RSS

Tag Archives: IDF

Israeli Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo : "Hamas has lost control of Gaza Strip !"

Israeli Defense Minister Ehud Barak and IDF Chief of Staff Lieutenant General Benny Gantz meet with IDF officials, March 25, 2011."

 

 

Israel, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM) — According to Commander of Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo, Hamas is fighting for power over other organizations in the Gaza Strip. On Sat. evening (Mar. 26) two Qassam rockets hit Israel, IDF Website reported.

Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo, stated that, “Hamas has lost control of other organizations within the Gaza Strip. There is anarchy among them and within Hamas itself. There’s no authority over any facet and it’s difficult for Hamas to regain control.”

Maj. Gen. Russo made the statement in a visit to the Eshkol Regional Council where a Qassam rocket fell on Saturday night (Mar. 26), causing serious damage to the house it landed on.

According to Galatz (Army Radio) Maj. Gen. Russo added that, “Hamas’ power is waning since Operation Cast Lead and its memory of the operation fading. I hope it regains its composure soon.”

When asked about the possibility of another operation in the Gaza Strip he explained, “It depends on the other side. We are trying to enable residents of southern communities to live as normally as possible.”

In the backdrop, news from the Gaza Strip said Hamas can no longer enforce its authority over other organizations continuing to fire at Israel, despite the organization’s claims that it is trying to stop the firing.

On Saturday night two Qassam rockets were fired into Israel. One of these rockets, as stated earlier, caused serious damage to a private home in the Eshkol Regional Council. An additional rocket fell in an open territory causing no injury or damage.

GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo

GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo : “There is anarchy in Gaza”

As reported by Israeli media HAARETZ on Saturday (27/3/2011),  GOC Southern Command Maj. Gen. Tal Russo said Saturday that Gaza is in anarchy, warning that neither Hamas nor any other group is in control of the area.

Russo made the comments during a visit to the western Negev home which was badly damaged from a Qassam strike overnight, following recent cross-border escalation between Israel and Gaza.

“There is anarchy in Gaza, inside Hamas and inside the other [militant] organizations. No group exerts control there. It’s difficult for Hamas to turn back the clock,” said Russo.

Asked if the IDF would launch a large ‘Operation Cast Lead 2’ type of military operation in Gaza as a response, Russo said that it is not dependent upon Israel but upon the other side. “We are trying to afford citizens of the south normal lives, and these aren’t exactly normal lives,” he said. “We will bring these citizens peace and quiet. That is our aim.”

Russo added, “The situation has eroded since Cast Lead. The other side is starting to get forgetful. I hope that they get a hold of themselves.”

A Qassam rocket landed and exploded outside a family home in the Eshkol Regional Council in the western Negev region overnight Friday. No casualties were reported as a result of the rocket, but the family home suffered considerable damage.

A second rocket fell in an open field nearby, causing no damage to people or property.

The rocket attacks came hours after Defense Minister Ehud Barak and IDF Chief of Staff Lt. Gen. Benny Gantz announced the activation of the Iron Dome defense system in the south of the country. Barak said he approved the deployment of the system as an operational experiment and the IDF has said it will be operational in a few days. (*)

Advertisements
 
Comments Off on Israeli Commander of the Southern Command, Maj. Gen. Tal Russo : "Hamas has lost control of Gaza Strip !"

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Presiden Rusia Dmitry Medvedev berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Israel yang datang berkunjung ke Rusia, Kamis 24 Maret 2011.

 

Jakarta ( 25/3/2011) —- Ibarat api yang percikannya sudah mulai menyambar ranting-ranting pohon di hutan belantara, saat ini situasi antara Israel dan Palestina ( khususnya kubu Hamas yang menguasai Jalur Gaza ) sudah mulai membara.

Panas.

Menyala.

Jika boleh memakai ilustrasi yang sangat sederhana, situasinya kini memang sudah menyerupai api yang siap membakar “hutan belantara” tadi. Jika api itu tak cepat dipadamkan maka api akan menyambar kemana-mana. Lalu akhirnya, akan membakar hutan itu secara keseluruhan. Jika sudah terjadi kebakaran yang hebat, maka apa saja akan dilahap oleh sang api.

Meningkatnya eskalasi keamanan antara Israel dan Hamas sudah pantas untuk diwaspadai.

Saling serang dan saling balas-membalas, sedang jadi tren yang kuat antara kekuatan militer Israel dan Hamas.

Tampaknya, Hamas mulai menguasai watak dan kebiasaan Israel yang tak bisa diprovokasi.

Sedikit saja Israel diusik, maka mereka akan membalas.

Dan kalau Israel sudah membalas, maka akan mudah menciptakan suasana yang sangat panas membara seperti saat ini.

Tidak biasa-biasanya, provokasi Hamas sangat berkepanjangan ( ibarat kalimat yang tidak memerlukan titik dan koma. Main hantam saja. Sehingga siapapun yang membaca kalimat itu akan jadi ngos-ngosan. Kehabisan nafas).

 

Inilah Keluarga UDI FOGEL yang dibunuh secara brutal di Itamar, Nablus : Sang ayah UDI FOGEL (36 tahun), isterinya Ruth ( 35 tahun) dan ketiga anak mereka : Yoav ( 11 tahun), Elad ( 4 tahun ) dan Hadas ( 3 bulan ). Mereka dibunuh secara brutal tanggal 11 Maret 2011. Kasus pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) merupakan sebuah tragedi pembunuhan yang sangat brutal dan mengerikan sekali.Mereka sekeluarga mati ditikam sampai di atas tempat tidur mereka. Ada dua anak lain dari keluarga UDI FOGEL ini yang juga di rumah tetapi mereka tidak ikut celaka. Pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) ini bisa bisa diketahui saat anak perempuan tertua dalam keluarga itu (Tamar) tiba di rumahnya. Pembunuhan ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan komunitas internasional lainnya.

 

Berawal dari terbunuhnya satu keluarga Yahudi beberapa minggu lalu di kawasan Itamar. Sepasang suami isteri dan 3 orang anaknya, habis dibantai secara sadis.

Tragedi ini saja sudah hampir dapat dipastikan memancing kemarahan yang sangat dalam dari Pemerintah dan rakyat Israel.

Israel membalas.

Lalu disambung lagi dengan ledakan bom yang terjadi di Yerusalem hari Rabu ( 23/3/2011). Satu orang warga asing mati akibat ledakan itu dan korban luka juga sangat banyak.

Tak kurang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki-moon dan komunitas internasional lain mengutuk serangan bom di Yerusalem.

Bom itu yang meledak di hari keberangkatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Rusia.

Bibi memang tidak membatalkan kunjungannya ke Rusia.

Ia hanya menunda selama beberapa jam jadwal keberangkatannya ke Rusia.

Dan hari Kamis (24/3/2011), Bibi Netanyahu telah menuntaskan agenda kunjungannya ke Rusia dengan bertemu dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Bisa jadi PM Netanyahu merasa galau sepanjang ia menjalani agenda kunjungannya ke Rusia.

Sebab situasi di negaranya sedang tak “nyaman” akibat ledakan bom sebuah halte bis di Yerusalem.

Memang korbannya tidak terlalu mengerikan tetapi ledakan bom itu seakan melukai perasaan dan martabat Israel sebagai sebuah bangsa.

Satu orang perempuan warga negara Inggris mati akibat ledakan bom itu dan sejumlah besar lainnya menjadi korban luka.

Korban tewas tersebut adalah MARY GARDNER ( 55 tahun ), ia adalah MISIONARIS yang sehari-hari bekerja sebagai penterjemah injil. Tetapi MARY, yang merupakan keturunan SKOTLANDIA ini, juga sedang menjalani pendidikannya di HEBREW UNIVERSITY di Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ( duduk di tengah ), didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak dalam acara pergantian Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), dari Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi ( duduk paling kiri ) kepada Letnan Jenderal Benny Gantz ( berdiri ), di Yerusalem, 14 Februari 2011.

 

Siapapun yang saat ini bicara dari pihak Israel ( entah itu Menteri Pertahanan Ehud Barak, Menteri Luar Negeri Avigdor Liebermen atau Wakil Menteri Luar Negeri Danny Ayalon), semua akan sama nuansa dan nadanya dalam pernyataan-pernyataan mereka saat ini yaitu semua menyatakan kemarahan Israel atas tantangan dan provokasi fisik dari pihak Hamas.

Pertanyaannya sekarang, apakah Israel mau mengikuti gendang permainan Hamas ?

Waspadai trik yang sengaja dibuat sangat berani seperti ini yaitu menyerang, menyerang dan terus menyerang Israel.

Supaya sampai pada satu titik tujuan yang sesungguhnya yaitu membuat Israel tiba pada puncak kemarahan mereka yang tak akan bisa dikendalikan lagi.

Jika kemarahan Israel sudah tak mungkin lagi dikendalikan maka jangan heran jika perang baru ( yang menyamai atau bahkan jauh lebih parah dari Perang Gaza pada periode Desember 2008 – Januari 2009 ) akan terulang kembali dalam format yang sama.

Perang Gaza yang sangat mengerikan itu, dipicu atas teror HAMAS yang mengirimkan ratusan mortar ke wilayah Israel persis di MALAM NATAL tanggal 24 Desember 2008.

Bayangkan, di saat semua umat Kristani sedang hening mengarahkan hati menyambut datangnya NATAL, ratusan MORTAR menghujani wilayah Israel.

Israel tak  membalas di saat yang sama. Sehari duahari mereka diam.

Tapi dua hari setelah teror mortar di MALAM NATAL itu, Israel mengamuk menyerang ke arah Jalur GAZA dengan kekuatan militer penuh yang menewaskan begitu banyak warga Palestina di jalur Gaza.

Format peperangan yang menempatkan Israel sebagai agresor kejam yang tak akan berhenti menumpas Hamas dan warga sipil di Jalur Gaza, akan terulang kembali kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan kemarahan mereka.

 

Presiden Israel Shimon Peres ( kiri ) didampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ( tampak samping ) dalam upacara pemakaman Ibu Negara Sonia Peres yang meninggal dunia tanggal 21 Januari 2011 di Ben Shemen, Israel

 

Itu sebabnya, Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus sangat hati-hati merespon situasi belakangan ini.

Maukah Israel masuk dan mengikuti gendang irama lawan ?

Maukah Israel diarahkan untuk terus terpancing, tertantang dan terprovokasi emosinya sehingga akhirnya ( patut dapat diduga ) memang diharapkan menumpas habis pihak lawan ?

Cepatlah menyadari indikasi seperti ini …

Jangan mau mengikuti gendang irama lawan !

Kendalikan semua perangkat militer dan maksimalkan semua jalur diplomatik Israel ( terutama di Perserikatan Bangsa Bangsa ).

Jika memang terjadi lagi gangguan keamanan yang sangat serius, tempuhlah jalur diplomatik di tingkat internasional.

Kendalikan, sekali lagi, kendalikan diri secara baik !

Dalam sebuah taktik perang, kedok yang paling jitu untuk menyembunyikan agenda-agenda dan operasi yang sesungguhnya, memang dibutuhkan umpan pemancing.

Jangan mau dipaksa untuk menjadi agresor yang ujung-ujungnya akan mendapat cap sebagai pembantai kalangan sipil.

Disinilah dibutuhkan kematangan, ketenangan dan sikap yang bijaksana dari Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Panasnya situasi di kawasan Timur Tengah, jangan sampai menjalar ke Israel dan Palestina.

Hati-hati dengan taktik dan jaring perangkap yang sedang dipasang.

Untuk membuat Israel bisa menjadi sangat garang, buas dan tak kenal ampun dalam membabat habis musuh-musuhnya, tampaknya memang sengaja dipancing dengan satu dan dua umpan provokasi.

Sekali lagi, jangan mau mengikuti irama gendang permainan lawan.

Memang sangat menyakitkan hati jika ada rangkaian provokasi fisik yang sangat serius ditujukan pada Israel.

Kalau tak dibalas, rasanya belum puas dan tuntas.

Tetapi kalau dibalas, maka nyanyian “kutukan” akan berkumandang dari komunitas internasional.

Waspadai juga pihak terselubung yang barangkali saja menjadi aktor intelektual dari semua kejadian ini.

Sengaja didorong dan digosok-gosok situasi, “Ayo serang Israel, ayo serang lagi, terus, ayo terus, bikin serangan yang lebih spektakuler !”.

 

(Tampak belakang dari paling kiri ) : Raja Abdullah dari Kerajaan Yordania, Presiden Mesir Hosni Mubarak, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Barack Obama seusai melakukan konferensi pers di Gedung Putih, 1 September 2010

 

Siapa bilang tidak mungkin ada pihak ketiga yang menikmati memanasnya hubungan antara Israel dan Palestina ?

Sebab barangkali saja, dianggap memang tidak mungkin alias sulit membuat Israel menjadi kacau balau, seperti yang terjadi di sejumlah negara yaitu sangat babak belur situasi politik dan keamanannya sejak 3 bulan terakhir ini di kawasan Timur Tengah.

Sehingga patut dapat diduga, satu-satunya cara yang dianggap sangat manjur untuk bisa memojokkan Israel di mata dunia internasional adalah memancing dulu agar Israel bertindak brutal.

Israel harus dibuat sangat brutal dulu.

Kalau Israel sudah murka semurka-murkanya ( apalagi kalau angka kematian di pihak sipil sudah sangat banyak ), maka tercapailah keinginan untuk bisa mencaci maki dan menyeret Israel menjadi seorang pesakitan yang dihujat oleh komunitas internasional.

Jadi kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan semua kekuatan militernya, pihak lawan yang akan bertepuk tangan gembira.

Senang kalau misalnya taktik mereka berhasil.

Senang kalau misalnya agenda menghidupkan koor atau paduan suara komunitas internasional untuk mengutuk Israel, akan segera tercapai.

Dan bagi siapapun yang bermain di belakang layar agar situasi antara Israel dan Hamas semakin memanas, janganlah memancing di air keruh.

Biarkan proses damai itu dilanjutkan dan tercapai dengan hasil yang sangat memuaskan.

Jangan justru proses damai antara Israel dan Palestina justru sengaja dibuat agar jalan di tempat ( atau malah berjalan mundur ).

Jangan menyerang, kalau tak ingin diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Janganlah menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling mahir mengusung nilai-nilai perdamaian ( tetapi sebenarnya di belakang layar menjadi provokator ulung yang mengaca-acak situasi politik dan keamanan dari negara lain ).

Jangan pojokkan Israel.

Bahkan seolah-olah mereka ini adalah sebuah  bangsa yang tidak terkendali.

Keselamatan mereka diancam secara nyata, apakah mereka harus diam ?

 

Foto dari kiri ke kanan : Kepala Staf Angkatan Darat Israel ( IDF ) Letnan Jenderal Benny Gantz, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Presiden Shimon Peres, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF Chief of Staff) Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi

 

Keselamatan rakyat mereka ( dan warga asing yang sedang berada di negara mereka ), diancam, diganggu dan dilukai secara nyata), apakah mereka harus diam ?

Sungguh dilematis saat ini posisi Israel.

Tetapi semua ini dikembalikan kepada Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, apakah anda berdua bersedia meladeni gendang permainan lawan ?

Sebaiknya, situasi ini dipelajari lagi dengan sangat hati-hati.

Waspadai agenda besar yang sedang dipasang sebagai sebuah perangkap untuk Israel.

Perangkap berbahaya yang muaranya adalah menghancurkan dan menggagalkan misi damai antara Israel dan Palestina.

Namanya juga permainan politik.

Jangan lampiaskan kemarahan secara berlebihan.

Jangan kerahkan seluruh kesiap-siagaan personil dan persenjataan militer Israel  dengan sangat maksimal dan berkekuatan penuh.

Pikirkan, pikiran semua dengan sangat bijaksana.

Sebab pengalaman adalah guru yang baik.

Belajarlah dari banyak kejadian di masa lalu yang menempatkan Israel sebagai pihak yang selalu dan selalu terpojokkan.

Jika ada satu nyawa saja dari kalangan sipil yang jadi korban ( baik itu dari pihak Israel atau Hamas dan masyarakatnya di Jalur Gaza), maka respon dari komunitas internasional akan sangat cepat menyambar bagaikan petir di siang bolong.

Jadi, waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin ( Bibi ) Netanyahu

 

Dan secara khusus kepada Perdana Menteri Bibi Netanyahu, hendaklah tidak terus menekan Hamas untuk menuntaskan rangkaian pembalasan yang sangat setimpal.

Jangan Bibi, jangan kerahkan kekuatan militer anda dengan kekuatan sangat penuh untuk membalas ke arah Hamas di Jalur Gaza.

Sekali lagi, jangan.

Tolong jangan !

Setiap kata yang anda ucapkan, hampir dapat dipastikan tidak akan anda ingkari.

Pikirkan segala sesuatunya dengan tenang.

Pikirkan dampak terburuk jika Israel terpancing dan termakan dalam emosi yang berkepanjangan.

Jika anda katakan akan menyerang dengan kekuatan militer yang penuh maka itu akan segera menjadi kenyataan.

Tapi jangan Bibi, jangan …

Kekuatan militer Israel sebenarnya sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan Hamas.

Mau diatas kertas, atau secara riil di lapangan, IDF ( militer Israel ) pasti akan sangat mudah menekan, memberangus dan memenangkan setiap bentuk pertempuran.

Mau dari darat, laut atau udara, jangan ragukan kemampuan militer Israel.

Tapi, disini ada begitu banyak warga sipil yang bisa terkorbankan alias mati sia-sia kalau peperangan baru antara Israel dan Hamas dibiarkan membuka babak baru mereka di tahun 2011 ini.

Jadi, Pemerintah Israel harus menahan diri sebab sesungguhnya ( dan sejujurnya ) kemarahan Israel sedang sangat DITUNGGU-TUNGGU oleh pihak tertentu.

 

Sayap militer Hamas

 

Dan kepada Hamas, berhentilah berteriak kepada dunia internasional untuk menekan Israel dengan dalih untuk melindungi warga sipil di Jalur Gaza !

Mengapa ?

Eh, sebelum kalian meminta Israel berhenti mengancam keselamatan warga sipil di pihak kalian, hentikanlah terlebih dahulu semua aksi TEROR dan provokasi fisik kalian kepada rakyat Israel.

Bukankah itu TEROR namanya, mengancam dan merusak rasa aman serta keamanan di wilayah orang ?

Anda merasa berhak menyerang tetapi pihak lawan tak boleh membalas menyerang ?

Harus pihak anda saja yang sah dan legal melakukan teror dan provokasi fisik ke wilayah orang ?

Lho, kalian itu siapa, kok bisa-bisanya menghajar negara orang dengan seenaknya ?

Dan ingatlah bahwa di Israel, juga terdapat begitu banyak warga asing yang berkunjung untuk kepentingan yang sifatnya relijius ( mengingat Israel adalah tanah suci bagi umat Kristiani ).

Sehingga ancaman fisik yang diarakan secara langsung ke Israel, juga mengancam warga asing yang sedang berada di sana.

Sekali lagi, jangan menyerang, kalau tak mau diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Seakan-akan, jari tangan anda hendak menunjuk ke arah muka Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu bahwa pihak mereka yang paling brutal.

Eh, tunjuk dulu muka anda sendiri, baru tunjuk muka orang lain !

Sebab segala sesuatunya memiliki unsur sebab akibat.

Hormatilah proses damai yang sedang diperjuangkan semua pihak dari komunitas internasional kepada pihak Israel dan Palestina. Jangan dirusak. Jangan dihambat. Dan jangan digagalkan.

Semua juga tahu bahwa HAMAS adalah kekuatan politik riil yang harus diakui eksistensinya di mata dunia internasional.

Tetapi sebagai kekuatan politik riil yang mendapat kepercayaan dari warga di Jalur Gaza, HAMAS harus lebih elegan dalam bersikap.

Akan jauh lebih baik, jika HAMAS merespon tawaran dari Presiden Mahmoud Abbas untuk segera mendamaikan dan menyatukan antara kubu Fatah dan Hamas.

Fokuskanlah semua perhatian dan upaya untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan antara Fatah dan Hamas.

Jangan melebar ke topik lain, apalagi sampai melakukan teror kepada negara lain.

Begitu gigih komunitas internasional mengusahakan agar perdamaian itu terwujud.

Apa yang akan terjadi, kalau ternyata semua usaha itu menjadi sebuah kesia-siaan belaka ?

Jangan lagi ada perang baru yang sangat mengerikan dan mengancam keselamatan rakyat di masing-masing pihak.

Israel dan Palestina.

Berdamailah !

 

 

 

(MS)

 
Comments Off on Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Posted by on March 25, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

PM Netanyahu: Raid on Gaza flotilla was necessary to protect Israel

JERUSALEM, ISRAEL - JANUARY 23: Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu (2R) speaks at the weekly cabinet meeting on January 23, 2011 in Jerusalem, Israel. Netanyahu said of the Turkel Commission into the nine deaths of Turkish citizens 'that IDF soldiers acted legally and in self-defense'. (Photo by Oliver Weiken - Pool/Getty Images)

Turkel Commission finds that Israel’s blockade on Gaza is legal, and that Israeli soldiers acted in self-defense during raid on a Gaza-bound ship which killed nine Turkish citizens.

Jan 23 (KATAKAMI.COM / HAARETZ) — Prime Minister Benjamin Netanyahu on Sunday expressed his satisfaction with the findings of Turkel Commission, which probed the Israel Defense Forces raid on a Gaza-bound ship last May and found that Israeli soldiers acted in accordance with international law during the operation.

“The truth is simple,” said Netanyahu. “IDF soldiers defended themselves and their country. It is not only their privilege but also their duty and the State of Israel stands behind their actions.”

Netanyahu also added that every time Israel needs to defend itself, it is charged with committing w Defense Minister Ehud Barak also lauded the Turkel Commission’s report on Sunday, saying that its findings prove Israel is a law-abiding nation.

The first part of the panel’s report, released Sunday, found that the Israeli soldiers who took part in a raid on a Gaza-bound flotilla last May which resulted in the deaths of nine people had acted in self-defense. It also determined that Israel’s three-and-a-half year blockade of the Gaza Strip does not break international law. (*)

 
Comments Off on PM Netanyahu: Raid on Gaza flotilla was necessary to protect Israel

Posted by on January 24, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Photostream : One year for Israeli Defense Forces (IDF) Search and Rescue soldiers since joining Haiti aid team

IDF Delegation Arrival in Haiti : The Israel Defense Forces aid delegation getting off the plane upon arrival at Port-au-Prince, Haiti. Israel sent a team of over 250 personnel to help in the rescue and medical efforts after Haiti was struck by a devastating earthquake in January 2010. (Photo : IDF’s FLICKR, January 16, 2010)

Rescue of a Haitian Man from Government Building, Jan 2010 : The Israel Defense Forces Search and Rescue team extracted a 52 year old Haitian government employee, trapped in the ruins of the customs office in Port-au-Prince after 6 hours of work. The man was trapped under the rubble for 125 hours before being rescued by the team and was then taken to the IDF field hospital for treatment. The man was able to communicate his location via SMS. After the devastating earthquake which struck Haiti in January 2010, Israel sent an aid delegation with over 250 personnel to help with search and rescue efforts and establish a field hospital. (Photo : IDF’s FLICKR, January 2010)

IDF Search and Rescue Team at Port-au-Prince University , Jan 2010 : A rescue team, led by Israel Defense Forces Search and Rescue platoon commanders, enters the university in Port-au-Prince, in order to assist in the evacuation of survivors and victims. One of the buildings on the campus collapsed while classes were in session. After a devastating earthquake hit Haiti in January 2010, Israel sent a team of over 250 personnel to help in the rescue and medical efforts. (Photo : IDF’s FLICKR, January 16, 2010)

Rescue of a Haitian Man from Government Building, Jan 2010 : The Israel Defense Forces search and rescue team extracted a 52 year old Haitian government employee, trapped in the ruins of the customs office in Port-au-Prince after 6 hours of work. The man was trapped under the rubble for 125 hours before being rescued by the team and was then taken to the IDF field hospital for treatment. The man was able to communicate his location via SMS. After the devastating earthquake which struck Haiti in January 2010, Israel sent an aid delegation with over 250 personnel to help with search and rescue efforts and establish a field hospital. (Photo : IDF’s FLICKR, January 2010)

Dr. Col. Kryce Transporting Injured Girl, Jan 2010 : Doctor Colonel Itzik Kryce, the commander of the Israel Defense Forces field hospital in Haiti helps transport a wounded girl with a severe leg injury for treatment. After the devastating earthquake which struck Haiti in January 2010, Israel sent an aid delegation of over 250 personnel to help with search and rescue efforts and establish a field hospital in Port-au-Prince. (Photo : IDF’s FLICKR, January 2010)

Doctors Check on Premature Baby, Jan 2010 : Dr. Maj. Yuval Levi and Nurse Captain Margarita Memdov are pictured treating a premature baby weighing 1.8 kg delivered in the IDF field hospital in Haiti. In total, 16 babies were successfully delivered at the field hospital during the time the IDF was in Haiti. The hospital features a special ward maternity ward and was equipped to handle complicated births and premature deliveries. After the devastating earthquake which struck Haiti in January 2010, Israel sent an aid delegation of over 250 personnel to help with search and rescue efforts and establish a field hospital in Port-au-Prince. (Photo : IDF’s FLICKR, January 18,2010)

IDF Medical Aid Team Performing Surgery in Haiti Field Hospital, Jan 2010 : Then-Chief Medical Officer, Col. Dr. Ariel Bar, and Lt. Col. Dr. Chaim Levon performing surgery in the IDF field hospital in Haiti. After the devastating earthquake which struck Haiti in January 2010, Israel sent an aid delegation of over 250 personnel to help with search and rescue efforts and establish a field hospital in Port-au-Prince. (Photo : IDF’s FLICKR, January 19, 2010)

IDF's FLICKR

 

 
Comments Off on Photostream : One year for Israeli Defense Forces (IDF) Search and Rescue soldiers since joining Haiti aid team

Posted by on January 13, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Israel Defense Forces (IDF) installs new information security safeguards

FILE : Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu stands with naval commandos during his visit to the Atlit naval base near the northern city of Haifa October 26, 2010. (Getty Images / REUTERS/Dan Balilty/Pool )

Please alsi visit : INDONESIAKATAKAMI.BLOGSPOT.COM

 

Measures aim to prevent Wikileaks-type revelations; one safeguard: alarm will go off when disc-on-key inserted in IDF computer.

November 29, 2010 (KATAKAMI / JERUSALEM POST) — The IDF has instituted a number of new security measures over the past year aimed at preventing major leaks of sensitive information like what was published by Wikileaks on Sunday.

The new safeguards were developed by the IDF’s Information Security Unit and include a system that will track every document, classified as top secret by the military, who it is sent to, who printed it and who burned it onto a CD.

The new system will not allow a document that is classified as top secret, for example, to be transferred to someone who does not have security clearance to view documents classified as top secret.

“This does not mean that something like Wikileaks cannot happen in Israel but it would be more difficult,” a former officer involved in information security said on Monday.

The tightening of regulations has taken place over the past year and gained importance after Anat Kam was arrested for leaking thousands of top secret and classified documents to a Haaretz reporter.

Kam, who served as an assistant to OC Central Command Maj.-Gen. Yair Naveh’s bureau chief during her IDF service, was exposed to classified and sensitive military information and over a period of what appears to be a year, she allegedly copied the documents into a folder she had created on a computer in the office and then burned it onto a CD during her last week of service.

Other steps taken by the IDF have included thorough background checks of soldiers serving in sensitive positions and the cataloging of every IDF soldier according to their level of clearance. Sources said on Monday that the IDF has increased the number of polygraphs it conducts on soldiers and officers by 50 percent in the past year.

In addition, if a disc-on-key is attached to an IDF computer it will immediately set off an alarm at the IDF Information Security Unit alerting soldiers there of a possible infiltration. (*)

 
Comments Off on Israel Defense Forces (IDF) installs new information security safeguards

Posted by on November 30, 2010 in World News

 

Tags: