RSS

Daily Archives: March 27, 2011

Iran supports Afghan stability

Iranian Foreign Minister Ali Akbar Salehi

IRAN, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM) — Iranian Foreign Minister Ali Akbar Salehi has expressed the Islamic Republic’s support for improving stability and security in war-torn Afghanistan, Press TV Channel reported on Sunday.


“The Afghan people … can manage [the affairs of] their own country without the presence of foreigners,” Salehi said in a meeting with Afghan Foreign Minister Zalmai Rassoul, who is in the Iranian capital city of Tehran to attend the second International Nowruz Celebrations.

The Afghan minister appreciated Iran’s services and efforts to host Afghan refugees during the past 30 years.

The top Iranian and Afghan diplomats exchanged views on ways to expand mutual relations and the latest regional and international developments.

The second International Nowruz Celebrations officially kicked off in Tehran on Sunday in the presence of President Mahmoud Ahmadinejad.

Hamid Karzai, Jalal Talabani, Gurbanguly Berdimuhammadov, Emomali Rahmon and Serzh Sargsyan — presidents of Afghanistan, Iraq, Turkmenistan, Tajikistan and Armenia respectively — took part in the inaugural ceremony of the event at Tehran’s Sa’adabad Palace Museum on Sunday.

Nowruz, which coincides with the first day of spring on the solar calendar, is mostly celebrated in Iran, Afghanistan, Azerbaijan, India, Kyrgyzstan, Tajikistan, Pakistan, Turkey and Uzbekistan.

The International Day of Nowruz was registered on the UNESCO List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on February 23, 2010.  (*)

Advertisements
 
Comments Off on Iran supports Afghan stability

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags:

International Nowruz Celebrations open in Iran

The second International Nowruz Celebrations open in Tehran's Sa'adabad Palace on March 27, 2011.

IRAN, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM) — The second International Nowruz Celebrations have officially kicked off in the Iranian capital, Tehran, in the presence of President Mahmoud Ahmadinejad, Press TV Channel reported on Sunday.


Hamid Karzai, Jalal Talabani, Gurbanguly Berdimuhammadov, Emomali Rahmon and Serzh Sargsyan — presidents of Afghanistan, Iraq, Turkmenistan, Tajikistan and Armenia respectively — took part in the inaugural ceremony of the event at Tehran’s Sa’adabad Historical Complex on Sunday.

Meanwhile, Indian health minister, Omani Foreign Minister Youssef bin Alawi bin Abdullah, Pakistani Speaker of the National Assembly Fahmida Mirza, the Kyrgyz minister of culture, the vice president of Zanzibar, the Kuwaiti special envoy and Secretary General of Economic Cooperation Organization (ECO) Mohammad Yahya Maroofi are also participating in the event.

Nowruz, which coincides with the first day of spring on the solar calendar, is mostly celebrated in Iran, Afghanistan, Azerbaijan, India, Kyrgyzstan, Tajikistan, Pakistan, Turkey and Uzbekistan.

The International Day of Nowruz was registered on the UNESCO List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity on February 23, 2010.

The day-long event aims to commemorate Nowruz as a cultural and spiritual heritage of Iran and other neighboring countries which celebrate the Persian New Year.

During Nowruz, Iranians set the Haft Seen as an expression of their traditional, spiritual, and social values.

Haft Seen is a table containing seven items starting with the phonemic Farsi equivalent of the English letter ‘S’ or ‘Seen.’ Sabzeh (freshly grown greens), Samanu (sweet wheat paste), Senjed (jujube), Seeb (apple), Seer (garlic), Somagh (sumac), and Sekeh (coin), are among items that begin with the Farsi letter Seen.  (*)

 
Comments Off on International Nowruz Celebrations open in Iran

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags:

Pope calls for dialogue, not arms, in Libya

ope Benedict XVI delivers his blessing during the Angelus prayer from his studio window overlooking St. Peter's square at the Vatican, Sunday, March 27, 2011. Pope Benedict XVI on Sunday urged diplomats to work for immediate dialogue aimed at suspending the use of arms by all sides in Libya. (AP Photo/Riccardo De Luca)

 

 

VATICAN, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM) — Pope Benedict XVI has made his strongest statement to date on the conflict in Libya, calling for “an immediate dialogue” to halt the violence there, Deutsche Welle reported on Sunday.

Speaking at his Sunday blessing in St Peter’s Square, Benedict said he was appealing to “international organizations and those with political and military responsibilities” to start talks leading to a suspension in armed hostilities.

The pontiff said there was “an urgent need to rely on every diplomatic measure available” to bring about a reconciliation between the warring parties.

Nazi massacre site

On Sunday, the Pope also paid his respects at a site on Rome’s outskirts where the Nazis executed over 300 Italian men and boys during World War II in retaliation for a partisan attack in which 33 German soldiers were killed.

The 83-year-old pontiff knelt in prayer at the graves of the victims, before he and Rome’s Chief Rabbi, Riccardo Di Segni, each recited a psalm. Among those killed were some 76 Jews.

It was the first visit to the site as pope by the German-born Benedict. The location, known as the Ardeatine Caves, was also visited by his predecessors Paul VI and John Paul II.

In 1998, former SS Captain Erich Priebke was sentenced to life in prison by an Italian court for his role in the killings. The 97-year-old Priebke is currently under house arrest granted to him due to his age.  (*)

 

 
Comments Off on Pope calls for dialogue, not arms, in Libya

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: ,

Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

President Mahmoud Abbas held talks Saturday (26/3/2011) with Hamas leaders in Ramallah, in a meeting both sides described as “positive.” As reported by Ma’an News Agency on Saturday, Aziz Dweik, the Hamas head of the Palestinian legislature, said the meeting was “highly positive” and that “practical moves on the ground will taken in the coming days” regarding Abbas’ proposed visit to Gaza to make a unity deal.

 

Jakarta, 27/3/2011 (KATAKAMI.COM) — Akhirnya Presiden Palestina Mahmoud Abbas menepati ucapannya sendiri yaitu menemui pihak Hamas, rival politik terberat dari kubu Fatah ( yang merupakan kubu dari Presiden Abbas).

Walaupun sebenarnya, pertemuan ini belum merupakan pertemuan antar dua rival politik yang sesungguhnya. Sebab yang dinantikan oleh semua pihak adalah pertemuan antara Presiden Mahmoud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyeh yang bermarkas di Jalur Gaza.

Pertemuan di hari Sabtu (26/3/2011) itu adalah pertemuan antara Abbas dan delegasi parlemen Hamas.

Tapi walaupun ini belum merupakan pertemuan puncak antar kedua pemimpin tertinggi, tetap saja pertemuan tersebut harus disambut baik oleh semua pihak.

Sebab apapun permasalahannya, Presiden Abbas memang harus membuka semua peluang bagi terciptanya persatuan didalam internal Palestina sendiri.

Arah dari pertemuan antara pihak Presiden Abbas dan Hamas adalah mencari peluang bagi koalisi utuh antara Fatah dan Hamas didalam pemerintahan Palestina secara keseluruhan.

Seperti dilansir oleh Kantor Berita Ma’an News Agency pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Aziz Dweik  — yang merupakan Ketua  Legislatif Hamas — mengatakan bahwa pertemuan itu “sangat positif. Kunjungan ini telah menjadi tuntutan rakyat dan harus dijawab,” kata Dweik.

 

Perdana Menteri Hamas ( di Jalur Gaza ) Ismail Haniyeh

 

Terutama untuk mengantisipasi rencana kunjungan Presiden Abbas ke Jalur Gaza untuk bertemu PM Ismail Haniyeh.

Jadi, tak lagi terpecah antara Fatah dan Hamas.

Seakan-akan, Palestina terbagi antara 2 negara bagian yaitu West Bank ( Tepi Barat ) dan Gaza Strip ( Jalur Gaza ).

Palestina ya Palestina.

Palestina memang harus menjadi satu kesatuan yang utuh tak terpisahkan.

Solid.

Jangan lagi terpecah dua secara berkepanjangan.

Walaupun kalau mau jujur, niat dari Presiden Abbas membangun “koalisi persatuan” antara Fatah dan Hamas akan sulit diwujudkan dalam panggung politik yang riil.

Tingginya tingkat militansi yang kuat melekat dalam diri Hamas, akan menjadi beban bagi koalisi persatuan itu di kemudian hari.

Dan jika itu sudah menjadi beban politik maka konsekuensinya adalah segala tindak-tanduk Hamas yang kerap kali membuka ruang konfrontasi dengan negara tetangganya yaitu Israel, mau tak mau harus menjadi beban politik bagi Presiden Abbas dan kabinet koalisi persatuan yang diimpikannya.

Abbas memang harus mendapat hormat dan penghargaan yang tinggi.

Ia menunjukkan upaya yang serius untuk melakukan terobosan-terobosan yang sangat penting untuk Palestina.

Abbas memang figur yang kuat dan sangat sentral dalam proses perdamaian ini.

Dia yang terbaik untuk menjadi pemimpin di Palestina selama ini.

Tapi sayang, pertemuan Presiden Abbas dan Hamas di akhir pekan inipun sebenarnya terlaksana di saat suasana masih sangat panas antara Hamas dan Israel.

 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat memimpin rapat kabinetnya pada hari Minggu, 27 Maret 2011. Dalam pernyataannya, PM Netanyahu mengumumkan bahwa terhitung hari Minggu (27/3/2011) telah dilakukan penempatan IRON DOME atau sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian selatan Israel. Tetapi Netanyahu menjelaskan bahwa IRON DOME ini belum bisa melindungi setiap rumah, sekolah dan basis pertahanan di Israel secara keseluruhan. Pemerintah Israel, lanjut PM Netanyahu, memang menyadari bahwa penempatan IRON DOME ini bukan merupakan solusi yang komprehensif, mengingat tingginya ancaman yang diterima Israel dari Pihak Hamas. Netanyahu menambahkan bahwa tingginya ancaman dari HAMAS, hanya bisa dihadapi dengan kombinasi antara tindakan ofensif dan pencegahan dengan langkah-langkah pertahanan. Netanyahu juga mengatakan bahwa Hamas bertanggung jawab atas segala sesuatu yang selama ini mereja tembakkan dari Jalur Gaza ke arah Israel.

 

Terhitung hari Minggu (27/3/2011) ini, Israel Defense Force atau IDF mendapat perintah dari Departemen Pertahanan Israel untuk memasang Sistem Penangkal Roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian Selatan Israel yang ditujukan oleh mendeteksi dan menangkal semua roket atau mortar yang dikirimkan terus menerus dari pihak Hamas.

Penempatan sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA ini, masih dalam tahap pengujian selama beberapa minggu mendatang.

Rencana pemasangan sistem pertahanan roket ini, pertama kali dicetuskan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu seusai menerima kunjungan dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang datang berkunjung ke Israel hari Jumat (25/3/2011) lalu.

Gates berkunjung ke Israel dan Palestina, menjelang memasuki masa pensiunnya sebagai orang nomor satu di Pentagon ),

Seperti yang diberitakan oleh Voice of America pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Pemerintah Israel memutuskan akan memasang sistem pertahanan roket yang mahal sebagai tanggapan atas meningkatnya serangan mortir dan roket baru-baru ini ke Israel selatan dari Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.

Sistem pencegat yang disebut “Iron Dome” atau Kubah Besi itu mampu menembak jatuh roket-roket yang ditembakkan dalam jarak lima sampai 70 kilometer.

Keputusan Israel itu menyusul janji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hari Jumat bahwa pemerintahnya siap bertindak dengan “kekuatan besar” untuk menghentikan serangan roket dari Gaza.

Puluhan roket dan mortir telah ditembakkan di perbatasan Israel-Gaza dalam seminggu ini. Militer Israel membalas dengan serangan udara, menjadikannya peningkatan kekerasan paling serius sejak berakhirnya Perang Gaza dua tahun lalu.

Ini adalah sinyalemen yang sangat kuat dari Israel bahwa mereka sudah kehilangan kesabaran.

Bisa dispekulasikan bahwa pemasangan sistem penangkal roket itu hanya sebagian kecil dari serangkaian panjang tindakan-tindakan yang sangat sistematis dari pihak militer Israel untuk mengantisipasi semua bentuk ancaman pada wilayah terorial mereka.

 

UN Sec.Gen Ban Ki-moon

 

Dan seiring dengan terlaksananya pertemuan antara Presiden Abbas dengan Hamas, tercetus juga keinginan dari Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Jadi ternyata, atmosfir perang tak hanya terjadi di Libya.

Gejala awal dari peperangan baru antara Israel dan Hamas sudah mulai tampak jelas di mata dunia.

Hamas juga meminta perhatian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations) untuk secara serius melindungi kalangan sipil di Jalur Gaza dari ancaman serangan militer Israel.

Pertanyaannya, jika Hamas meminta perlindungan dari PBB, maka bukankah hal yang sama juga bisa diminta oleh pihak Israel kepada PBB ?

Sama saja, Israel juga mendapat serangan militer dari Hamas.

Tak cuma sekedar gertak sambal, tindakan provokasi yang berbentuk kriminalitas yang sangat serius dan aksi teror bom juga sudah dialami oleh Israel dalam 2 pekan terakhir.

Pembunuhan terhadap satu keluarga keturunan Yahudi di kawasan Itamar ( Nablus) dan serangan bom di sebuah halte bis di Yerusalem.

Begitu juga serangan balasan dari Israel, sedang terus dilakukan ( dengan dilengkapi oleh pemasangan sistem penangkal roket ).

Kembali pada masalah tawaran Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Satu hal yang harus diingat oleh Hamas bahwa memanasnya situasi terakhir selama 2 pekan terakhir ini bukan sekedar kontak senjata antara sayap militer Hamas dengan pihak militer Israel.

Pembunuhan yang terjadi di Itamar ( Itamar Killings), tak menggunakan senjata api yang canggih. Sebab pembunuhan itu terjadi dengan menggunakan senjata konvensional yaitu senjata tajam berupa pisau untuk menikami secara sadis sepasang suami isteri dan 3 orang anak Yahudi.

Tak ada senjata api disitu.

Tak ada bom.

Tak ada misil.

Sangat konvensional !

Cukup dengan menggunakan pisau, satu keluarga Yahudi mati dibunuh secara sadis.

Disinilah permasalahan yang sebenarnya !

Lalu, masuk pada serangan bom yang meledakkan sebuah halte bis di Yerusalem beberapa hari lalu.

Itu menewaskan satu warga asing yaitu seorang perempuan misionaris berkewarganegaraan Skotlandia.

Posisi Israel menjadi diatas angin terkait serangan bom di Yerusalem.

 

Kelompok Kwartet Untuk Urusan Timur Tengah ( dari kiri ke kanan ) : Tony Blair mewakili Inggris, Hillary Clinton mewakili Amerika Serikat, Sergei Lavrov mewakili RUSIA, Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan Chaterine Ashton sebagai Ketua Komisi Luar Negeri pada UNI EROPA

 

Sebab PBB dan komunitas internasional mau tak mau harus mengutuk serangan bom di Yerusalem beberapa hari lalu.

Disaat Hamas meminta PBB melindungi warga sipil di Jalur Gaza, faktanya warga sipil ( termasuk warga asing yang bergerak di bidang keagamaan ) jadi korban aksi teror bom.

Tetapi kalau mau jujur, serangan bom di Yerusalem itu BELUM TENTU juga merupakan perbuatan dari Hamas.

Sebab sampai ini, belum ada bukti bahwa ledakan bom itu hasil perbuatan Hamas.

Barangkali, patut dapat diduga ada PIHAK KETIGA yang ingin mengadu-domba dan lebih memperparah situasi ( dan konfrontasi ? ) antara Israel dan Hamas.

Sebab kalau dilihat dari rangkaian serangan mortar dari Hamas yang terjadi selama ini kepada Israel, biasanya mereka akan mengincar dan melakukan serangan-serangan mortar / roket ke wilayah perbatasan.

Sangat jarang bisa menembus masuk sampai ke dalam arah wilayah Israel.

Jadi, waspadailah juga PIHAK KETIGA.

Sebenarnya kalau mau jujur, tak akan mungkin Hamas bisa lalu lalang didalam wilayah Israel.

Diluar pihak Israel sendiri, yang bisa masuk ke dalam wilayah Israel adalah wisatawan dan kalangan perwakilan diplomatik yang memang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Sehingga, ada kemungkinan PIHAK KETIGA yang menciptakan provokasi untuk memperburuk dan memperparah situasi antara ISRAEL dan PALESTINA.

Tetapi dugaan tentang keterlibatan HAMAS dibalik aksi teror bom di hal bis Yerusalem baru-baru ini, tetap harus terbuka lebar karena selama ini yang patut dapat diduga sangat agresif melakukan berbagai serangan ke Israel adalah PIHAK HAMAS.

Tapi ya, sekali lagi, tudingan tidak bisa begitu saja diarahkan kepada PIHAK HAMAS.

Untuk menghajar Israel yang dianggap sangat “tak bisa diatur” oleh kekuatan asing manapun, bisa dispekulasikan bahwa satu-satunya cara yang dianggap paling ampuh adalah memaksa Israel untuk emosi.

Lalu menyerang balik secara sangat amat keras ( dan brutal ) ke pihak Hamas.

Karakter Israel yang sangat tak bisa diusik sedikitpun untuk urusan keamanan, menjadi salah satu yang barangkali menjadi pertimbangan.

Bagaimana caranya agar Israel terpancing untuk marah ?

Bagaimana caranya agar Israel menyerang dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat ke arah sipil di Gaza ?

Bagaimana caranya agar setelah serangan militer yang spektakuler itu, akan sangat banyak kalangan sipil di Gaza yang mati sia-sia ?

Jika semua itu sudah terjadi, jangan heran misalnya ada negara tertentu yang meminta agar Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat.

Dan kalau perlu mengeluarkan Resolusi ( yang ke sekian kalinya ) untuk Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kanan, berjabatan tangan dengan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam sebuah pertemuan di New York tanggal 22 September 2009

 

Inilah yang harus sangat diingat oleh Israel, kendalikan semua situasi dan perangkat militer dalam menyikapi perkembangan situasi dan keamanan antara Israel dan Hamas.

Jadi, kalau Hamas menawarkan gencatan senjata, satu hal yang harus dipertanyakan, sebenarnya kapankah peperangan itu dimulai ?

Apakah memang peperangan terbaru ini yang memang didahului oleh pihak Israel ?

Apakah situasi yang sangat buruk akhir-akhir ini merupakan inisiatif dari pihak Israel ?

Apakah pembunuhan brutal di Itamar ( Itamar Killings ) memang merupakan bagian dari peperangan antar kekuatan militer ?

Sebab, jika menggunakan kata GENCATAN SENJATA maka dalam bayangan setiap orang adalah situasi perang yang sangat tak terkendali.

Tawaran gencatan senjata dari Hamas kepada Israel, memang harus direspon oleh pihak Israel.

Israel, apa jawabanmu ?

Jawablah tawaran gencatan senjata dari pihak Hamas …

Semua pihak menginginkan agar situasi politik dan keamanan di Israel dan Palestina, sama-sama aman, kondusif dan terkendali.

Jangan ada lagi anarkisme.

Jangan ada lagi brutalisme.

Jangan ada lagi kriminalisme.

Jangan ada lagi terorisme.

 

Perdana Menteri Palestina Salam Fayaad dan Presiden Mahmoud Abbas

 

Mahmoud Abbas menemui Hamas. Hamas tawarkan gencatan senjata pada Israel.

Israel, ( sekali lagi kalian ditanya ), apa jawabanmu terhadap tawaran gencatan senjata itu ?

Kalau dari perkiraan akal sehat maka tawaran ini akan ditampik oleh Israel.

Sebab Israel memang sudah sangat marah karena warganya dibunuh dan keamanan di dalam negeri mereka juga terancam terus menerus.

Tapi, pikirkanlah kepentingan yang lebih besar, daripada hanya sekedar marah dan marah, sebagai wujud dari rasa geram yang berkepanjangan.

Biarkan PBB dan komunitas internasional melihat serta menilai, apakah betul brutalitas yang berisi seribu satu macam tindakan anarkisme itu,  hanyalah melulu didominasi oleh pihak Israel semata ?

Jawablah Israel, jawablah (rencana) tawaran Hamas untuk gencatan senjata.

Jawablah dengan bahasa diplomatik yang terukur dan terarah, fokus pada itikat baik dan keseriusan melanjutkan peta jalan menuju perdamaian yang sesungguhnya antara Israel dan Palestina.

Dahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu menyelamatkan dan melanjutkan proses damai antara Israel dan Palestina.

Jangan menjawab dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat untuk menggempur Jalur Gaza !

Jangan, sekali lagi jangan !

Sebab itu akan sangat membahayakan kalangan sipil tak bersenjata ( dan disinilah letak keberuntungan Hamas, bahwa mereka berada diantara kalangan sipil tak bersenjata di Jalur Gaza tetapi dari Jalur Gaza mereka bisa melempari Israel dengan sedemikian banyak roket dan mortar ).

 

 

Baik Israel, maupun Palestina, harus sama-sama bersedia memberikan pengakuan atas keberadaan dari negara tetangga mereka masing-masing.

Israel mengakui bahwa Palestina adalah sebuah negara yang berdaulat.

Dan Palestina juga mengakui bahwa Israel adalah sebuah negara yang berdaulat.

Mungkinkah ini terjadi ?

Dunia menunggu jawaban dari Israel dan Palestina …

Sudah terlalu lama komunitas internasional menunggu perdamaian itu tercapai, sehingga memang perlu bagi semua pihak untuk berperan serta membukakan jalan yang selebar-lebarnya bagi Palestina untuk memproklamirkan diri mereka sebagai sebuah negara.

Tak ada alasan untuk tidak mendukung berdirinya Negara Palestina.

Sudah sangat lama mereka menunggu kesempatan itu terjadi.

Tetapi hendaklah agenda yang sangat penting terkait berdirinya Negara Palestina ini, tak perlu sampai harus mengorbankan banyak hal. Dan tak perlu menistakan atau mendorong-dorong Israel agar mereka masuk dalam perangkap permainan yang bertujuan menciptakan perang baru.

Jadi, untuk yang ke sekian kalinya, Hamas dan Israel sama-sama dihimbau untuk menahan diri dan tidak terus menerus saling serang antar kekuatan militer.

Dan kalau mau jujur, tak dibutuhkan istilah gencatan senjata dalam konteks Israel dan Hamas.

Yang dibutuhkan disini adalah kesadaran dan kemampuan dari masing-masing pihak untuk saling menghormati dan saling menghargai.

Jangan menyerang, jika tidak ingin diserang.

Dan jangan lakukan, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

 

 

(MS)

 
Comments Off on Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Israeli Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo : "Hamas has lost control of Gaza Strip !"

Israeli Defense Minister Ehud Barak and IDF Chief of Staff Lieutenant General Benny Gantz meet with IDF officials, March 25, 2011."

 

 

Israel, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM) — According to Commander of Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo, Hamas is fighting for power over other organizations in the Gaza Strip. On Sat. evening (Mar. 26) two Qassam rockets hit Israel, IDF Website reported.

Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo, stated that, “Hamas has lost control of other organizations within the Gaza Strip. There is anarchy among them and within Hamas itself. There’s no authority over any facet and it’s difficult for Hamas to regain control.”

Maj. Gen. Russo made the statement in a visit to the Eshkol Regional Council where a Qassam rocket fell on Saturday night (Mar. 26), causing serious damage to the house it landed on.

According to Galatz (Army Radio) Maj. Gen. Russo added that, “Hamas’ power is waning since Operation Cast Lead and its memory of the operation fading. I hope it regains its composure soon.”

When asked about the possibility of another operation in the Gaza Strip he explained, “It depends on the other side. We are trying to enable residents of southern communities to live as normally as possible.”

In the backdrop, news from the Gaza Strip said Hamas can no longer enforce its authority over other organizations continuing to fire at Israel, despite the organization’s claims that it is trying to stop the firing.

On Saturday night two Qassam rockets were fired into Israel. One of these rockets, as stated earlier, caused serious damage to a private home in the Eshkol Regional Council. An additional rocket fell in an open territory causing no injury or damage.

GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo

GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo : “There is anarchy in Gaza”

As reported by Israeli media HAARETZ on Saturday (27/3/2011),  GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo said Saturday that Gaza is in anarchy, warning that neither Hamas nor any other group is in control of the area.

Russo made the comments during a visit to the western Negev home which was badly damaged from a Qassam strike overnight, following recent cross-border escalation between Israel and Gaza.

“There is anarchy in Gaza, inside Hamas and inside the other [militant] organizations. No group exerts control there. It’s difficult for Hamas to turn back the clock,” said Russo.

Asked if the IDF would launch a large ‘Operation Cast Lead 2’ type of military operation in Gaza as a response, Russo said that it is not dependent upon Israel but upon the other side. “We are trying to afford citizens of the south normal lives, and these aren’t exactly normal lives,” he said. “We will bring these citizens peace and quiet. That is our aim.”

Russo added, “The situation has eroded since Cast Lead. The other side is starting to get forgetful. I hope that they get a hold of themselves.”

A Qassam rocket landed and exploded outside a family home in the Eshkol Regional Council in the western Negev region overnight Friday. No casualties were reported as a result of the rocket, but the family home suffered considerable damage.

A second rocket fell in an open field nearby, causing no damage to people or property.

The rocket attacks came hours after Defense Minister Ehud Barak and IDF Chief of Staff Lt. Gen. Benny Gantz announced the activation of the Iron Dome defense system in the south of the country. Barak said he approved the deployment of the system as an operational experiment and the IDF has said it will be operational in a few days. (*)

 
Comments Off on Israeli Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo : "Hamas has lost control of Gaza Strip !"

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Gaza militants discuss 'possible truce' with Israel

An Israeli man inspects a damaged house hit by a rocket fired by Palestinian militants from the Gaza Strip. (*)

GAZA CITY, Palestinian Territories, March 27, 2011 ( KATAKAMI.COM / Channel News Asia / AFP ) : Palestinian factions met in the Gaza Strip on Saturday to discuss renewing a de facto truce with Israel after a week of bloody confrontations, militants attending the meeting said, Channel News Asia reported.

Prime Minister Benjamin Netanyahu had said on Friday that Israel was ready to act with “great force” in response to the week’s rocket and mortar attacks, which led to retaliatory Israeli strikes killing eight Palestinians.

One Palestinian faction member said the Gaza meeting would probably “stress again a commitment to a field truce at the moment the Israeli occupation commits to it.”

A source close to the meeting said “the issue of returning stability and calm to Gaza after a series of Israeli aggressions will be discussed.”

Hamas already pledged on Wednesday to “to restore calm” in the coastal enclave.

“We confirm that our stance in the government is set on protecting the stability,” Hamas spokesman Taher al-Nunu said in a statement.

“We will work to restore the field conditions that were prevalent over the last few weeks.”

And Ismail Haniya, the Hamas premier in Gaza, said he had been making contacts with other factions “with a view to Gaza avoiding new confrontations with the Israeli occupation.”

In particular, he said he had spoken with Ramadan Shallah, the Damascus based chief of Islamic Jihad, which has claimed responsibility for many of the hundreds of projectiles fired on Israel in the past week.

Netanyahu said Israel had been “subjected to bouts of terror and rocket attacks” and that “we stand ready to act with great force and great determination to put a stop to it.”

“Any civilised society will not tolerate such wanton attacks on its civilians,” he said.

Friday was calm, but Palestinian militants fired two rockets from Gaza into Israel overnight and damaged a house, where Israeli media said eight sleeping people were unharmed.

Also an explosion seriously damaged a soft drinks factory in the Zeitun neighbourhood of Gaza city, Palestinian security officials said, blaming an Israeli tank shell.

But the military said none of its forces were operating in the area at the time.

As Netanyahu spoke on Friday, Defence Minister Ehud Barak toured the Gaza border with army chief Lieutenant General Benny Gantz saying calm seemed to be returning to the area.

And he indicated that if the rocket attacks stopped, Israel would also halt its strikes into Gaza.

“We don’t intend to let the terror organisations again disturb the order but we will do all we need to to return the (military) activity to the border line itself,” he said.

In other developments, Palestinian president Mahmud Abbas held positive talks in the West Bank city of Ramallah with Hamas officials to discuss efforts to reconcile his Fatah party with Hamas, sources on both sides said.

Last week, Abbas responded favourably to an invitation from Hamas to engage in talks that would end the split and lead to the formation of an interim government.

Hamas and Fatah have been at loggerheads since the early 1990s. Tensions boiled over in 2007, when the enmity erupted into bloodshed that saw the Islamists kick their secular rivals out of Gaza.

Since then, Gaza has been effectively cut off from the West Bank, which is under the control of Fatah, and repeated attempts at reconciliation between the groups have led nowhere.

The disunity of the Palestinians has prevented them from taking a common stance in peace talks with Israel, which are now off the table.

In a visit to Israel this week, US Defence Secretary Robert Gates said Washington firmly backed Israel’s right to respond both to the rocket fire and the Jerusalem bombing, which he described as “repugnant acts.”

But he suggested Israel should tread carefully or risk derailing the course of popular unrest sweeping Arab and Muslim countries in the Middle East.

Gates pressed Israeli and Palestinian leaders to take “bold action” for peace despite soaring tensions, saying political upheaval in the region offered an opportunity.

Israel’s leaders have appeared reluctant to be dragged into another bloody war with Hamas, especially as they lack international support for any new offensive on Gaza. (*)
 
Comments Off on Gaza militants discuss 'possible truce' with Israel

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: ,

President Mahmoud Abbas meets Hamas Leaders in Ramallah

 

 

RAMALLAH, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM / Ma’an News Agency / AFP) — President Mahmoud Abbas held talks Saturday with Hamas leaders in Ramallah, in a meeting both sides described as “positive.”

As reported by Ma’an News Agency on Saturday, Aziz Dweik, the Hamas head of the Palestinian legislature, said the meeting was “highly positive” and that “practical moves on the ground will taken in the coming days” regarding Abbas’ proposed visit to Gaza to make a unity deal.

“This visit has become the people’s demand and must be answered,” Dweik said.

He added that he delivered a letter to Abbas from the delegation, but did not reveal its contents.

Azzam Al-Ahmad, president of Fatah’s parliamentary bloc, said without elaborating that “the meeting was indeed positive in spite of some negative statements from the brothers in Hamas about what the president announced.”

Al-Ahmad said the meeting was the first practical step taken by Hamas toward facilitating Abbas’ visit.

Meanwhile, Palestinian factions meeting in Gaza City expressed their support for the landmark meeting in Ramallah, the first between Abbas and Hamas in over two years.

“The attendees support the initiative of Prime Minister Ismail Haniyeh to invite President Mahmoud Abbas to visit Gaza, and Abbas’ response, and the meeting Abbas held earlier with Aziz Dwiek,” said Osama Al-Haj Ahmed of the Popular Front for the Liberation of Palestine.

However, some Fatah officials downplayed the importance of the meeting, saying Hamas’ official decision is made in Gaza and by its leadership abroad.

During the meeting, Abbas discussed his initiative to end the division between the Fatah-led Palestinian Authority in the West Bank and the Hamas-run government in Gaza.

On March 16, the president accepted an invitation from Gaza premier Ismail Haniyeh to visit the coastal enclave in the midst of mass youth protests calling for national unity.

But Abbas said he would go to make a deal, not to discuss one. Haniyeh had invited the president for talks.

Abbas said the purpose of the landmark trip would be to “end the division and form a government of independent national figures to start preparing for presidential, legislative and [Palestinian] National Council elections within six months.”

He has not set foot in the Gaza Strip since Hamas ousted Fatah from the enclave in near civil war in 2007.

The president said Palestinians would not be able to end Israel’s occupation or hold elections without achieving national unity first.

Since 2007, Gaza has been effectively cut off from the West Bank, which is under the control of Fatah, and repeated attempts at reconciliation have led nowhere.

Tens of thousands of Palestinians took to the streets of Gaza and the West Bank on March 15 to demand that the two factions end their long-running rivalry.  (*)

 

 
Comments Off on President Mahmoud Abbas meets Hamas Leaders in Ramallah

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , ,