RSS

Tag Archives: Shimon Peres

Israeli President Shimon Peres to visit White House next week

File Picture : U.S. President Barack Obama (L) shakes hands with Israeli President Shimon Peres (L) at the White House May 5, 2009 in Washington DC. The two leaders discussed peace between Israel and the Palestinians and how best to deal with Iran. (Photo by Amos Ben Gershom/GPO via Getty Images)

WASHINGTON, April 1, 2011 (KATAKAMI.COM) — U.S. President Barack Obama will meet his Israeli counterpart Shimon Peres at the White House next Tuesday to discuss a “full range of issues of common concern, ” the White House said on Thursday, XINHUA reported.

The issues include bilateral security cooperation, recent developments across the Middle East and the pursuit of peace between Israel and its neighbors, the White House said.

It said that Shimon Peres last visited the White House in May 2009.  (*)

 

Advertisements
 
Comments Off on Israeli President Shimon Peres to visit White House next week

Posted by on April 1, 2011 in World News

 

Tags: , ,

Photostream : British Prime Minister David Cameron meets Israeli President Shimon Peres

 

British Prime Minister David Cameron (L) meets President of Israel Shimon Peres at 10 Downing Street on March 30, 2011 in London, United Kingdom. President Shimon Peres has spoken out saying Israel "must take advantage of this window of opportunity and end the conflict with Palestinians" so as to help the wave of democratization sweeping the Middle Eastern Arab countries. (Photo by Avi Ohayon/GPO via Getty Images)

British Prime Minister David Cameron (R) meets President of Israel Shimon Peres at 10 Downing Street on March 30, 2011 in London, United Kingdom. President Shimon Peres has spoken out saying Israel "must take advantage of this window of opportunity and end the conflict with Palestinians" so as to help the wave of democratization sweeping the Middle Eastern Arab countries. (Photo by Andy Rain - WPA Pool/Getty Images)

Britain's Prime Minister David Cameron (R), speaks with Israel's President Shimon Peres during their meeting at number 10 Downing Street in London March 30, 2011. REUTERS/Andy Rain/pool

 
Comments Off on Photostream : British Prime Minister David Cameron meets Israeli President Shimon Peres

Posted by on March 31, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Israeli President Hopeful About Arab Revolutions

Swiss President Micheline Calmy-Rey (R) shakes hands with his Israeli counterpart Shimon Peres after a meeting on March 28, 2011 in Geneva. Talks are due to focus on developments in north Africa and on bilateral issues. (Photo by FABRICE COFFRINI/AFP/Getty Images)

 

 

SWISS, March 29, 2011 (KATAKAMI.COM / AP ) —- Israeli President Simon Peres expressed hope Monday that popular revolutions in the Middle East could improve relations between his country and its Arab neighbors if they become more democratic and prosperous, VOA reported.

Mr. Peres said changes in government would need to be accompanied by economic development, as poverty and oppression in the region had fed resentment against Israel. He spoke after meeting Swiss President Micheline Calmy-Rey in Geneva.

The Israeli leader warned that regime change alone would not be enough to lift the affected countries out of economic decline, saying science and technology had a crucial role to play. Mr. Peres said the Arab revolutions were greatly assisted by advances in technology.

Israel has been monitoring regional developments closely and evaluating the implications for its own security.

Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu Monday named a veteran agent of the country’s Shin Bet security service as the next head of the agency. Yoram Cohen will replace outgoing director Yuval Diskin.

Shin Bet handles domestic security in Israel and the Palestinian territories.

Cohen takes over at a time of increased tension with the Palestinians due to a sudden escalation in rocket attacks and retaliatory strikes between Israel and the Hamas-led Gaza Strip.  (*)

 

 
Comments Off on Israeli President Hopeful About Arab Revolutions

Posted by on March 29, 2011 in World News

 

Tags: ,

Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Presiden Rusia Dmitry Medvedev berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Israel yang datang berkunjung ke Rusia, Kamis 24 Maret 2011.

 

Jakarta ( 25/3/2011) —- Ibarat api yang percikannya sudah mulai menyambar ranting-ranting pohon di hutan belantara, saat ini situasi antara Israel dan Palestina ( khususnya kubu Hamas yang menguasai Jalur Gaza ) sudah mulai membara.

Panas.

Menyala.

Jika boleh memakai ilustrasi yang sangat sederhana, situasinya kini memang sudah menyerupai api yang siap membakar “hutan belantara” tadi. Jika api itu tak cepat dipadamkan maka api akan menyambar kemana-mana. Lalu akhirnya, akan membakar hutan itu secara keseluruhan. Jika sudah terjadi kebakaran yang hebat, maka apa saja akan dilahap oleh sang api.

Meningkatnya eskalasi keamanan antara Israel dan Hamas sudah pantas untuk diwaspadai.

Saling serang dan saling balas-membalas, sedang jadi tren yang kuat antara kekuatan militer Israel dan Hamas.

Tampaknya, Hamas mulai menguasai watak dan kebiasaan Israel yang tak bisa diprovokasi.

Sedikit saja Israel diusik, maka mereka akan membalas.

Dan kalau Israel sudah membalas, maka akan mudah menciptakan suasana yang sangat panas membara seperti saat ini.

Tidak biasa-biasanya, provokasi Hamas sangat berkepanjangan ( ibarat kalimat yang tidak memerlukan titik dan koma. Main hantam saja. Sehingga siapapun yang membaca kalimat itu akan jadi ngos-ngosan. Kehabisan nafas).

 

Inilah Keluarga UDI FOGEL yang dibunuh secara brutal di Itamar, Nablus : Sang ayah UDI FOGEL (36 tahun), isterinya Ruth ( 35 tahun) dan ketiga anak mereka : Yoav ( 11 tahun), Elad ( 4 tahun ) dan Hadas ( 3 bulan ). Mereka dibunuh secara brutal tanggal 11 Maret 2011. Kasus pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) merupakan sebuah tragedi pembunuhan yang sangat brutal dan mengerikan sekali.Mereka sekeluarga mati ditikam sampai di atas tempat tidur mereka. Ada dua anak lain dari keluarga UDI FOGEL ini yang juga di rumah tetapi mereka tidak ikut celaka. Pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) ini bisa bisa diketahui saat anak perempuan tertua dalam keluarga itu (Tamar) tiba di rumahnya. Pembunuhan ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan komunitas internasional lainnya.

 

Berawal dari terbunuhnya satu keluarga Yahudi beberapa minggu lalu di kawasan Itamar. Sepasang suami isteri dan 3 orang anaknya, habis dibantai secara sadis.

Tragedi ini saja sudah hampir dapat dipastikan memancing kemarahan yang sangat dalam dari Pemerintah dan rakyat Israel.

Israel membalas.

Lalu disambung lagi dengan ledakan bom yang terjadi di Yerusalem hari Rabu ( 23/3/2011). Satu orang warga asing mati akibat ledakan itu dan korban luka juga sangat banyak.

Tak kurang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki-moon dan komunitas internasional lain mengutuk serangan bom di Yerusalem.

Bom itu yang meledak di hari keberangkatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Rusia.

Bibi memang tidak membatalkan kunjungannya ke Rusia.

Ia hanya menunda selama beberapa jam jadwal keberangkatannya ke Rusia.

Dan hari Kamis (24/3/2011), Bibi Netanyahu telah menuntaskan agenda kunjungannya ke Rusia dengan bertemu dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Bisa jadi PM Netanyahu merasa galau sepanjang ia menjalani agenda kunjungannya ke Rusia.

Sebab situasi di negaranya sedang tak “nyaman” akibat ledakan bom sebuah halte bis di Yerusalem.

Memang korbannya tidak terlalu mengerikan tetapi ledakan bom itu seakan melukai perasaan dan martabat Israel sebagai sebuah bangsa.

Satu orang perempuan warga negara Inggris mati akibat ledakan bom itu dan sejumlah besar lainnya menjadi korban luka.

Korban tewas tersebut adalah MARY GARDNER ( 55 tahun ), ia adalah MISIONARIS yang sehari-hari bekerja sebagai penterjemah injil. Tetapi MARY, yang merupakan keturunan SKOTLANDIA ini, juga sedang menjalani pendidikannya di HEBREW UNIVERSITY di Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ( duduk di tengah ), didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak dalam acara pergantian Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), dari Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi ( duduk paling kiri ) kepada Letnan Jenderal Benny Gantz ( berdiri ), di Yerusalem, 14 Februari 2011.

 

Siapapun yang saat ini bicara dari pihak Israel ( entah itu Menteri Pertahanan Ehud Barak, Menteri Luar Negeri Avigdor Liebermen atau Wakil Menteri Luar Negeri Danny Ayalon), semua akan sama nuansa dan nadanya dalam pernyataan-pernyataan mereka saat ini yaitu semua menyatakan kemarahan Israel atas tantangan dan provokasi fisik dari pihak Hamas.

Pertanyaannya sekarang, apakah Israel mau mengikuti gendang permainan Hamas ?

Waspadai trik yang sengaja dibuat sangat berani seperti ini yaitu menyerang, menyerang dan terus menyerang Israel.

Supaya sampai pada satu titik tujuan yang sesungguhnya yaitu membuat Israel tiba pada puncak kemarahan mereka yang tak akan bisa dikendalikan lagi.

Jika kemarahan Israel sudah tak mungkin lagi dikendalikan maka jangan heran jika perang baru ( yang menyamai atau bahkan jauh lebih parah dari Perang Gaza pada periode Desember 2008 – Januari 2009 ) akan terulang kembali dalam format yang sama.

Perang Gaza yang sangat mengerikan itu, dipicu atas teror HAMAS yang mengirimkan ratusan mortar ke wilayah Israel persis di MALAM NATAL tanggal 24 Desember 2008.

Bayangkan, di saat semua umat Kristani sedang hening mengarahkan hati menyambut datangnya NATAL, ratusan MORTAR menghujani wilayah Israel.

Israel tak  membalas di saat yang sama. Sehari duahari mereka diam.

Tapi dua hari setelah teror mortar di MALAM NATAL itu, Israel mengamuk menyerang ke arah Jalur GAZA dengan kekuatan militer penuh yang menewaskan begitu banyak warga Palestina di jalur Gaza.

Format peperangan yang menempatkan Israel sebagai agresor kejam yang tak akan berhenti menumpas Hamas dan warga sipil di Jalur Gaza, akan terulang kembali kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan kemarahan mereka.

 

Presiden Israel Shimon Peres ( kiri ) didampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ( tampak samping ) dalam upacara pemakaman Ibu Negara Sonia Peres yang meninggal dunia tanggal 21 Januari 2011 di Ben Shemen, Israel

 

Itu sebabnya, Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus sangat hati-hati merespon situasi belakangan ini.

Maukah Israel masuk dan mengikuti gendang irama lawan ?

Maukah Israel diarahkan untuk terus terpancing, tertantang dan terprovokasi emosinya sehingga akhirnya ( patut dapat diduga ) memang diharapkan menumpas habis pihak lawan ?

Cepatlah menyadari indikasi seperti ini …

Jangan mau mengikuti gendang irama lawan !

Kendalikan semua perangkat militer dan maksimalkan semua jalur diplomatik Israel ( terutama di Perserikatan Bangsa Bangsa ).

Jika memang terjadi lagi gangguan keamanan yang sangat serius, tempuhlah jalur diplomatik di tingkat internasional.

Kendalikan, sekali lagi, kendalikan diri secara baik !

Dalam sebuah taktik perang, kedok yang paling jitu untuk menyembunyikan agenda-agenda dan operasi yang sesungguhnya, memang dibutuhkan umpan pemancing.

Jangan mau dipaksa untuk menjadi agresor yang ujung-ujungnya akan mendapat cap sebagai pembantai kalangan sipil.

Disinilah dibutuhkan kematangan, ketenangan dan sikap yang bijaksana dari Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Panasnya situasi di kawasan Timur Tengah, jangan sampai menjalar ke Israel dan Palestina.

Hati-hati dengan taktik dan jaring perangkap yang sedang dipasang.

Untuk membuat Israel bisa menjadi sangat garang, buas dan tak kenal ampun dalam membabat habis musuh-musuhnya, tampaknya memang sengaja dipancing dengan satu dan dua umpan provokasi.

Sekali lagi, jangan mau mengikuti irama gendang permainan lawan.

Memang sangat menyakitkan hati jika ada rangkaian provokasi fisik yang sangat serius ditujukan pada Israel.

Kalau tak dibalas, rasanya belum puas dan tuntas.

Tetapi kalau dibalas, maka nyanyian “kutukan” akan berkumandang dari komunitas internasional.

Waspadai juga pihak terselubung yang barangkali saja menjadi aktor intelektual dari semua kejadian ini.

Sengaja didorong dan digosok-gosok situasi, “Ayo serang Israel, ayo serang lagi, terus, ayo terus, bikin serangan yang lebih spektakuler !”.

 

(Tampak belakang dari paling kiri ) : Raja Abdullah dari Kerajaan Yordania, Presiden Mesir Hosni Mubarak, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Barack Obama seusai melakukan konferensi pers di Gedung Putih, 1 September 2010

 

Siapa bilang tidak mungkin ada pihak ketiga yang menikmati memanasnya hubungan antara Israel dan Palestina ?

Sebab barangkali saja, dianggap memang tidak mungkin alias sulit membuat Israel menjadi kacau balau, seperti yang terjadi di sejumlah negara yaitu sangat babak belur situasi politik dan keamanannya sejak 3 bulan terakhir ini di kawasan Timur Tengah.

Sehingga patut dapat diduga, satu-satunya cara yang dianggap sangat manjur untuk bisa memojokkan Israel di mata dunia internasional adalah memancing dulu agar Israel bertindak brutal.

Israel harus dibuat sangat brutal dulu.

Kalau Israel sudah murka semurka-murkanya ( apalagi kalau angka kematian di pihak sipil sudah sangat banyak ), maka tercapailah keinginan untuk bisa mencaci maki dan menyeret Israel menjadi seorang pesakitan yang dihujat oleh komunitas internasional.

Jadi kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan semua kekuatan militernya, pihak lawan yang akan bertepuk tangan gembira.

Senang kalau misalnya taktik mereka berhasil.

Senang kalau misalnya agenda menghidupkan koor atau paduan suara komunitas internasional untuk mengutuk Israel, akan segera tercapai.

Dan bagi siapapun yang bermain di belakang layar agar situasi antara Israel dan Hamas semakin memanas, janganlah memancing di air keruh.

Biarkan proses damai itu dilanjutkan dan tercapai dengan hasil yang sangat memuaskan.

Jangan justru proses damai antara Israel dan Palestina justru sengaja dibuat agar jalan di tempat ( atau malah berjalan mundur ).

Jangan menyerang, kalau tak ingin diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Janganlah menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling mahir mengusung nilai-nilai perdamaian ( tetapi sebenarnya di belakang layar menjadi provokator ulung yang mengaca-acak situasi politik dan keamanan dari negara lain ).

Jangan pojokkan Israel.

Bahkan seolah-olah mereka ini adalah sebuah  bangsa yang tidak terkendali.

Keselamatan mereka diancam secara nyata, apakah mereka harus diam ?

 

Foto dari kiri ke kanan : Kepala Staf Angkatan Darat Israel ( IDF ) Letnan Jenderal Benny Gantz, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Presiden Shimon Peres, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF Chief of Staff) Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi

 

Keselamatan rakyat mereka ( dan warga asing yang sedang berada di negara mereka ), diancam, diganggu dan dilukai secara nyata), apakah mereka harus diam ?

Sungguh dilematis saat ini posisi Israel.

Tetapi semua ini dikembalikan kepada Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, apakah anda berdua bersedia meladeni gendang permainan lawan ?

Sebaiknya, situasi ini dipelajari lagi dengan sangat hati-hati.

Waspadai agenda besar yang sedang dipasang sebagai sebuah perangkap untuk Israel.

Perangkap berbahaya yang muaranya adalah menghancurkan dan menggagalkan misi damai antara Israel dan Palestina.

Namanya juga permainan politik.

Jangan lampiaskan kemarahan secara berlebihan.

Jangan kerahkan seluruh kesiap-siagaan personil dan persenjataan militer Israel  dengan sangat maksimal dan berkekuatan penuh.

Pikirkan, pikiran semua dengan sangat bijaksana.

Sebab pengalaman adalah guru yang baik.

Belajarlah dari banyak kejadian di masa lalu yang menempatkan Israel sebagai pihak yang selalu dan selalu terpojokkan.

Jika ada satu nyawa saja dari kalangan sipil yang jadi korban ( baik itu dari pihak Israel atau Hamas dan masyarakatnya di Jalur Gaza), maka respon dari komunitas internasional akan sangat cepat menyambar bagaikan petir di siang bolong.

Jadi, waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin ( Bibi ) Netanyahu

 

Dan secara khusus kepada Perdana Menteri Bibi Netanyahu, hendaklah tidak terus menekan Hamas untuk menuntaskan rangkaian pembalasan yang sangat setimpal.

Jangan Bibi, jangan kerahkan kekuatan militer anda dengan kekuatan sangat penuh untuk membalas ke arah Hamas di Jalur Gaza.

Sekali lagi, jangan.

Tolong jangan !

Setiap kata yang anda ucapkan, hampir dapat dipastikan tidak akan anda ingkari.

Pikirkan segala sesuatunya dengan tenang.

Pikirkan dampak terburuk jika Israel terpancing dan termakan dalam emosi yang berkepanjangan.

Jika anda katakan akan menyerang dengan kekuatan militer yang penuh maka itu akan segera menjadi kenyataan.

Tapi jangan Bibi, jangan …

Kekuatan militer Israel sebenarnya sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan Hamas.

Mau diatas kertas, atau secara riil di lapangan, IDF ( militer Israel ) pasti akan sangat mudah menekan, memberangus dan memenangkan setiap bentuk pertempuran.

Mau dari darat, laut atau udara, jangan ragukan kemampuan militer Israel.

Tapi, disini ada begitu banyak warga sipil yang bisa terkorbankan alias mati sia-sia kalau peperangan baru antara Israel dan Hamas dibiarkan membuka babak baru mereka di tahun 2011 ini.

Jadi, Pemerintah Israel harus menahan diri sebab sesungguhnya ( dan sejujurnya ) kemarahan Israel sedang sangat DITUNGGU-TUNGGU oleh pihak tertentu.

 

Sayap militer Hamas

 

Dan kepada Hamas, berhentilah berteriak kepada dunia internasional untuk menekan Israel dengan dalih untuk melindungi warga sipil di Jalur Gaza !

Mengapa ?

Eh, sebelum kalian meminta Israel berhenti mengancam keselamatan warga sipil di pihak kalian, hentikanlah terlebih dahulu semua aksi TEROR dan provokasi fisik kalian kepada rakyat Israel.

Bukankah itu TEROR namanya, mengancam dan merusak rasa aman serta keamanan di wilayah orang ?

Anda merasa berhak menyerang tetapi pihak lawan tak boleh membalas menyerang ?

Harus pihak anda saja yang sah dan legal melakukan teror dan provokasi fisik ke wilayah orang ?

Lho, kalian itu siapa, kok bisa-bisanya menghajar negara orang dengan seenaknya ?

Dan ingatlah bahwa di Israel, juga terdapat begitu banyak warga asing yang berkunjung untuk kepentingan yang sifatnya relijius ( mengingat Israel adalah tanah suci bagi umat Kristiani ).

Sehingga ancaman fisik yang diarakan secara langsung ke Israel, juga mengancam warga asing yang sedang berada di sana.

Sekali lagi, jangan menyerang, kalau tak mau diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Seakan-akan, jari tangan anda hendak menunjuk ke arah muka Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu bahwa pihak mereka yang paling brutal.

Eh, tunjuk dulu muka anda sendiri, baru tunjuk muka orang lain !

Sebab segala sesuatunya memiliki unsur sebab akibat.

Hormatilah proses damai yang sedang diperjuangkan semua pihak dari komunitas internasional kepada pihak Israel dan Palestina. Jangan dirusak. Jangan dihambat. Dan jangan digagalkan.

Semua juga tahu bahwa HAMAS adalah kekuatan politik riil yang harus diakui eksistensinya di mata dunia internasional.

Tetapi sebagai kekuatan politik riil yang mendapat kepercayaan dari warga di Jalur Gaza, HAMAS harus lebih elegan dalam bersikap.

Akan jauh lebih baik, jika HAMAS merespon tawaran dari Presiden Mahmoud Abbas untuk segera mendamaikan dan menyatukan antara kubu Fatah dan Hamas.

Fokuskanlah semua perhatian dan upaya untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan antara Fatah dan Hamas.

Jangan melebar ke topik lain, apalagi sampai melakukan teror kepada negara lain.

Begitu gigih komunitas internasional mengusahakan agar perdamaian itu terwujud.

Apa yang akan terjadi, kalau ternyata semua usaha itu menjadi sebuah kesia-siaan belaka ?

Jangan lagi ada perang baru yang sangat mengerikan dan mengancam keselamatan rakyat di masing-masing pihak.

Israel dan Palestina.

Berdamailah !

 

 

 

(MS)

 
Comments Off on Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Posted by on March 25, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

PM Benjamin Netanyahu: Sonia Peres was a symbol of modesty

Israeli prime Minister Benjamin Netanyahu (R) offers his condoleances to President Shimon Peres during the funeral service of his late wife Sonia in Ben Shemen on January 21, 2011, a day after she passed away at the age of 87. (Photo by GALI TIBBON/AFP/Getty Images)

The prime minister called Shimon Peres and expressed his condolences for Sonia’s passing.

Jan 21 (KATAKAMI / HAARETZ) — Sonia Peres was a symbol of modesty and love and love of man, Prime Minister Benjamin Netanyahu said on Thursday, hours after the wife of President Shimon Peres died at the age of 87.

Netanyahu called Shimon Peres and expressed his condolences. “In her quiet and modest life, Sonia represented good-heartedness and turned into a symbol and example of modesty and love of man,” said Netanyahu.

Defense Minister Ehud Barak said Thursday that “Sonia Peres was a very special woman and human being. She was the epitome of modesty, simplicity and loving kindness.”

“Throughout the years she stayed out of the limelight and maintained her privacy, working tirelessly on behalf of those in need. All who knew her adored and admired her. May her memory be blessed,” Barak added.

Her son-in-law and physician, Dr. Raphael Walden, told Israel Radio she died peacefully in her sleep.

Walden said that Peres was “all nobility and devotion. The family was very close to her, we would see her almost every day.”

Former Labor Party director general and minister Uzi Baram arrived at the Peres residence to express his condolences, and spoke of his long-time friendship with Sonia and Shimon Peres: “She was noble woman in the full sense of the word, who quietly took part in volunteer work that will become known only now.”

“She was a real woman, and very candid,” Baram said, adding that “you always knew what she was thinking. She was very independent and led full life.”  (*)

 
Comments Off on PM Benjamin Netanyahu: Sonia Peres was a symbol of modesty

Posted by on January 22, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

President Shimon Peres: Sonia was and will always be the love of my life

Shimon Peres at the funeral of his wife Sonia, Jan. 21, 2011. Photo by: Nir Keidar

Jan 21 (KATAKAMI / HAARETZ) — Thousands of people, including state dignitaries and friends, attended the funeral of Sonia Peres, the wife of President Shimon Peres, in Ben Shemen on Friday, a day after she passed away in her sleep at the age of 87.

Many key Israeli political figures attended the funeral, including Prime Minister Benjamin Netanyahu, Knesset Speaker Reuven Rivlin, opposition leader Tzipi Livni, and vice premier Silvan Shalom.

Sonia Peres was entitled to the privilege of being laid to rest in the section of Jerusalem’s Mount Herzl Cemetery reserved for national leaders, however, the president’s late wife preferred to be buried at the cemetery near the Beit Shemen youth village where she met her husband.

In his eulogy, the president described his late wife of 65 years as a paragon of modesty and sincerity, “she had her own path and never strayed. This path was characterized by both the wisdom of the heart and the wisdom of her fellow man.”

“I loved her at first sight. She is the love of my life. And that love will remain in my heart until my eyes shall close,” Peres said. “I learned from her more than I could ever teach her.”

“Her number one tenet was be yourself, without façade, without hypocrisy, without asking for anything in return,” Peres said, emphasizing his wife’s life-long devotion to philanthropy.

“Her first tenet – be yourself, without a shred of forgery, without a shred of hypocrisy, without asking for anything in return,” Peres said, emphasizing his wife’s life-long devotion to philanthropy.

“No matter what,  it was the downtrodden and the weak who she believed were the most deserving of attention. She loved the country. Never wanted to be lifted above the people, always wanted to be part of it,” the president said, adding that most of her work was done far from the public eye.

Peres said that Sonia raised the couple’s children using the same standard she had for herself: “Always speak the truth, don’t ask for anything.”

Concluding, the president said: “This is a very difficult time for me, and I cannot say all that is in my heart. But I am so proud that God gave me an opportunity to live with this woman…. To me, she was what a human being was supposed to be.”

Born in the Ukraine in 1923, Peres made Aliyah to Israel with her family at the age of four. They moved to the Israel youth village of Ben Shemen where she met her husband.

During World War Two, Peres volunteered to serve in the British army and fight against the Germans. When she returned to Israel after the war in 1945, she and the future president were wed.

The couple was married for 67 years.

Sonia Peres rarely appeared in the public eye, preferring to play a backstage role in her husband’s six-decade political career, a decision which sometimes drew scathing criticism.

There were those, for instance, that saw a correlation between Peres’ inconspicuousness and the Labor Party’s election downfall in 1981, with some saying that the party would have won had she stood at her husband’s side.

Referring to that period, Shimon Peres biographer Michael Bar-Zohar wrote that “Sonia’s absence from Shimon’s side caused him severe political damage,” adding that her “charming personality would have undoubtedly added another dimension to her husband, and instead of the slightly sad, lonely man, many would have seen a loving and warm couple.”
One of Sonia Peres’ last public appearances was in April 1990, when she attended the somewhat awkward occasion of the swearing in of the government then constructed by her husband. She sat in the VIP section, looking on as the Haredi factions sabotaged the cabinet’s formation, leading to the meeting’s eventual dispersal.

When asked once why she chose to stay away from the public eye, Peres said:” I married a dairy farmer.”

Peres is survived by her husband, their three children Tzvia, Yonatan, and Hemi, eight grandchildren and two great-grandchildren.

(*)

 
Comments Off on President Shimon Peres: Sonia was and will always be the love of my life

Posted by on January 22, 2011 in World News

 

Tags: ,

Sonia Peres, wife of President Shimon Peres, dies at 87

Israel's President Shimon Peres walks past his wife Sonya's coffin during her funeral service in Ben Shemen January 21, 2011. The wife of Israeli President Shimon Peres died on Thursday at the age of 87, an emergency service said. REUTERS/Oded Balilty/Pool

Jan 21 (KATAKAMI.COM / HAARETZ) — The wife of President Shimon Peres, Sonia Peres, died on Thursday at the age of 87 at her northern Tel Aviv home.

Peres is survived by her husband, their three children Tzvia, Yonatan, and Hemi, eight grandchildren and two great-grandchildren.

Her son-in-law and physician, Dr. Raphael Walden, told Israel Radio she died peacefully in her sleep.

The president arrived at the Peres family home Thursday afternoon. The presidential residence publicity adviser announced that the family is currently in deep mourning, and will issue another release soon.

Shortly before Peres became president in 2007, Sonya was briefly hospitalized with a heart condition, but she was not known to be ill in recent years.

Born in the Ukraine in 1923, Peres made aliyah to Israel with her family at the age of four. They moved to the Israel youth village of Ben Shemen where she met her husband.

During World War Two, Peres volunteered to serve in the British army and fight against the Germans. When she returned to Israel after the war in 1945, she and the future president were wed.

The couple was married for 67 years.

Sonia Peres rarely appeared in the public eye, preferring to play a backstage role in her husband’s six-decade political career, a decision which sometimes drew scathing criticism.

Sonia and Shimon Peres, October 1984 (Photo : Haaretz )

There were those, for instance, that saw a connection between Peres’ inconspicuousness to the Labor Party’s election downfall in 1981, with some saying that the party would have von had she stood at her husband’s side.

Referring to that period, Shimon Peres biographer Michael Bar-Zohar wrote that “Sonia’s absence from Shimon side caused him severe political damage,” adding that her “charming personality would have undoubtedly added another dimension to her husband, and instead of the slightly sad, lonely man, many would have seen a loving and warm couple.”

One of Sonia Peres’ last public appearances was in April 1990, when she attended the somewhat awkward occasion of the swearing in of the government then constructed by her husband. She sat at the VIP section, looking on as the Haredi factions sabotaged the cabinet’s formation, leading to the meeting’s eventual dispersal.

When asked at one time why she chose to stay away from the public eye, Peres said:” I married a dairy farmer.”

In fact, Peres opted to stay in their Tel Aviv home when her husband moved into the presidential residence in Jerusalem in 2007. The two lived separately until her death.

Prime Minister Benjamin Netanyahu called Shimon Peres and expressed his condolences. “In her quiet and modest life, Sonia represented good-heartedness and turned into a symbol and example of modesty and love of man,” said Netanyahu.

Defense Minister Ehud Barak said Thursday that “Sonia Peres was a very special woman and human being. She was the epitome of modesty, simplicity and loving kindness. Throughout the years she stayed out of the limelight and maintained her privacy, working tirelessly on behalf of those in need. All who knew her adored and admired her. May her memory be blessed.”   (*)

 
Comments Off on Sonia Peres, wife of President Shimon Peres, dies at 87

Posted by on January 22, 2011 in World News

 

Tags: , ,