RSS

Tag Archives: Mahmoud Abbas

President Mahmoud Abbas to visit Cairo

President Mahmoud Abbas

 

RAMALLAH (KATAKAMI.COM / MA’AN NEWS AGENCY) — President Mahmoud Abbas is expected to go to Cairo on Wednesday in his first visit since the ouster of President Hosni Mubarak in February.

As reported by MA’AN NEWS AGENCY on Friday, Egypt’s ambassador to the Palestinian Authority Yasser Othman told Ma’an the president was invited by Egypt’s foreign affairs minister Nabil Al-Arabi on behalf of the country’s de facto leader Field Marshall Hussein Tantawi.

Othman said Egypt supported Abbas’ initiative to visit the Gaza Strip and form a unity government to prepare for elections.

The initiative seeks to end years of hostility between Abbas’ Fatah party and Hamas. The rivalry has effectively cut off the Gaza Strip from the West Bank.

The Fatah-led PA controls the West Bank, while Hamas runs the government in Gaza.

A delegation of Hamas leaders visited Cairo last week, and discussed efforts toward Palestinian reconciliation.

 
Comments Off on President Mahmoud Abbas to visit Cairo

Posted by on April 2, 2011 in World News

 

Tags: ,

No Arab diplomats to accompany Mahmoud Abbas in Gaza visit: official

Palestinian President Mahmoud Abbas

PALESTINE, March 29, 2011 (KATAKAMI.COM / PEOPLE DAILY ONLINE / XINHUA) — A Palestinian official on Monday said no Arab diplomats would accompany President Mahmoud Abbas when he visits the Gaza Strip to seek an end to Palestinian division.
 

“We have discussed some of these ideas but they have not been developed into decisions or agreement,” said Yasser Abed Rabbo, a member of Palestine Liberation Organization (PLO)’s Executive Committee.

Local media reported earlier that Abbas told members of the executive committee that the head of the Arab League (AL) and the secretary general of the Organization of Islamic Conference (OIC) would go to Gaza with him.

Abbas’ visit would be his first time to set foot in Gaza since the Islamic Hamas movement routed his forces and ousted his Fatah party in June 2007.

Responding to public pressure in mid-March, the head of the Hamas government in Gaza, Ismail Haneya, invited Abbas to come to Gaza to resume national dialogue and reach a reconciliation based on sharing power.   (*)

 

Source: Xinhua

 
Comments Off on No Arab diplomats to accompany Mahmoud Abbas in Gaza visit: official

Posted by on March 29, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Fatah: President Abbas awaiting Hamas response

 

RAMALLAH, March 28, 2011 (KATAKAMI.COM / Ma’an News Agency) — There has yet to be a response from Hamas following a meeting between party members and President Mahmoud Abbas on Saturday, member of the Fatah central committee Nabil Sha’th told Ma’an.

Despite the positive sentiments exchanged, Sha’th said Monday, “Abbas is still waiting for the official response.”

Abbas, who leads the Fatah party, met with Hamas officials to discuss a proposed trip to Gaza and efforts to mend internal Palestinian division by way of the formation of a unity government.

Protests by Palestinian youth organizations which began on 14 March, demanded that leaders make real steps toward unity, prompting Prime Minister in Gaza Ismail Haniyeh to invite Abbas to Gaza for the re-launch of a unity effort.

Abbas on 16 March that he would accept the invitation, but only if he was going to Gaza to sign an agreement, adding that he would not go only for a new round of talks. Hamas officials said the suggestion amounted to impossible preconditions, adding that real discussions were necessary to ensure an enduring agreement.

The Saturday meeting, of which little is substantively known, was said to have been positive.

Sha’th echoed the praise of the meeting in his Monday statement, adding that Abbas would consider entering Gaza through the Rafah crossing in Egypt, of Israel refused to allow him access via the Erez crossing.

Israel’s prime minister has said that Abbas could choose between unity with Hamas and peace with Israel, and condemned the reunification of the Palestinian political sphere.

Since 2007, Hamas has run the government in the Gaza Strip, while the West Bank government has been controlled by Fatah. In 2006 Hamas won legislative elections, but was boycotted by much of the international community. Without international support the government folded, resulting in the creation of a unity government in early 2007, which collapsed amid infighting which neared the dimensions of a civil war.  (*)

 

 
Comments Off on Fatah: President Abbas awaiting Hamas response

Posted by on March 28, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

President Mahmoud Abbas held talks Saturday (26/3/2011) with Hamas leaders in Ramallah, in a meeting both sides described as “positive.” As reported by Ma’an News Agency on Saturday, Aziz Dweik, the Hamas head of the Palestinian legislature, said the meeting was “highly positive” and that “practical moves on the ground will taken in the coming days” regarding Abbas’ proposed visit to Gaza to make a unity deal.

 

Jakarta, 27/3/2011 (KATAKAMI.COM) — Akhirnya Presiden Palestina Mahmoud Abbas menepati ucapannya sendiri yaitu menemui pihak Hamas, rival politik terberat dari kubu Fatah ( yang merupakan kubu dari Presiden Abbas).

Walaupun sebenarnya, pertemuan ini belum merupakan pertemuan antar dua rival politik yang sesungguhnya. Sebab yang dinantikan oleh semua pihak adalah pertemuan antara Presiden Mahmoud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyeh yang bermarkas di Jalur Gaza.

Pertemuan di hari Sabtu (26/3/2011) itu adalah pertemuan antara Abbas dan delegasi parlemen Hamas.

Tapi walaupun ini belum merupakan pertemuan puncak antar kedua pemimpin tertinggi, tetap saja pertemuan tersebut harus disambut baik oleh semua pihak.

Sebab apapun permasalahannya, Presiden Abbas memang harus membuka semua peluang bagi terciptanya persatuan didalam internal Palestina sendiri.

Arah dari pertemuan antara pihak Presiden Abbas dan Hamas adalah mencari peluang bagi koalisi utuh antara Fatah dan Hamas didalam pemerintahan Palestina secara keseluruhan.

Seperti dilansir oleh Kantor Berita Ma’an News Agency pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Aziz Dweik  — yang merupakan Ketua  Legislatif Hamas — mengatakan bahwa pertemuan itu “sangat positif. Kunjungan ini telah menjadi tuntutan rakyat dan harus dijawab,” kata Dweik.

 

Perdana Menteri Hamas ( di Jalur Gaza ) Ismail Haniyeh

 

Terutama untuk mengantisipasi rencana kunjungan Presiden Abbas ke Jalur Gaza untuk bertemu PM Ismail Haniyeh.

Jadi, tak lagi terpecah antara Fatah dan Hamas.

Seakan-akan, Palestina terbagi antara 2 negara bagian yaitu West Bank ( Tepi Barat ) dan Gaza Strip ( Jalur Gaza ).

Palestina ya Palestina.

Palestina memang harus menjadi satu kesatuan yang utuh tak terpisahkan.

Solid.

Jangan lagi terpecah dua secara berkepanjangan.

Walaupun kalau mau jujur, niat dari Presiden Abbas membangun “koalisi persatuan” antara Fatah dan Hamas akan sulit diwujudkan dalam panggung politik yang riil.

Tingginya tingkat militansi yang kuat melekat dalam diri Hamas, akan menjadi beban bagi koalisi persatuan itu di kemudian hari.

Dan jika itu sudah menjadi beban politik maka konsekuensinya adalah segala tindak-tanduk Hamas yang kerap kali membuka ruang konfrontasi dengan negara tetangganya yaitu Israel, mau tak mau harus menjadi beban politik bagi Presiden Abbas dan kabinet koalisi persatuan yang diimpikannya.

Abbas memang harus mendapat hormat dan penghargaan yang tinggi.

Ia menunjukkan upaya yang serius untuk melakukan terobosan-terobosan yang sangat penting untuk Palestina.

Abbas memang figur yang kuat dan sangat sentral dalam proses perdamaian ini.

Dia yang terbaik untuk menjadi pemimpin di Palestina selama ini.

Tapi sayang, pertemuan Presiden Abbas dan Hamas di akhir pekan inipun sebenarnya terlaksana di saat suasana masih sangat panas antara Hamas dan Israel.

 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat memimpin rapat kabinetnya pada hari Minggu, 27 Maret 2011. Dalam pernyataannya, PM Netanyahu mengumumkan bahwa terhitung hari Minggu (27/3/2011) telah dilakukan penempatan IRON DOME atau sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian selatan Israel. Tetapi Netanyahu menjelaskan bahwa IRON DOME ini belum bisa melindungi setiap rumah, sekolah dan basis pertahanan di Israel secara keseluruhan. Pemerintah Israel, lanjut PM Netanyahu, memang menyadari bahwa penempatan IRON DOME ini bukan merupakan solusi yang komprehensif, mengingat tingginya ancaman yang diterima Israel dari Pihak Hamas. Netanyahu menambahkan bahwa tingginya ancaman dari HAMAS, hanya bisa dihadapi dengan kombinasi antara tindakan ofensif dan pencegahan dengan langkah-langkah pertahanan. Netanyahu juga mengatakan bahwa Hamas bertanggung jawab atas segala sesuatu yang selama ini mereja tembakkan dari Jalur Gaza ke arah Israel.

 

Terhitung hari Minggu (27/3/2011) ini, Israel Defense Force atau IDF mendapat perintah dari Departemen Pertahanan Israel untuk memasang Sistem Penangkal Roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian Selatan Israel yang ditujukan oleh mendeteksi dan menangkal semua roket atau mortar yang dikirimkan terus menerus dari pihak Hamas.

Penempatan sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA ini, masih dalam tahap pengujian selama beberapa minggu mendatang.

Rencana pemasangan sistem pertahanan roket ini, pertama kali dicetuskan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu seusai menerima kunjungan dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang datang berkunjung ke Israel hari Jumat (25/3/2011) lalu.

Gates berkunjung ke Israel dan Palestina, menjelang memasuki masa pensiunnya sebagai orang nomor satu di Pentagon ),

Seperti yang diberitakan oleh Voice of America pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Pemerintah Israel memutuskan akan memasang sistem pertahanan roket yang mahal sebagai tanggapan atas meningkatnya serangan mortir dan roket baru-baru ini ke Israel selatan dari Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.

Sistem pencegat yang disebut “Iron Dome” atau Kubah Besi itu mampu menembak jatuh roket-roket yang ditembakkan dalam jarak lima sampai 70 kilometer.

Keputusan Israel itu menyusul janji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hari Jumat bahwa pemerintahnya siap bertindak dengan “kekuatan besar” untuk menghentikan serangan roket dari Gaza.

Puluhan roket dan mortir telah ditembakkan di perbatasan Israel-Gaza dalam seminggu ini. Militer Israel membalas dengan serangan udara, menjadikannya peningkatan kekerasan paling serius sejak berakhirnya Perang Gaza dua tahun lalu.

Ini adalah sinyalemen yang sangat kuat dari Israel bahwa mereka sudah kehilangan kesabaran.

Bisa dispekulasikan bahwa pemasangan sistem penangkal roket itu hanya sebagian kecil dari serangkaian panjang tindakan-tindakan yang sangat sistematis dari pihak militer Israel untuk mengantisipasi semua bentuk ancaman pada wilayah terorial mereka.

 

UN Sec.Gen Ban Ki-moon

 

Dan seiring dengan terlaksananya pertemuan antara Presiden Abbas dengan Hamas, tercetus juga keinginan dari Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Jadi ternyata, atmosfir perang tak hanya terjadi di Libya.

Gejala awal dari peperangan baru antara Israel dan Hamas sudah mulai tampak jelas di mata dunia.

Hamas juga meminta perhatian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations) untuk secara serius melindungi kalangan sipil di Jalur Gaza dari ancaman serangan militer Israel.

Pertanyaannya, jika Hamas meminta perlindungan dari PBB, maka bukankah hal yang sama juga bisa diminta oleh pihak Israel kepada PBB ?

Sama saja, Israel juga mendapat serangan militer dari Hamas.

Tak cuma sekedar gertak sambal, tindakan provokasi yang berbentuk kriminalitas yang sangat serius dan aksi teror bom juga sudah dialami oleh Israel dalam 2 pekan terakhir.

Pembunuhan terhadap satu keluarga keturunan Yahudi di kawasan Itamar ( Nablus) dan serangan bom di sebuah halte bis di Yerusalem.

Begitu juga serangan balasan dari Israel, sedang terus dilakukan ( dengan dilengkapi oleh pemasangan sistem penangkal roket ).

Kembali pada masalah tawaran Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Satu hal yang harus diingat oleh Hamas bahwa memanasnya situasi terakhir selama 2 pekan terakhir ini bukan sekedar kontak senjata antara sayap militer Hamas dengan pihak militer Israel.

Pembunuhan yang terjadi di Itamar ( Itamar Killings), tak menggunakan senjata api yang canggih. Sebab pembunuhan itu terjadi dengan menggunakan senjata konvensional yaitu senjata tajam berupa pisau untuk menikami secara sadis sepasang suami isteri dan 3 orang anak Yahudi.

Tak ada senjata api disitu.

Tak ada bom.

Tak ada misil.

Sangat konvensional !

Cukup dengan menggunakan pisau, satu keluarga Yahudi mati dibunuh secara sadis.

Disinilah permasalahan yang sebenarnya !

Lalu, masuk pada serangan bom yang meledakkan sebuah halte bis di Yerusalem beberapa hari lalu.

Itu menewaskan satu warga asing yaitu seorang perempuan misionaris berkewarganegaraan Skotlandia.

Posisi Israel menjadi diatas angin terkait serangan bom di Yerusalem.

 

Kelompok Kwartet Untuk Urusan Timur Tengah ( dari kiri ke kanan ) : Tony Blair mewakili Inggris, Hillary Clinton mewakili Amerika Serikat, Sergei Lavrov mewakili RUSIA, Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan Chaterine Ashton sebagai Ketua Komisi Luar Negeri pada UNI EROPA

 

Sebab PBB dan komunitas internasional mau tak mau harus mengutuk serangan bom di Yerusalem beberapa hari lalu.

Disaat Hamas meminta PBB melindungi warga sipil di Jalur Gaza, faktanya warga sipil ( termasuk warga asing yang bergerak di bidang keagamaan ) jadi korban aksi teror bom.

Tetapi kalau mau jujur, serangan bom di Yerusalem itu BELUM TENTU juga merupakan perbuatan dari Hamas.

Sebab sampai ini, belum ada bukti bahwa ledakan bom itu hasil perbuatan Hamas.

Barangkali, patut dapat diduga ada PIHAK KETIGA yang ingin mengadu-domba dan lebih memperparah situasi ( dan konfrontasi ? ) antara Israel dan Hamas.

Sebab kalau dilihat dari rangkaian serangan mortar dari Hamas yang terjadi selama ini kepada Israel, biasanya mereka akan mengincar dan melakukan serangan-serangan mortar / roket ke wilayah perbatasan.

Sangat jarang bisa menembus masuk sampai ke dalam arah wilayah Israel.

Jadi, waspadailah juga PIHAK KETIGA.

Sebenarnya kalau mau jujur, tak akan mungkin Hamas bisa lalu lalang didalam wilayah Israel.

Diluar pihak Israel sendiri, yang bisa masuk ke dalam wilayah Israel adalah wisatawan dan kalangan perwakilan diplomatik yang memang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Sehingga, ada kemungkinan PIHAK KETIGA yang menciptakan provokasi untuk memperburuk dan memperparah situasi antara ISRAEL dan PALESTINA.

Tetapi dugaan tentang keterlibatan HAMAS dibalik aksi teror bom di hal bis Yerusalem baru-baru ini, tetap harus terbuka lebar karena selama ini yang patut dapat diduga sangat agresif melakukan berbagai serangan ke Israel adalah PIHAK HAMAS.

Tapi ya, sekali lagi, tudingan tidak bisa begitu saja diarahkan kepada PIHAK HAMAS.

Untuk menghajar Israel yang dianggap sangat “tak bisa diatur” oleh kekuatan asing manapun, bisa dispekulasikan bahwa satu-satunya cara yang dianggap paling ampuh adalah memaksa Israel untuk emosi.

Lalu menyerang balik secara sangat amat keras ( dan brutal ) ke pihak Hamas.

Karakter Israel yang sangat tak bisa diusik sedikitpun untuk urusan keamanan, menjadi salah satu yang barangkali menjadi pertimbangan.

Bagaimana caranya agar Israel terpancing untuk marah ?

Bagaimana caranya agar Israel menyerang dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat ke arah sipil di Gaza ?

Bagaimana caranya agar setelah serangan militer yang spektakuler itu, akan sangat banyak kalangan sipil di Gaza yang mati sia-sia ?

Jika semua itu sudah terjadi, jangan heran misalnya ada negara tertentu yang meminta agar Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat.

Dan kalau perlu mengeluarkan Resolusi ( yang ke sekian kalinya ) untuk Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kanan, berjabatan tangan dengan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam sebuah pertemuan di New York tanggal 22 September 2009

 

Inilah yang harus sangat diingat oleh Israel, kendalikan semua situasi dan perangkat militer dalam menyikapi perkembangan situasi dan keamanan antara Israel dan Hamas.

Jadi, kalau Hamas menawarkan gencatan senjata, satu hal yang harus dipertanyakan, sebenarnya kapankah peperangan itu dimulai ?

Apakah memang peperangan terbaru ini yang memang didahului oleh pihak Israel ?

Apakah situasi yang sangat buruk akhir-akhir ini merupakan inisiatif dari pihak Israel ?

Apakah pembunuhan brutal di Itamar ( Itamar Killings ) memang merupakan bagian dari peperangan antar kekuatan militer ?

Sebab, jika menggunakan kata GENCATAN SENJATA maka dalam bayangan setiap orang adalah situasi perang yang sangat tak terkendali.

Tawaran gencatan senjata dari Hamas kepada Israel, memang harus direspon oleh pihak Israel.

Israel, apa jawabanmu ?

Jawablah tawaran gencatan senjata dari pihak Hamas …

Semua pihak menginginkan agar situasi politik dan keamanan di Israel dan Palestina, sama-sama aman, kondusif dan terkendali.

Jangan ada lagi anarkisme.

Jangan ada lagi brutalisme.

Jangan ada lagi kriminalisme.

Jangan ada lagi terorisme.

 

Perdana Menteri Palestina Salam Fayaad dan Presiden Mahmoud Abbas

 

Mahmoud Abbas menemui Hamas. Hamas tawarkan gencatan senjata pada Israel.

Israel, ( sekali lagi kalian ditanya ), apa jawabanmu terhadap tawaran gencatan senjata itu ?

Kalau dari perkiraan akal sehat maka tawaran ini akan ditampik oleh Israel.

Sebab Israel memang sudah sangat marah karena warganya dibunuh dan keamanan di dalam negeri mereka juga terancam terus menerus.

Tapi, pikirkanlah kepentingan yang lebih besar, daripada hanya sekedar marah dan marah, sebagai wujud dari rasa geram yang berkepanjangan.

Biarkan PBB dan komunitas internasional melihat serta menilai, apakah betul brutalitas yang berisi seribu satu macam tindakan anarkisme itu,  hanyalah melulu didominasi oleh pihak Israel semata ?

Jawablah Israel, jawablah (rencana) tawaran Hamas untuk gencatan senjata.

Jawablah dengan bahasa diplomatik yang terukur dan terarah, fokus pada itikat baik dan keseriusan melanjutkan peta jalan menuju perdamaian yang sesungguhnya antara Israel dan Palestina.

Dahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu menyelamatkan dan melanjutkan proses damai antara Israel dan Palestina.

Jangan menjawab dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat untuk menggempur Jalur Gaza !

Jangan, sekali lagi jangan !

Sebab itu akan sangat membahayakan kalangan sipil tak bersenjata ( dan disinilah letak keberuntungan Hamas, bahwa mereka berada diantara kalangan sipil tak bersenjata di Jalur Gaza tetapi dari Jalur Gaza mereka bisa melempari Israel dengan sedemikian banyak roket dan mortar ).

 

 

Baik Israel, maupun Palestina, harus sama-sama bersedia memberikan pengakuan atas keberadaan dari negara tetangga mereka masing-masing.

Israel mengakui bahwa Palestina adalah sebuah negara yang berdaulat.

Dan Palestina juga mengakui bahwa Israel adalah sebuah negara yang berdaulat.

Mungkinkah ini terjadi ?

Dunia menunggu jawaban dari Israel dan Palestina …

Sudah terlalu lama komunitas internasional menunggu perdamaian itu tercapai, sehingga memang perlu bagi semua pihak untuk berperan serta membukakan jalan yang selebar-lebarnya bagi Palestina untuk memproklamirkan diri mereka sebagai sebuah negara.

Tak ada alasan untuk tidak mendukung berdirinya Negara Palestina.

Sudah sangat lama mereka menunggu kesempatan itu terjadi.

Tetapi hendaklah agenda yang sangat penting terkait berdirinya Negara Palestina ini, tak perlu sampai harus mengorbankan banyak hal. Dan tak perlu menistakan atau mendorong-dorong Israel agar mereka masuk dalam perangkap permainan yang bertujuan menciptakan perang baru.

Jadi, untuk yang ke sekian kalinya, Hamas dan Israel sama-sama dihimbau untuk menahan diri dan tidak terus menerus saling serang antar kekuatan militer.

Dan kalau mau jujur, tak dibutuhkan istilah gencatan senjata dalam konteks Israel dan Hamas.

Yang dibutuhkan disini adalah kesadaran dan kemampuan dari masing-masing pihak untuk saling menghormati dan saling menghargai.

Jangan menyerang, jika tidak ingin diserang.

Dan jangan lakukan, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

 

 

(MS)

 
Comments Off on Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

President Mahmoud Abbas meets Hamas Leaders in Ramallah

 

 

RAMALLAH, March 27, 2011 (KATAKAMI.COM / Ma’an News Agency / AFP) — President Mahmoud Abbas held talks Saturday with Hamas leaders in Ramallah, in a meeting both sides described as “positive.”

As reported by Ma’an News Agency on Saturday, Aziz Dweik, the Hamas head of the Palestinian legislature, said the meeting was “highly positive” and that “practical moves on the ground will taken in the coming days” regarding Abbas’ proposed visit to Gaza to make a unity deal.

“This visit has become the people’s demand and must be answered,” Dweik said.

He added that he delivered a letter to Abbas from the delegation, but did not reveal its contents.

Azzam Al-Ahmad, president of Fatah’s parliamentary bloc, said without elaborating that “the meeting was indeed positive in spite of some negative statements from the brothers in Hamas about what the president announced.”

Al-Ahmad said the meeting was the first practical step taken by Hamas toward facilitating Abbas’ visit.

Meanwhile, Palestinian factions meeting in Gaza City expressed their support for the landmark meeting in Ramallah, the first between Abbas and Hamas in over two years.

“The attendees support the initiative of Prime Minister Ismail Haniyeh to invite President Mahmoud Abbas to visit Gaza, and Abbas’ response, and the meeting Abbas held earlier with Aziz Dwiek,” said Osama Al-Haj Ahmed of the Popular Front for the Liberation of Palestine.

However, some Fatah officials downplayed the importance of the meeting, saying Hamas’ official decision is made in Gaza and by its leadership abroad.

During the meeting, Abbas discussed his initiative to end the division between the Fatah-led Palestinian Authority in the West Bank and the Hamas-run government in Gaza.

On March 16, the president accepted an invitation from Gaza premier Ismail Haniyeh to visit the coastal enclave in the midst of mass youth protests calling for national unity.

But Abbas said he would go to make a deal, not to discuss one. Haniyeh had invited the president for talks.

Abbas said the purpose of the landmark trip would be to “end the division and form a government of independent national figures to start preparing for presidential, legislative and [Palestinian] National Council elections within six months.”

He has not set foot in the Gaza Strip since Hamas ousted Fatah from the enclave in near civil war in 2007.

The president said Palestinians would not be able to end Israel’s occupation or hold elections without achieving national unity first.

Since 2007, Gaza has been effectively cut off from the West Bank, which is under the control of Fatah, and repeated attempts at reconciliation have led nowhere.

Tens of thousands of Palestinians took to the streets of Gaza and the West Bank on March 15 to demand that the two factions end their long-running rivalry.  (*)

 

 
Comments Off on President Mahmoud Abbas meets Hamas Leaders in Ramallah

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Palestinian president meets Hamas rivals in West Bank to discuss possible unity deal

 

RAMALLAH, West Bank, March 27, 2011 – The Palestinian president met Saturday with his rivals in the Hamas militant group in an attempt to end nearly four years of infighting that has complicated the quest for a Palestinian state, Star Tribune reported.

With the collapse of peace talks with Israel, Palestinian President Mahmoud Abbas and his Western-backed government have turned their attention to reconciling with the Iranian-backed Hamas movement that ousted his forces from the Gaza Strip in 2007 and left him governing only in the West Bank. Palestinians seek both territories for their nation.

Hamas and other Gaza militants oppose peace with Israel and have over the past week rained rockets and mortar fire down on Israeli communities across the border. No one has been killed, but Israel for the first time deployed parts of an anti-rocket shield under development called the “Iron Dome.” Two more rockets were fired Saturday, spraying an Israeli home with shrapnel.

Years of on-and-off talks between Hamas and Abbas’ Fatah movement have produced many false starts. Even mediation by Egypt, before the uprising that ousted President Hosni Mubarak, failed to bring about a breakthrough.

Saturday’s meeting in the West Bank — the first to involve Abbas in a year — had a relatively modest goal, to arrange a trip by Abbas to Hamas-ruled Gaza for more talks. He has not set foot in the territory since the Hamas takeover.

Senior Fatah official Azzam al-Ahmed said the meeting was a positive discussion but no headway was made in setting Abbas’ Gaza visit.

“We hope that all the obstacles will be removed. The most important thing is to get to a practical result, which won’t happen before the president’s arrival to Gaza,” he said.

Ayman Hussein of the Hamas delegation told The Associated Press that Abbas said he wants one government to rule both the West Bank and Gaza and that a date needs to be set for Palestinian elections, which have had to be delayed because of the division.

Abbas has previously said elections would be held in September but only if a deal is reached to allow the participation of Gaza. Hamas has said it would boycott the election.

Hamas lawmaker Aziz Duwaik said many issues were discussed and “practical steps will follow very soon,” without elaborating.

Palestinians in both the West Bank and Gaza took to the streets earlier this month calling on their governments to reconcile.

Without unity, Palestinian statehood and a peace agreement with Israel will be even harder to achieve. Talks between Israel and Abbas’ Palestinian Authority collapsed last year because of disputes over Israeli construction in the West Bank.

If a unity deal is reached, independent technocrats approved by both sides would be appointed to temporarily govern the West Bank and Gaza until national elections. The winner would lead a united Palestinian Authority.

However, Abbas has not revealed what his plan for a unified Palestinian Authority would look like in practical terms, and the level of acrimony between the sides significantly dims prospects for a deal.

An outright Hamas election victory that shuts out Fatah would also further stall peace efforts with Israel.

Hamas and Israel have largely stuck to a truce since a punishing Israeli offensive in the Gaza in early 2009.

Smaller militant groups in Gaza, however, have continued to lob rockets over the border, drawing Israeli airstrikes and shelling. And violence escalated last Saturday, when Gaza militants fired more than 50 mortar shells into southern Israel. Hamas took responsibility for some of the shelling.

Hamas spokesman Ismail Radwan said Saturday that his group would end rocket attacks if Israel stops its strikes. The Israeli military would not comment. (*)

 

 
Comments Off on Palestinian president meets Hamas rivals in West Bank to discuss possible unity deal

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: ,

President Mahmoud Abbas: No peace agreement before all prisoners in Israel are released

President Mahmoud Abbas

RAMALLAH, March 26, 2011 (KATAKAMI.COM / Ma’an) – There will be no peace agreement before all Palestinian prisoners in Israel’s custody are released, President Mahmoud Abbas said Saturday.
 

As reported by Ma’an News Agency on Saturday, during a reception Ramallah for the coordinator of the popular committee against the wall and settlements in Bil’in, Abdullah Abu Rahma, recently freed from Israeli jail, Abbas asserted the Palestinian Authority would not spare any effort to release all Palestinian prisoners.

The official PA news agency Wafa quoted Abbas saying he gives special attention to the prisoners’ cause as “a pivotal issue” which tops priorities of the PA leadership. The president also expressed appreciation of the great role the popular committees play in resisting the wall and settlement expansion through non-violent protests.

Abu Rahma told Abbas that Palestinian prisoners in Israeli jails supported Abbas’ initiative to end rivalry and reach unity between the West Bank and the Gaza Strip.

“National reconciliation is necessary to counter the dire conditions the Palestinian cause is facing,” Abu Rahma said on behalf of prisoners. He expressed his support for Abbas’ policies to recruit international support for popular resistance and for recognition of statehood on the 1967 border with Jerusalem as its capital.

Former speaker of the Palestinian Legislative Council Aziz Dweik and other Hamas leaders and lawmakers from the West Bank have received invitations to meet with Abbas, sources close to Hamas told Ma’an.

Ma’an learned on Friday the meeting could take place very soon, possibly by Saturday afternoon, in order to take advantage of Abbas’ initiative to visit Gaza and finalize a reconciliation agreement.

A high-level official in the PLO expressed doubts about Hamas’ willingness to respond positively to Abbas’ initiative. He highlighted that Hamas’ leadership in Gaza have been trying to make up excuses to avoid finalizing a reconciliation agreement with the Palestinian Authority and its dominant party Fatah.

“I don’t believe it will be that easy because Hamas leaders in Gaza know that ending the state of disagreement will harm their interests and thus they are not interested in ending reconciliation but rather in reaching a ceasefire with Israel,” the official said.

He went on to say that “Hamas is not compelled to respond positively to any such initiatives currently because they count on the Muslim Brotherhood to take a leading role in Egypt and other Arab countries in the aftermath of the popular uprisings in these countries.”

For his part, the second deputy PLC speaker Hasan Khreisha confirmed that Abbas was scheduled to meet former PLC speaker Dweik on Sunday. He said during a talk show broadcast on Palestine TV that it is not Dweik who represents Hamas in the West Bank, but the movement’s official spokespersons.   (*)

 
Comments Off on President Mahmoud Abbas: No peace agreement before all prisoners in Israel are released

Posted by on March 26, 2011 in World News

 

Tags: ,