RSS

Tag Archives: Benjamin Netanyahu

Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

President Mahmoud Abbas held talks Saturday (26/3/2011) with Hamas leaders in Ramallah, in a meeting both sides described as “positive.” As reported by Ma’an News Agency on Saturday, Aziz Dweik, the Hamas head of the Palestinian legislature, said the meeting was “highly positive” and that “practical moves on the ground will taken in the coming days” regarding Abbas’ proposed visit to Gaza to make a unity deal.

 

Jakarta, 27/3/2011 (KATAKAMI.COM) — Akhirnya Presiden Palestina Mahmoud Abbas menepati ucapannya sendiri yaitu menemui pihak Hamas, rival politik terberat dari kubu Fatah ( yang merupakan kubu dari Presiden Abbas).

Walaupun sebenarnya, pertemuan ini belum merupakan pertemuan antar dua rival politik yang sesungguhnya. Sebab yang dinantikan oleh semua pihak adalah pertemuan antara Presiden Mahmoud Abbas dengan Perdana Menteri Ismail Haniyeh yang bermarkas di Jalur Gaza.

Pertemuan di hari Sabtu (26/3/2011) itu adalah pertemuan antara Abbas dan delegasi parlemen Hamas.

Tapi walaupun ini belum merupakan pertemuan puncak antar kedua pemimpin tertinggi, tetap saja pertemuan tersebut harus disambut baik oleh semua pihak.

Sebab apapun permasalahannya, Presiden Abbas memang harus membuka semua peluang bagi terciptanya persatuan didalam internal Palestina sendiri.

Arah dari pertemuan antara pihak Presiden Abbas dan Hamas adalah mencari peluang bagi koalisi utuh antara Fatah dan Hamas didalam pemerintahan Palestina secara keseluruhan.

Seperti dilansir oleh Kantor Berita Ma’an News Agency pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Aziz Dweik  — yang merupakan Ketua  Legislatif Hamas — mengatakan bahwa pertemuan itu “sangat positif. Kunjungan ini telah menjadi tuntutan rakyat dan harus dijawab,” kata Dweik.

 

Perdana Menteri Hamas ( di Jalur Gaza ) Ismail Haniyeh

 

Terutama untuk mengantisipasi rencana kunjungan Presiden Abbas ke Jalur Gaza untuk bertemu PM Ismail Haniyeh.

Jadi, tak lagi terpecah antara Fatah dan Hamas.

Seakan-akan, Palestina terbagi antara 2 negara bagian yaitu West Bank ( Tepi Barat ) dan Gaza Strip ( Jalur Gaza ).

Palestina ya Palestina.

Palestina memang harus menjadi satu kesatuan yang utuh tak terpisahkan.

Solid.

Jangan lagi terpecah dua secara berkepanjangan.

Walaupun kalau mau jujur, niat dari Presiden Abbas membangun “koalisi persatuan” antara Fatah dan Hamas akan sulit diwujudkan dalam panggung politik yang riil.

Tingginya tingkat militansi yang kuat melekat dalam diri Hamas, akan menjadi beban bagi koalisi persatuan itu di kemudian hari.

Dan jika itu sudah menjadi beban politik maka konsekuensinya adalah segala tindak-tanduk Hamas yang kerap kali membuka ruang konfrontasi dengan negara tetangganya yaitu Israel, mau tak mau harus menjadi beban politik bagi Presiden Abbas dan kabinet koalisi persatuan yang diimpikannya.

Abbas memang harus mendapat hormat dan penghargaan yang tinggi.

Ia menunjukkan upaya yang serius untuk melakukan terobosan-terobosan yang sangat penting untuk Palestina.

Abbas memang figur yang kuat dan sangat sentral dalam proses perdamaian ini.

Dia yang terbaik untuk menjadi pemimpin di Palestina selama ini.

Tapi sayang, pertemuan Presiden Abbas dan Hamas di akhir pekan inipun sebenarnya terlaksana di saat suasana masih sangat panas antara Hamas dan Israel.

 

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat memimpin rapat kabinetnya pada hari Minggu, 27 Maret 2011. Dalam pernyataannya, PM Netanyahu mengumumkan bahwa terhitung hari Minggu (27/3/2011) telah dilakukan penempatan IRON DOME atau sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian selatan Israel. Tetapi Netanyahu menjelaskan bahwa IRON DOME ini belum bisa melindungi setiap rumah, sekolah dan basis pertahanan di Israel secara keseluruhan. Pemerintah Israel, lanjut PM Netanyahu, memang menyadari bahwa penempatan IRON DOME ini bukan merupakan solusi yang komprehensif, mengingat tingginya ancaman yang diterima Israel dari Pihak Hamas. Netanyahu menambahkan bahwa tingginya ancaman dari HAMAS, hanya bisa dihadapi dengan kombinasi antara tindakan ofensif dan pencegahan dengan langkah-langkah pertahanan. Netanyahu juga mengatakan bahwa Hamas bertanggung jawab atas segala sesuatu yang selama ini mereja tembakkan dari Jalur Gaza ke arah Israel.

 

Terhitung hari Minggu (27/3/2011) ini, Israel Defense Force atau IDF mendapat perintah dari Departemen Pertahanan Israel untuk memasang Sistem Penangkal Roket di daerah BERSYEBA, yang terletak di bagian Selatan Israel yang ditujukan oleh mendeteksi dan menangkal semua roket atau mortar yang dikirimkan terus menerus dari pihak Hamas.

Penempatan sistem pertahanan roket di daerah BERSYEBA ini, masih dalam tahap pengujian selama beberapa minggu mendatang.

Rencana pemasangan sistem pertahanan roket ini, pertama kali dicetuskan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu seusai menerima kunjungan dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang datang berkunjung ke Israel hari Jumat (25/3/2011) lalu.

Gates berkunjung ke Israel dan Palestina, menjelang memasuki masa pensiunnya sebagai orang nomor satu di Pentagon ),

Seperti yang diberitakan oleh Voice of America pada hari Sabtu ( 26/3/2011), Pemerintah Israel memutuskan akan memasang sistem pertahanan roket yang mahal sebagai tanggapan atas meningkatnya serangan mortir dan roket baru-baru ini ke Israel selatan dari Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.

Sistem pencegat yang disebut “Iron Dome” atau Kubah Besi itu mampu menembak jatuh roket-roket yang ditembakkan dalam jarak lima sampai 70 kilometer.

Keputusan Israel itu menyusul janji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hari Jumat bahwa pemerintahnya siap bertindak dengan “kekuatan besar” untuk menghentikan serangan roket dari Gaza.

Puluhan roket dan mortir telah ditembakkan di perbatasan Israel-Gaza dalam seminggu ini. Militer Israel membalas dengan serangan udara, menjadikannya peningkatan kekerasan paling serius sejak berakhirnya Perang Gaza dua tahun lalu.

Ini adalah sinyalemen yang sangat kuat dari Israel bahwa mereka sudah kehilangan kesabaran.

Bisa dispekulasikan bahwa pemasangan sistem penangkal roket itu hanya sebagian kecil dari serangkaian panjang tindakan-tindakan yang sangat sistematis dari pihak militer Israel untuk mengantisipasi semua bentuk ancaman pada wilayah terorial mereka.

 

UN Sec.Gen Ban Ki-moon

 

Dan seiring dengan terlaksananya pertemuan antara Presiden Abbas dengan Hamas, tercetus juga keinginan dari Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Jadi ternyata, atmosfir perang tak hanya terjadi di Libya.

Gejala awal dari peperangan baru antara Israel dan Hamas sudah mulai tampak jelas di mata dunia.

Hamas juga meminta perhatian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations) untuk secara serius melindungi kalangan sipil di Jalur Gaza dari ancaman serangan militer Israel.

Pertanyaannya, jika Hamas meminta perlindungan dari PBB, maka bukankah hal yang sama juga bisa diminta oleh pihak Israel kepada PBB ?

Sama saja, Israel juga mendapat serangan militer dari Hamas.

Tak cuma sekedar gertak sambal, tindakan provokasi yang berbentuk kriminalitas yang sangat serius dan aksi teror bom juga sudah dialami oleh Israel dalam 2 pekan terakhir.

Pembunuhan terhadap satu keluarga keturunan Yahudi di kawasan Itamar ( Nablus) dan serangan bom di sebuah halte bis di Yerusalem.

Begitu juga serangan balasan dari Israel, sedang terus dilakukan ( dengan dilengkapi oleh pemasangan sistem penangkal roket ).

Kembali pada masalah tawaran Hamas untuk melakukan gencatan senjata dengan Israel.

Satu hal yang harus diingat oleh Hamas bahwa memanasnya situasi terakhir selama 2 pekan terakhir ini bukan sekedar kontak senjata antara sayap militer Hamas dengan pihak militer Israel.

Pembunuhan yang terjadi di Itamar ( Itamar Killings), tak menggunakan senjata api yang canggih. Sebab pembunuhan itu terjadi dengan menggunakan senjata konvensional yaitu senjata tajam berupa pisau untuk menikami secara sadis sepasang suami isteri dan 3 orang anak Yahudi.

Tak ada senjata api disitu.

Tak ada bom.

Tak ada misil.

Sangat konvensional !

Cukup dengan menggunakan pisau, satu keluarga Yahudi mati dibunuh secara sadis.

Disinilah permasalahan yang sebenarnya !

Lalu, masuk pada serangan bom yang meledakkan sebuah halte bis di Yerusalem beberapa hari lalu.

Itu menewaskan satu warga asing yaitu seorang perempuan misionaris berkewarganegaraan Skotlandia.

Posisi Israel menjadi diatas angin terkait serangan bom di Yerusalem.

 

Kelompok Kwartet Untuk Urusan Timur Tengah ( dari kiri ke kanan ) : Tony Blair mewakili Inggris, Hillary Clinton mewakili Amerika Serikat, Sergei Lavrov mewakili RUSIA, Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan Chaterine Ashton sebagai Ketua Komisi Luar Negeri pada UNI EROPA

 

Sebab PBB dan komunitas internasional mau tak mau harus mengutuk serangan bom di Yerusalem beberapa hari lalu.

Disaat Hamas meminta PBB melindungi warga sipil di Jalur Gaza, faktanya warga sipil ( termasuk warga asing yang bergerak di bidang keagamaan ) jadi korban aksi teror bom.

Tetapi kalau mau jujur, serangan bom di Yerusalem itu BELUM TENTU juga merupakan perbuatan dari Hamas.

Sebab sampai ini, belum ada bukti bahwa ledakan bom itu hasil perbuatan Hamas.

Barangkali, patut dapat diduga ada PIHAK KETIGA yang ingin mengadu-domba dan lebih memperparah situasi ( dan konfrontasi ? ) antara Israel dan Hamas.

Sebab kalau dilihat dari rangkaian serangan mortar dari Hamas yang terjadi selama ini kepada Israel, biasanya mereka akan mengincar dan melakukan serangan-serangan mortar / roket ke wilayah perbatasan.

Sangat jarang bisa menembus masuk sampai ke dalam arah wilayah Israel.

Jadi, waspadailah juga PIHAK KETIGA.

Sebenarnya kalau mau jujur, tak akan mungkin Hamas bisa lalu lalang didalam wilayah Israel.

Diluar pihak Israel sendiri, yang bisa masuk ke dalam wilayah Israel adalah wisatawan dan kalangan perwakilan diplomatik yang memang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Sehingga, ada kemungkinan PIHAK KETIGA yang menciptakan provokasi untuk memperburuk dan memperparah situasi antara ISRAEL dan PALESTINA.

Tetapi dugaan tentang keterlibatan HAMAS dibalik aksi teror bom di hal bis Yerusalem baru-baru ini, tetap harus terbuka lebar karena selama ini yang patut dapat diduga sangat agresif melakukan berbagai serangan ke Israel adalah PIHAK HAMAS.

Tapi ya, sekali lagi, tudingan tidak bisa begitu saja diarahkan kepada PIHAK HAMAS.

Untuk menghajar Israel yang dianggap sangat “tak bisa diatur” oleh kekuatan asing manapun, bisa dispekulasikan bahwa satu-satunya cara yang dianggap paling ampuh adalah memaksa Israel untuk emosi.

Lalu menyerang balik secara sangat amat keras ( dan brutal ) ke pihak Hamas.

Karakter Israel yang sangat tak bisa diusik sedikitpun untuk urusan keamanan, menjadi salah satu yang barangkali menjadi pertimbangan.

Bagaimana caranya agar Israel terpancing untuk marah ?

Bagaimana caranya agar Israel menyerang dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat ke arah sipil di Gaza ?

Bagaimana caranya agar setelah serangan militer yang spektakuler itu, akan sangat banyak kalangan sipil di Gaza yang mati sia-sia ?

Jika semua itu sudah terjadi, jangan heran misalnya ada negara tertentu yang meminta agar Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat.

Dan kalau perlu mengeluarkan Resolusi ( yang ke sekian kalinya ) untuk Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kanan, berjabatan tangan dengan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam sebuah pertemuan di New York tanggal 22 September 2009

 

Inilah yang harus sangat diingat oleh Israel, kendalikan semua situasi dan perangkat militer dalam menyikapi perkembangan situasi dan keamanan antara Israel dan Hamas.

Jadi, kalau Hamas menawarkan gencatan senjata, satu hal yang harus dipertanyakan, sebenarnya kapankah peperangan itu dimulai ?

Apakah memang peperangan terbaru ini yang memang didahului oleh pihak Israel ?

Apakah situasi yang sangat buruk akhir-akhir ini merupakan inisiatif dari pihak Israel ?

Apakah pembunuhan brutal di Itamar ( Itamar Killings ) memang merupakan bagian dari peperangan antar kekuatan militer ?

Sebab, jika menggunakan kata GENCATAN SENJATA maka dalam bayangan setiap orang adalah situasi perang yang sangat tak terkendali.

Tawaran gencatan senjata dari Hamas kepada Israel, memang harus direspon oleh pihak Israel.

Israel, apa jawabanmu ?

Jawablah tawaran gencatan senjata dari pihak Hamas …

Semua pihak menginginkan agar situasi politik dan keamanan di Israel dan Palestina, sama-sama aman, kondusif dan terkendali.

Jangan ada lagi anarkisme.

Jangan ada lagi brutalisme.

Jangan ada lagi kriminalisme.

Jangan ada lagi terorisme.

 

Perdana Menteri Palestina Salam Fayaad dan Presiden Mahmoud Abbas

 

Mahmoud Abbas menemui Hamas. Hamas tawarkan gencatan senjata pada Israel.

Israel, ( sekali lagi kalian ditanya ), apa jawabanmu terhadap tawaran gencatan senjata itu ?

Kalau dari perkiraan akal sehat maka tawaran ini akan ditampik oleh Israel.

Sebab Israel memang sudah sangat marah karena warganya dibunuh dan keamanan di dalam negeri mereka juga terancam terus menerus.

Tapi, pikirkanlah kepentingan yang lebih besar, daripada hanya sekedar marah dan marah, sebagai wujud dari rasa geram yang berkepanjangan.

Biarkan PBB dan komunitas internasional melihat serta menilai, apakah betul brutalitas yang berisi seribu satu macam tindakan anarkisme itu,  hanyalah melulu didominasi oleh pihak Israel semata ?

Jawablah Israel, jawablah (rencana) tawaran Hamas untuk gencatan senjata.

Jawablah dengan bahasa diplomatik yang terukur dan terarah, fokus pada itikat baik dan keseriusan melanjutkan peta jalan menuju perdamaian yang sesungguhnya antara Israel dan Palestina.

Dahulukan kepentingan yang lebih besar yaitu menyelamatkan dan melanjutkan proses damai antara Israel dan Palestina.

Jangan menjawab dengan kekuatan militer yang sangat besar dan kuat untuk menggempur Jalur Gaza !

Jangan, sekali lagi jangan !

Sebab itu akan sangat membahayakan kalangan sipil tak bersenjata ( dan disinilah letak keberuntungan Hamas, bahwa mereka berada diantara kalangan sipil tak bersenjata di Jalur Gaza tetapi dari Jalur Gaza mereka bisa melempari Israel dengan sedemikian banyak roket dan mortar ).

 

 

Baik Israel, maupun Palestina, harus sama-sama bersedia memberikan pengakuan atas keberadaan dari negara tetangga mereka masing-masing.

Israel mengakui bahwa Palestina adalah sebuah negara yang berdaulat.

Dan Palestina juga mengakui bahwa Israel adalah sebuah negara yang berdaulat.

Mungkinkah ini terjadi ?

Dunia menunggu jawaban dari Israel dan Palestina …

Sudah terlalu lama komunitas internasional menunggu perdamaian itu tercapai, sehingga memang perlu bagi semua pihak untuk berperan serta membukakan jalan yang selebar-lebarnya bagi Palestina untuk memproklamirkan diri mereka sebagai sebuah negara.

Tak ada alasan untuk tidak mendukung berdirinya Negara Palestina.

Sudah sangat lama mereka menunggu kesempatan itu terjadi.

Tetapi hendaklah agenda yang sangat penting terkait berdirinya Negara Palestina ini, tak perlu sampai harus mengorbankan banyak hal. Dan tak perlu menistakan atau mendorong-dorong Israel agar mereka masuk dalam perangkap permainan yang bertujuan menciptakan perang baru.

Jadi, untuk yang ke sekian kalinya, Hamas dan Israel sama-sama dihimbau untuk menahan diri dan tidak terus menerus saling serang antar kekuatan militer.

Dan kalau mau jujur, tak dibutuhkan istilah gencatan senjata dalam konteks Israel dan Hamas.

Yang dibutuhkan disini adalah kesadaran dan kemampuan dari masing-masing pihak untuk saling menghormati dan saling menghargai.

Jangan menyerang, jika tidak ingin diserang.

Dan jangan lakukan, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

 

 

(MS)

Advertisements
 
Comments Off on Mahmoud Abbas Temui Hamas, Hamas Ingin Gencatan Senjata, Israel Apa Jawabanmu ?

Posted by on March 27, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Israel Plans Deploment of Rocket Defense System

Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu

 

ISRAEL, March 26, 2011 (KATAKAMI.COM) — The Israeli government has decided to deploy an expensive rocket defense system in response to the recent increase in mortar and rocket fire into southern Israel from the Hamas-ruled Gaza Strip, VOA reported.

This so-called “Iron Dome” interceptor system is said to be capable of shooting down rockets fired from a range of five to 70 kilometers.

Israel’s decision follows Friday’s pledge by Prime Minister Benjamin Netanyahu that his government is prepared to act with “great force” to halt rocket attacks from Gaza.

Dozens of rocket and mortar shells have been fired across the Israeli-Gaza border in the past week. The Israeli military has responded with air strikes, in the most serious escalation of violence since the end of the Gaza War two years ago.

Mr. Netanyahu spoke Friday, on the same day he met in Jerusalem with U.S. Defense Secretary Robert Gates.

Gates was in the region to get the stalled Israeli-Palestinian peace process back on track. He later became the first U.S. defense chief to visit the West Bank. He met in Ramallah with Palestinian Prime Minister Salam Fayad.

Mr. Fayad said this is a “time of great challenge” throughout the region, but also a “time of opportunity.”

Gates traveled to Israel from Egypt, where he held talks with officials about the pro-democracy movement sweeping across the Middle East. He stopped in Jordan for talks with King Abdullah on Friday before leaving for home. (*)

 

 
Comments Off on Israel Plans Deploment of Rocket Defense System

Posted by on March 26, 2011 in World News

 

Tags: ,

Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Presiden Rusia Dmitry Medvedev berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Israel yang datang berkunjung ke Rusia, Kamis 24 Maret 2011.

 

Jakarta ( 25/3/2011) —- Ibarat api yang percikannya sudah mulai menyambar ranting-ranting pohon di hutan belantara, saat ini situasi antara Israel dan Palestina ( khususnya kubu Hamas yang menguasai Jalur Gaza ) sudah mulai membara.

Panas.

Menyala.

Jika boleh memakai ilustrasi yang sangat sederhana, situasinya kini memang sudah menyerupai api yang siap membakar “hutan belantara” tadi. Jika api itu tak cepat dipadamkan maka api akan menyambar kemana-mana. Lalu akhirnya, akan membakar hutan itu secara keseluruhan. Jika sudah terjadi kebakaran yang hebat, maka apa saja akan dilahap oleh sang api.

Meningkatnya eskalasi keamanan antara Israel dan Hamas sudah pantas untuk diwaspadai.

Saling serang dan saling balas-membalas, sedang jadi tren yang kuat antara kekuatan militer Israel dan Hamas.

Tampaknya, Hamas mulai menguasai watak dan kebiasaan Israel yang tak bisa diprovokasi.

Sedikit saja Israel diusik, maka mereka akan membalas.

Dan kalau Israel sudah membalas, maka akan mudah menciptakan suasana yang sangat panas membara seperti saat ini.

Tidak biasa-biasanya, provokasi Hamas sangat berkepanjangan ( ibarat kalimat yang tidak memerlukan titik dan koma. Main hantam saja. Sehingga siapapun yang membaca kalimat itu akan jadi ngos-ngosan. Kehabisan nafas).

 

Inilah Keluarga UDI FOGEL yang dibunuh secara brutal di Itamar, Nablus : Sang ayah UDI FOGEL (36 tahun), isterinya Ruth ( 35 tahun) dan ketiga anak mereka : Yoav ( 11 tahun), Elad ( 4 tahun ) dan Hadas ( 3 bulan ). Mereka dibunuh secara brutal tanggal 11 Maret 2011. Kasus pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) merupakan sebuah tragedi pembunuhan yang sangat brutal dan mengerikan sekali.Mereka sekeluarga mati ditikam sampai di atas tempat tidur mereka. Ada dua anak lain dari keluarga UDI FOGEL ini yang juga di rumah tetapi mereka tidak ikut celaka. Pembunuhan Itamar ( Itamar Killings) ini bisa bisa diketahui saat anak perempuan tertua dalam keluarga itu (Tamar) tiba di rumahnya. Pembunuhan ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dan komunitas internasional lainnya.

 

Berawal dari terbunuhnya satu keluarga Yahudi beberapa minggu lalu di kawasan Itamar. Sepasang suami isteri dan 3 orang anaknya, habis dibantai secara sadis.

Tragedi ini saja sudah hampir dapat dipastikan memancing kemarahan yang sangat dalam dari Pemerintah dan rakyat Israel.

Israel membalas.

Lalu disambung lagi dengan ledakan bom yang terjadi di Yerusalem hari Rabu ( 23/3/2011). Satu orang warga asing mati akibat ledakan itu dan korban luka juga sangat banyak.

Tak kurang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki-moon dan komunitas internasional lain mengutuk serangan bom di Yerusalem.

Bom itu yang meledak di hari keberangkatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Rusia.

Bibi memang tidak membatalkan kunjungannya ke Rusia.

Ia hanya menunda selama beberapa jam jadwal keberangkatannya ke Rusia.

Dan hari Kamis (24/3/2011), Bibi Netanyahu telah menuntaskan agenda kunjungannya ke Rusia dengan bertemu dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Bisa jadi PM Netanyahu merasa galau sepanjang ia menjalani agenda kunjungannya ke Rusia.

Sebab situasi di negaranya sedang tak “nyaman” akibat ledakan bom sebuah halte bis di Yerusalem.

Memang korbannya tidak terlalu mengerikan tetapi ledakan bom itu seakan melukai perasaan dan martabat Israel sebagai sebuah bangsa.

Satu orang perempuan warga negara Inggris mati akibat ledakan bom itu dan sejumlah besar lainnya menjadi korban luka.

Korban tewas tersebut adalah MARY GARDNER ( 55 tahun ), ia adalah MISIONARIS yang sehari-hari bekerja sebagai penterjemah injil. Tetapi MARY, yang merupakan keturunan SKOTLANDIA ini, juga sedang menjalani pendidikannya di HEBREW UNIVERSITY di Israel.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ( duduk di tengah ), didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak dalam acara pergantian Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF), dari Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi ( duduk paling kiri ) kepada Letnan Jenderal Benny Gantz ( berdiri ), di Yerusalem, 14 Februari 2011.

 

Siapapun yang saat ini bicara dari pihak Israel ( entah itu Menteri Pertahanan Ehud Barak, Menteri Luar Negeri Avigdor Liebermen atau Wakil Menteri Luar Negeri Danny Ayalon), semua akan sama nuansa dan nadanya dalam pernyataan-pernyataan mereka saat ini yaitu semua menyatakan kemarahan Israel atas tantangan dan provokasi fisik dari pihak Hamas.

Pertanyaannya sekarang, apakah Israel mau mengikuti gendang permainan Hamas ?

Waspadai trik yang sengaja dibuat sangat berani seperti ini yaitu menyerang, menyerang dan terus menyerang Israel.

Supaya sampai pada satu titik tujuan yang sesungguhnya yaitu membuat Israel tiba pada puncak kemarahan mereka yang tak akan bisa dikendalikan lagi.

Jika kemarahan Israel sudah tak mungkin lagi dikendalikan maka jangan heran jika perang baru ( yang menyamai atau bahkan jauh lebih parah dari Perang Gaza pada periode Desember 2008 – Januari 2009 ) akan terulang kembali dalam format yang sama.

Perang Gaza yang sangat mengerikan itu, dipicu atas teror HAMAS yang mengirimkan ratusan mortar ke wilayah Israel persis di MALAM NATAL tanggal 24 Desember 2008.

Bayangkan, di saat semua umat Kristani sedang hening mengarahkan hati menyambut datangnya NATAL, ratusan MORTAR menghujani wilayah Israel.

Israel tak  membalas di saat yang sama. Sehari duahari mereka diam.

Tapi dua hari setelah teror mortar di MALAM NATAL itu, Israel mengamuk menyerang ke arah Jalur GAZA dengan kekuatan militer penuh yang menewaskan begitu banyak warga Palestina di jalur Gaza.

Format peperangan yang menempatkan Israel sebagai agresor kejam yang tak akan berhenti menumpas Hamas dan warga sipil di Jalur Gaza, akan terulang kembali kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan kemarahan mereka.

 

Presiden Israel Shimon Peres ( kiri ) didampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ( tampak samping ) dalam upacara pemakaman Ibu Negara Sonia Peres yang meninggal dunia tanggal 21 Januari 2011 di Ben Shemen, Israel

 

Itu sebabnya, Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus sangat hati-hati merespon situasi belakangan ini.

Maukah Israel masuk dan mengikuti gendang irama lawan ?

Maukah Israel diarahkan untuk terus terpancing, tertantang dan terprovokasi emosinya sehingga akhirnya ( patut dapat diduga ) memang diharapkan menumpas habis pihak lawan ?

Cepatlah menyadari indikasi seperti ini …

Jangan mau mengikuti gendang irama lawan !

Kendalikan semua perangkat militer dan maksimalkan semua jalur diplomatik Israel ( terutama di Perserikatan Bangsa Bangsa ).

Jika memang terjadi lagi gangguan keamanan yang sangat serius, tempuhlah jalur diplomatik di tingkat internasional.

Kendalikan, sekali lagi, kendalikan diri secara baik !

Dalam sebuah taktik perang, kedok yang paling jitu untuk menyembunyikan agenda-agenda dan operasi yang sesungguhnya, memang dibutuhkan umpan pemancing.

Jangan mau dipaksa untuk menjadi agresor yang ujung-ujungnya akan mendapat cap sebagai pembantai kalangan sipil.

Disinilah dibutuhkan kematangan, ketenangan dan sikap yang bijaksana dari Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Panasnya situasi di kawasan Timur Tengah, jangan sampai menjalar ke Israel dan Palestina.

Hati-hati dengan taktik dan jaring perangkap yang sedang dipasang.

Untuk membuat Israel bisa menjadi sangat garang, buas dan tak kenal ampun dalam membabat habis musuh-musuhnya, tampaknya memang sengaja dipancing dengan satu dan dua umpan provokasi.

Sekali lagi, jangan mau mengikuti irama gendang permainan lawan.

Memang sangat menyakitkan hati jika ada rangkaian provokasi fisik yang sangat serius ditujukan pada Israel.

Kalau tak dibalas, rasanya belum puas dan tuntas.

Tetapi kalau dibalas, maka nyanyian “kutukan” akan berkumandang dari komunitas internasional.

Waspadai juga pihak terselubung yang barangkali saja menjadi aktor intelektual dari semua kejadian ini.

Sengaja didorong dan digosok-gosok situasi, “Ayo serang Israel, ayo serang lagi, terus, ayo terus, bikin serangan yang lebih spektakuler !”.

 

(Tampak belakang dari paling kiri ) : Raja Abdullah dari Kerajaan Yordania, Presiden Mesir Hosni Mubarak, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Barack Obama seusai melakukan konferensi pers di Gedung Putih, 1 September 2010

 

Siapa bilang tidak mungkin ada pihak ketiga yang menikmati memanasnya hubungan antara Israel dan Palestina ?

Sebab barangkali saja, dianggap memang tidak mungkin alias sulit membuat Israel menjadi kacau balau, seperti yang terjadi di sejumlah negara yaitu sangat babak belur situasi politik dan keamanannya sejak 3 bulan terakhir ini di kawasan Timur Tengah.

Sehingga patut dapat diduga, satu-satunya cara yang dianggap sangat manjur untuk bisa memojokkan Israel di mata dunia internasional adalah memancing dulu agar Israel bertindak brutal.

Israel harus dibuat sangat brutal dulu.

Kalau Israel sudah murka semurka-murkanya ( apalagi kalau angka kematian di pihak sipil sudah sangat banyak ), maka tercapailah keinginan untuk bisa mencaci maki dan menyeret Israel menjadi seorang pesakitan yang dihujat oleh komunitas internasional.

Jadi kalau Israel tidak bisa menahan diri dan mengendalikan semua kekuatan militernya, pihak lawan yang akan bertepuk tangan gembira.

Senang kalau misalnya taktik mereka berhasil.

Senang kalau misalnya agenda menghidupkan koor atau paduan suara komunitas internasional untuk mengutuk Israel, akan segera tercapai.

Dan bagi siapapun yang bermain di belakang layar agar situasi antara Israel dan Hamas semakin memanas, janganlah memancing di air keruh.

Biarkan proses damai itu dilanjutkan dan tercapai dengan hasil yang sangat memuaskan.

Jangan justru proses damai antara Israel dan Palestina justru sengaja dibuat agar jalan di tempat ( atau malah berjalan mundur ).

Jangan menyerang, kalau tak ingin diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Janganlah menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling mahir mengusung nilai-nilai perdamaian ( tetapi sebenarnya di belakang layar menjadi provokator ulung yang mengaca-acak situasi politik dan keamanan dari negara lain ).

Jangan pojokkan Israel.

Bahkan seolah-olah mereka ini adalah sebuah  bangsa yang tidak terkendali.

Keselamatan mereka diancam secara nyata, apakah mereka harus diam ?

 

Foto dari kiri ke kanan : Kepala Staf Angkatan Darat Israel ( IDF ) Letnan Jenderal Benny Gantz, Menteri Pertahanan Ehud Barak, Presiden Shimon Peres, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel (IDF Chief of Staff) Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi

 

Keselamatan rakyat mereka ( dan warga asing yang sedang berada di negara mereka ), diancam, diganggu dan dilukai secara nyata), apakah mereka harus diam ?

Sungguh dilematis saat ini posisi Israel.

Tetapi semua ini dikembalikan kepada Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, apakah anda berdua bersedia meladeni gendang permainan lawan ?

Sebaiknya, situasi ini dipelajari lagi dengan sangat hati-hati.

Waspadai agenda besar yang sedang dipasang sebagai sebuah perangkap untuk Israel.

Perangkap berbahaya yang muaranya adalah menghancurkan dan menggagalkan misi damai antara Israel dan Palestina.

Namanya juga permainan politik.

Jangan lampiaskan kemarahan secara berlebihan.

Jangan kerahkan seluruh kesiap-siagaan personil dan persenjataan militer Israel  dengan sangat maksimal dan berkekuatan penuh.

Pikirkan, pikiran semua dengan sangat bijaksana.

Sebab pengalaman adalah guru yang baik.

Belajarlah dari banyak kejadian di masa lalu yang menempatkan Israel sebagai pihak yang selalu dan selalu terpojokkan.

Jika ada satu nyawa saja dari kalangan sipil yang jadi korban ( baik itu dari pihak Israel atau Hamas dan masyarakatnya di Jalur Gaza), maka respon dari komunitas internasional akan sangat cepat menyambar bagaikan petir di siang bolong.

Jadi, waspadalah. Waspadalah. Waspadalah.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin ( Bibi ) Netanyahu

 

Dan secara khusus kepada Perdana Menteri Bibi Netanyahu, hendaklah tidak terus menekan Hamas untuk menuntaskan rangkaian pembalasan yang sangat setimpal.

Jangan Bibi, jangan kerahkan kekuatan militer anda dengan kekuatan sangat penuh untuk membalas ke arah Hamas di Jalur Gaza.

Sekali lagi, jangan.

Tolong jangan !

Setiap kata yang anda ucapkan, hampir dapat dipastikan tidak akan anda ingkari.

Pikirkan segala sesuatunya dengan tenang.

Pikirkan dampak terburuk jika Israel terpancing dan termakan dalam emosi yang berkepanjangan.

Jika anda katakan akan menyerang dengan kekuatan militer yang penuh maka itu akan segera menjadi kenyataan.

Tapi jangan Bibi, jangan …

Kekuatan militer Israel sebenarnya sangat tidak seimbang jika dibandingkan dengan Hamas.

Mau diatas kertas, atau secara riil di lapangan, IDF ( militer Israel ) pasti akan sangat mudah menekan, memberangus dan memenangkan setiap bentuk pertempuran.

Mau dari darat, laut atau udara, jangan ragukan kemampuan militer Israel.

Tapi, disini ada begitu banyak warga sipil yang bisa terkorbankan alias mati sia-sia kalau peperangan baru antara Israel dan Hamas dibiarkan membuka babak baru mereka di tahun 2011 ini.

Jadi, Pemerintah Israel harus menahan diri sebab sesungguhnya ( dan sejujurnya ) kemarahan Israel sedang sangat DITUNGGU-TUNGGU oleh pihak tertentu.

 

Sayap militer Hamas

 

Dan kepada Hamas, berhentilah berteriak kepada dunia internasional untuk menekan Israel dengan dalih untuk melindungi warga sipil di Jalur Gaza !

Mengapa ?

Eh, sebelum kalian meminta Israel berhenti mengancam keselamatan warga sipil di pihak kalian, hentikanlah terlebih dahulu semua aksi TEROR dan provokasi fisik kalian kepada rakyat Israel.

Bukankah itu TEROR namanya, mengancam dan merusak rasa aman serta keamanan di wilayah orang ?

Anda merasa berhak menyerang tetapi pihak lawan tak boleh membalas menyerang ?

Harus pihak anda saja yang sah dan legal melakukan teror dan provokasi fisik ke wilayah orang ?

Lho, kalian itu siapa, kok bisa-bisanya menghajar negara orang dengan seenaknya ?

Dan ingatlah bahwa di Israel, juga terdapat begitu banyak warga asing yang berkunjung untuk kepentingan yang sifatnya relijius ( mengingat Israel adalah tanah suci bagi umat Kristiani ).

Sehingga ancaman fisik yang diarakan secara langsung ke Israel, juga mengancam warga asing yang sedang berada di sana.

Sekali lagi, jangan menyerang, kalau tak mau diserang.

Dan jangan lakukan kepada orang lain, apa yang kita tidak ingin agar orang lain melakukan hal itu kepada diri kita.

Seakan-akan, jari tangan anda hendak menunjuk ke arah muka Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu bahwa pihak mereka yang paling brutal.

Eh, tunjuk dulu muka anda sendiri, baru tunjuk muka orang lain !

Sebab segala sesuatunya memiliki unsur sebab akibat.

Hormatilah proses damai yang sedang diperjuangkan semua pihak dari komunitas internasional kepada pihak Israel dan Palestina. Jangan dirusak. Jangan dihambat. Dan jangan digagalkan.

Semua juga tahu bahwa HAMAS adalah kekuatan politik riil yang harus diakui eksistensinya di mata dunia internasional.

Tetapi sebagai kekuatan politik riil yang mendapat kepercayaan dari warga di Jalur Gaza, HAMAS harus lebih elegan dalam bersikap.

Akan jauh lebih baik, jika HAMAS merespon tawaran dari Presiden Mahmoud Abbas untuk segera mendamaikan dan menyatukan antara kubu Fatah dan Hamas.

Fokuskanlah semua perhatian dan upaya untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan antara Fatah dan Hamas.

Jangan melebar ke topik lain, apalagi sampai melakukan teror kepada negara lain.

Begitu gigih komunitas internasional mengusahakan agar perdamaian itu terwujud.

Apa yang akan terjadi, kalau ternyata semua usaha itu menjadi sebuah kesia-siaan belaka ?

Jangan lagi ada perang baru yang sangat mengerikan dan mengancam keselamatan rakyat di masing-masing pihak.

Israel dan Palestina.

Berdamailah !

 

 

 

(MS)

 
Comments Off on Berharap Shimon Peres Dan Netanyahu Menahan Diri Atas Teror Hamas Demi Perdamaian Israel dan Palestina

Posted by on March 25, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Medvedev and Netanyahu discussed bilateral relations between the two states and the situation in the Middle East

Russian President Dmitry Medvedev (R) shakes hands with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu during their meeting at the Gorki residence outside Moscow in March 24, 2011 ( Photo : Kremlin.Ru)

March 25, 2011 (KATAKAMI.COM / KREMLIN.RU) — Russian President Dmitry Medvedev and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu on Thursday discussed bilateral relations between the two states and the situation in the Middle East and North Africa.

At the start of the meeting, the Russian President expressed his condolences to the families of those killed in Jerusalem terrorist attack on March 23.
* * *

PRESIDENT OF RUSSIA DMITRY MEDVEDEV: Mr Prime Minister, it is a great pleasure to see you again and welcome you here in Moscow.

First of all I would like to express our condolences in connection with the terrorist attack which took place yesterday in Jerusalem. Unfortunately, innocent people have been affected in this case, as in other similar situations, and this should strengthen our resolve to combat terrorism through joint efforts.

We have firsthand knowledge of the dangers posed by terrorism. Unfortunately, Russia, too, has been hit by terrorist attacks this year. That makes our meeting today especially valuable because the main thing is that we must not let the terrorists believe that they are close to achieving their atrocious goals.

We have a great deal to discuss. It has been a long time since our last meeting and great many events have taken place since then, especially in the Middle East and North Africa. The changes taking place there are truly tectonic and cannot but affect the overall situation, which we should discuss as partners.

Naturally, we will also review the Middle East peace process, just as we always do. I have a few things to say on this topic. I am sure that you will share your thoughts as well, because we have not seen any positive developments recently. Let’s see how all these events affect the opportunities for compromise.

We could also discuss issues pertaining to our bilateral relations, which have been developing well on the whole, but perhaps we could give an additional impetus to Russian-Israeli relations.


Russia’s President Dmitry Medvedev (L) and Israel’s Prime Minister Benjamin Netanyahu meet at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin


PRIME MINISTER OF ISRAEL BENJAMIN NETANYAHU (re-translated): Thank you, Mr President.

Indeed, we have not met for quite a long time but we have spoken on the telephone. I agree, it was not only New Zealand and Japan that were hit by earthquake, as well as a storm and a tsunami, but the Middle East and North Africa as well.

After the fire which occurred in the north of our country, you sent brave and skilled pilots to assist us. We were all truly impressed by their work. I thanked you then, but I would like to use this opportunity to express my gratitude once again for your sympathy and help. Now we have to put out several other “fires”.

No one knows how the events currently unfolding in the Middle East and the rest of the Muslim world will end. I am confident that our common aspiration is to have stable, progressive governments committed to promoting peace. But there is a danger – a danger for Israel, Russia and all of humankind – that radical Islamic regimes will spring up, posing a threat to our countries and the entire world.

We can already see one such regime – in Iran, a regime that is a threat, that is seeking to develop nuclear weapons and is constantly trying to derail efforts to conclude peaceful agreements. Our goal is to stop evil and to promote good. I would be glad to discuss with you ways to move towards peace and achieve security in our region.

I am sure that we need to further develop our cooperation in every sector. There are still many areas for joint efforts.   (*)
 
Comments Off on Medvedev and Netanyahu discussed bilateral relations between the two states and the situation in the Middle East

Posted by on March 25, 2011 in World News

 

Tags: , , , , ,

Photostream : Russian President Dmitry Medvedev meets Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu

Russia's President Dmitry Medvedev (R) and Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu walk during their meeting at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin

Russia's President Dmitry Medvedev (R) and Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu walk during their meeting at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin

Russia's President Dmitry Medvedev (L) shakes hands with Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu during their meeting at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin

Russia's President Dmitry Medvedev (L) and Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu meet at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin

Russia's President Dmitry Medvedev (L) and Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu meet at the Gorki presidential residence outside Moscow March 24, 2011. REUTERS/Dmitry Astakhov/RIA Novosti/Kremlin

 
Comments Off on Photostream : Russian President Dmitry Medvedev meets Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu

Posted by on March 24, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Photo : Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu meets Russian Foreign Minister Sergei Lavrov

Russian Foreign Minister Sergey Lavrov, right, meets with Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu in Moscow on Thursday, March 24, 2011. Netanyahu is scheduled later to meet with Russian President Dmitry medvedev and Prime Minister Vladimir Putin. (AP photo, Pool)

 
Comments Off on Photo : Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu meets Russian Foreign Minister Sergei Lavrov

Posted by on March 24, 2011 in World News

 

Tags: , , ,

Israeli Prime Minister Netanyahu urges no let-up in Iran nuclear pressure

Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu

MOSCOW, RUSSIA, March 24, 2011 (KATAKAMI.COM) — Despite the current unrest in the Middle East, the international community should continue to insist on the closure of Iran’s nuclear program, Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu said on Thursday, RIA NOVOSTI reported.

“The growing tensions in the Middle East increase various risks, and radical Islamic movements could take advantage of these risks,” Netanyahu told journalists in Moscow.

Netanyahu will meet Russian President Dmitry Medvedev later on Thursday to discuss the Palestinian-Israeli conflict and the situation in Libya.

“It’s hard for the world to realize this, as it was hard in the 1930s to realize the threats posed by radical movements,” the Israeli PM added. “The most important thing now is not to allow Iran to develop its own nuclear arms.”

“If they manage to develop nuclear arms this regime will never fall. And they will threaten other countries and you too,” the Israeli PM said.

“Iran is not controlled by [President Mahmoud] Ahmadinejad. Iran is controlled by [Supreme Leader Ayatollah Ali] Khamenei. I see his bigotry and hatred for the modern world.”

“Hitler firstly began conquering the world and then started developing nuclear arms, Khamenei is going the opposite way,” Netanyahu said, adding that only the threat of military operations could force Iran to halt its nuclear program.   (*)
 
Comments Off on Israeli Prime Minister Netanyahu urges no let-up in Iran nuclear pressure

Posted by on March 24, 2011 in World News

 

Tags: , , ,