dibiarkan menguasai sejengkal saja terorial dan kedaulatan dari negara  ?

Di Indonesia, yang namanya pemberontak akan dihadapi secara tegas oleh negara.

Sebutlah misalnya di Nangroe Aceh Darussalam, sempat eksis kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ).

Atau di Papua, sampai saat ini berdiri Organisasi Papua Merdeka ( OPM ).

Inilah dua kelompok pemberontak ( rebels ) yang sangat amat kuat eksistensinya di Indonesia.

Di Papua sana, sedikit saja berkibar bendera OPM, maka aparat keamananan akan langsung menurunkan bendera bintang kejora.

Di setiap negara terhadap kelompok sipil bersenjata yang memberontak terhadap pemerintahannya.

Dan di negara manapun, kalangan sipil tidak diperkenankan untuk memiliki senjata api yang menyamai, menandingi atau bahkan mengalahkan persenjataan kalangan militer dan aparat keamanan di negara tersebut.

Setiap kelompok pemberontak di semua negara ( entah itu masuk dalam kategori separatis, ekstrimis atau radikalis ), pasti akan berhadapan dengan aparat resmi dari masing-masing negara tadi.

Setiap kelompok pemberontak di semua negara, hampir sama misi perjuangannya yaitu menjatuhkan pemerintah, membentuk pemerintahan sendiri dan bahkan kalau bisa mendirikan negara sendiri.

Sehingga, Resolusi Dewan Keamanan PBB memang pantas dipertanyakan jika dalam implementasinya di Libya, justru diarahkan untuk misi membela kelompok pemberontak ( rebels ).

Ini sinyalemen yang sangat mengkuatirkan bagi setiap pemerintah atau negara manapun didunia ini.

Sebab, indikasi dukungan dari badan dunia PBB kepada kelompok pemberontak ( rebels ) di Libya, menjadi sebuah inspirasi bagi kelompok pemberontak di negara-negara lain untuk melakukan “perjuangan mulia yang sama”.

Para pemberontak Libya memegang senjata di Benghazi, 23 Maret 2011

Artinya, dari awal sudah salah kaprah kalau kelompok anti Gaddafi di Libya menamakan diri mereka sebagai REBELS ( pemberontak ).

Tidak akan kepala pemerintahan atau kepala negara manapun didunia ini yang mau kalau kelompok pemberontak, separatis, radikalis atau ekstrimis di negaranya, akan mendapat pembenaran dan dukungan resmi dari badan dunia sekelas PBB.

Kembali ke masalah Rusia.

Yang menarik untuk disimak ini adalah kepatuhan Vladimir Putin kepada Sang Presiden.

Padahal semua tahu bahwa sesungguhnya, Putin adalah senior dari Medvedev.

Tetapi, Putin menunjukkan kepada dunia bahwa sebagai Perdana Menteri ia patuh dan tunduk kepada presidennya.

Putin menjadi inspirasi kepada dunia bahwa setiap pimpinan harus dihormati.

Moscow menunjukkan panggung politik yang dewasa dan mengagumkan.

Gaddafi tak perlu terlalu berlebihan mengecam sikap abstain Rusia.

Sebab walaupun brutalitas kelompok pemberontak di Libya sudah berlebihan dalam melawan pemerintahnya, kekerasan yang juga telah dilakukan oleh Gaddafi terhadap sipil di negaranya juga tak bisa ditolerir.

( Tetapi kalau boleh lebih leluasa dalam menganalisa, bisa jadi sebenarnya Muammar Gaddafi tak ingin bersikap keras kepada rakyatnya sendiri. Namun, pemberontakan yang terus menerus dilakukan oleh kalangan pemberontak BERSENJATA di Libya yang mengarah pada misi menjatuhkan pemerintah, sesungguhnya bisa dianggap menjadi sebuah tantangan serius kepada pemerintah).

Dan dalam pekan ini, Dewan Keamanan PBB akan kembali bersidang untuk membahas masalah Libya.

Dunia akan melihat, akan seperti apalagikah Rusia memainkan perananannya dalam kerangka ikut menjaga keamanan dan perdamaian dunia.

Baik itu Medvedev atau Putin, keduanya diharapkan sangat serius memanfaatkan setiap momen demi menjaga keamanan dan perdamaian dunia.

Janganlah didukung setiap hal yang misi terselubungnya adalah mencampuri urusan dalam negeri dari negara-negara lain.

Janganlah juga didiamkan setiap hal yang misi terselubungnya adalah menjatuhkan kepala pemerintahan di negara-negara lain ( dengan alasan apapun juga ).

 

Presiden Rusia Dmitry Medvedev saat memberikan keterangan kepada wartawan (21/3/2011) tentang sikap resmi Rusia terhadap masalah Libya

 

Rusia harus tetap bisa menjadi pilar dunia yang kokoh dan tegas dalam bersikap.

Rusia harus tetap menunjukkan panggung politik yang dewasa dan mengagumkan.

Dan Putin menjadi inspirasi dalam tatanan pemerintahan yang sesungguhnya. Ia tidak merasa dirinya paling hebat, paling benar dan lebih berpengalaman dari siapapun.

Sebab dalam sistem pemerintahan, orang nomor satu atau presiden tetaplah orang nomor satu yang harus dihormati.

Pemandangan politik tentang bagaimana menjalankan pemerintahan, telah ditunjukkan oleh para politisi Moscow yang sangat kawakan. Tak ada yang bisa menebak, apakah sebenarnya debat antara Presiden dan Perdana Menteri Rusia tentang Libya adalah sebuah permainan politik atau perdebatan natural yang lumrah terjadi didunia ini.

Yang jelas, Rusia ingin mengatakan kepada dunia bahwa setiap kalangan sipil harus dilindungi dimanapun juga mereka berada.

Tetapi setiap kedaulatan dari masing-masing negara juga harus dihormati ( jadi tidak perlu bagi pihak manapun juga memasukkan agenda menjatuhkan pemimpin negara lain seakan-akan menjadi tren baru kebijakan luar negeri ).

Rusia tidak menggunakan hak veto mereka, pasti karena satu hal yaitu ingin agar situasi di Libya bisa lebih membaik dengan adanya tekanan internasional.

Akan sangat tidak bijaksana bagi Rusia untuk memveto jika pada kenyataannya di lapangan, memang ada kalangan sipil yang terkorbankan di Libya.

Ini memang menjadi sebuah dilema bagi setiap negara yang memilih sikap abstain.

Mereka tak mungkin menggunakan hak veto sepanjang yang terjadi di lapangan masih sangat tidak terkendali.

Sehingga ini jugalah yang harus disadari oleh Gaddafi.

Lindungi kalangan sipil anda ( walaupun apa boleh buat, kelompok pemberontak bersenjata yang sangat ekstrimis di Libya, bisa dengan mudah bersembunyi di balik kedok sebagai “kalangan sipil yang harus didukung dan dilindungi ).

Semoga, ya semoga, keadaan di Libya bisa segera terselesaikan secara baik.

Tidak berkepangan.

Tidak lagi berdarah-darah.

 

 

(MS)

 
Comments Off on Antara Presiden Medvedev, Perdana Menteri Putin Dan Kekecewaan Gaddafi Pada Sikap Abstain Rusia

Posted by on March 24, 2011 in World News

 

Tags: , , , ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: